Influencer Kiri Australia: “Saya Dicuci Otaknya Selama 30 Tahun, Kerusuhan di Prancis Membuat Saya Tersadar”

EtIndonesia.com Seorang influencer Australia yang selama ini konsisten mendukung kebijakan perbatasan terbuka baru-baru ini mengunggah video dan mengatakan bahwa selama “30 tahun pertama hidupnya, ia terus-menerus dicuci otaknya”. Namun, setelah menyaksikan kerusuhan di Prancis dan Italia, ia akhirnya tersadar.

Ia memperingatkan bahwa “empati masyarakat sedang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan politik” dan menyerukan agar krisis imigrasi dikaji ulang. Video tersebut mendapat banyak tanggapan dan dukungan dari warganet.

Dalam video yang diunggah pada 21 Oktober, influencer Australia Estelle Landy mengatakan bahwa, sayangnya, sepanjang hidupnya ia adalah seorang penganut paham kiri sejati.

“Dulu, yang bisa saya lakukan hanyalah berteriak: buka perbatasan, bebaskan para pengungsi.”

“Namun, ketika Anda mendatangkan orang-orang dari negara-negara Dunia Ketiga, yang Anda dapatkan juga hanyalah Dunia Ketiga. Lihatlah apa yang terjadi di Prancis, Milan, dan Iran, maka Anda akan mengerti,” ujarnya.

Landy berpendapat bahwa kekacauan yang terjadi di dunia saat ini bukanlah sesuatu yang kebetulan. Menurutnya, situasi tersebut telah diperkirakan sebelumnya, bahkan mungkin sengaja dirancang.

“Mereka memanfaatkan kebaikan hati dan empati orang-orang, lalu memberikan mereka sebuah ‘tujuan perjuangan’. Akibatnya, segala pertimbangan rasional lainnya dikesampingkan.”

“Untungnya, saya sudah tersadar. Anda benar-benar perlu mulai merenungkan diri sendiri dan memeriksa empati Anda—lihat siapa sebenarnya yang memanfaatkan empati Anda, dan siapa yang mengambilnya untuk kepentingan mereka sendiri demi melayani rezim mereka.”

Landy juga mengatakan bahwa jika seseorang tidak dapat melihat hubungan antara berbagai peristiwa di Prancis dan Milan, serta tidak mampu memahami situasi yang sedang terjadi, mungkin orang tersebut telah dicuci otaknya.

Dengan sedikit nada mencela diri sendiri, ia berkata, “Jangan khawatir, saya juga pernah dicuci otak—selama sekitar 30 tahun. Baru sekarang saya menyadari bahwa semua ini merupakan bagian dari sebuah rencana.”

Pada akhir pekan sebelumnya, Prancis dilanda aksi kekerasan. Sebanyak 3.000 toko di seluruh negeri dijarah dan dirusak oleh para perusuh, sementara bangunan-bangunan bersejarah dibakar. Peristiwa tersebut mengejutkan masyarakat internasional.

Video Landy mendapat banyak tanggapan positif. Dalam waktu satu hari, kolom komentar di TikTok menerima hampir seribu balasan.

Berikut beberapa komentar warganet:

“Melihat kota seperti Paris dan penduduknya harus mengalami semua ini sungguh memilukan. Pemerintah yang mengaku ‘terbangun’ itu sebaiknya segera menyadari kenyataan.”

“Saya benar-benar takut negara kita yang indah pada akhirnya akan menjadi seperti ini. Tolong, sadarlah semuanya. Berhentilah bertindak konyol!”

“Rasa belas kasih, kemanusiaan, dan empati kita pada akhirnya justru akan membawa kehancuran bagi kita sendiri. Proses menyadari kenyataan memang terasa pahit… terutama ketika Anda melihat apa yang akan segera terjadi.”

“Saya dulu juga seperti itu. Empati harus berlandaskan kenyataan dan terlebih dahulu memperhatikan kebutuhan nyata masyarakat biasa. Jika kita mampu membantu orang lain, kita memang seharusnya melakukannya, tetapi jangan sampai bantuan itu harus dibayar dengan menghancurkan negara yang telah membesarkan kita.”

Ada juga yang memberikan dukungan kepada sang influencer.

“Tidak apa-apa. Ini hanya menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang sangat berempati. Mereka memanfaatkan sifat itu. Jangan sampai kehilangan kendali. Kuncinya adalah menemukan keseimbangan antara rasionalitas dan empati.”

Komentar lainnya berbunyi, “Selamat datang di barisan orang-orang yang masih menggunakan akal sehat.”

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Menguak Mekanisme Otak dalam Melindungi Ingatan Tertentu

Shoba RajamaniJika seseorang ditanya apa yang mereka makan siang dua hari lalu, kemungkinan besar mereka hanya akan menatap dengan pandangan kosong. Namun, jika orang...

Jangan Menunda untuk Memaafkan

Setiap hari kita menunda memberikan maaf akan memperdalam lingkaran kebencian dan luka batin yang semakin sulit untuk dilepaskanMike DonghiaAda kalanya penulis berharap suatu hubungan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine