Ilmuwan Temukan Makhluk Purba “Babi-Kura-Kura” Berusia 240 Juta Tahun di Afrika, Mengubah Pemahaman tentang Kemunculan Dinosaurus

Tidak semua kisah penemuan berlangsung seperti petualangan penuh aksi Indiana Jones. Terkadang, sebuah fosil bisa teronggok dan berdebu selama 63 tahun sebelum tiba-tiba ditemukan kembali, lalu mengguncang berbagai anggapan ilmiah yang selama puluhan tahun dianggap sebagai kebenaran.

Kisahnya menjadi jauh lebih menarik ketika fosil tersebut berpotensi menulis ulang sejarah dinosaurus.

Namun, fosil yang satu ini bukanlah dinosaurus. Fosil itu berasal dari kelompok sinapsida, kerabat mamalia yang hidup 240 juta tahun lalu, memakan tumbuhan, dan memiliki gading berukuran sangat besar. Tengkorak salah satu makhluk raksasa tersebut ditemukan di sebuah lembah terjal di Afrika Timur lebih dari enam dekade lalu. Kini, fosil itu baru mulai mengungkap misterinya.

Pada 16 September, para peneliti dari Universitas Bristol di Inggris mengumumkan penemuan spesies baru yang diberi nama Dinodontosaurus isiyavamanda. Hewan prasejarah ini berasal dari Tanzania dan hidup pada periode Trias, masa ketika dinosaurus diyakini pertama kali muncul.

Kisah ini bermula pada 1963, ketika ahli paleontologi asal Inggris, Barry Cox, bersama tim penelitinya melakukan perjalanan ke Tanzania. Di sana, mereka menemukan kepingan teka-teki tulang yang sangat tua, yakni fosil nenek moyang mamalia prasejarah di wilayah yang saat itu dianggap sebagai habitat tertua tempat dinosaurus awal hidup.

Para peneliti kemudian mengemas tulang-tulang tersebut dan mengirimkannya ke Museum Sejarah Alam di London. Fosil itu tersimpan selama puluhan tahun tanpa berhasil diidentifikasi dan akhirnya dikesampingkan setelah hanya diteliti sebagian. Sementara itu, anggapan ilmiah yang berlaku mengenai usia habitat purba di Afrika tersebut tidak pernah dipertanyakan.

Semuanya berubah pada 1994.

Nigel Larkin, seorang mahasiswa di University College London, membersihkan debu dari spesimen tersebut ketika sedang menyusun tesis magisternya. Makhluk apakah itu? Bentuknya sungguh luar biasa, dengan paruh seperti kura-kura dan gading menyerupai babi hutan. Larkin kemudian memberikan nama yang tidak biasa kepada kerabat mamalia seukuran babi besar itu, yakni Ruhuhuungualasaurus.

Namun, makalah penelitiannya tidak pernah diterbitkan secara resmi. Naskah tersebut justru teronggok di rak perpustakaan dan kembali tertutup debu. Kasus itu pun seolah menghilang. Tiga dekade berlalu.

Kemudian datanglah era teknologi canggih. Hady George, mahasiswa doktoral dari Universitas Bristol, membuka kembali kasus tersebut dan menggunakan perangkat yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh tim peneliti pada 1963. Pemindai mikro-CT membantu George melanjutkan pekerjaan yang telah dimulai Larkin. Dengan memanfaatkan sinar-X yang menembus batuan, ia menghasilkan model tiga dimensi yang sangat akurat dari bagian dalam tengkorak tersebut.

Pemindaian itu memungkinkan para peneliti menyingkap lapisan batuan dan mengungkap rancangan biologis yang sangat spesifik: sebuah tonjolan unik berbentuk menggembung yang membentang di bagian tengah langit-langit mulut atas makhluk tersebut.

Struktur tersembunyi ini berfungsi seperti perangkat pengolah tumbuhan berkekuatan tinggi, sehingga hewan itu mampu memotong dan mengunyah vegetasi keras pada periode Trias dengan cara yang berbeda dari herbivora lain dalam ekosistemnya.

Ciri yang tampaknya sederhana ini menunjukkan bahwa makhluk tersebut tidak harus bersaing dengan hewan lain untuk mendapatkan makanan yang sama. Sebaliknya, ia memiliki adaptasi unik yang memungkinkannya memanfaatkan sumber makanan dengan cara tersendiri.

“Teknik penelitian juga telah berkembang pesat selama 30 tahun terakhir. Kita sekarang dapat melakukan jauh lebih banyak hal dengan pemindaian mikro-CT dan metode lainnya untuk memeriksa spesimen seperti ini dibandingkan dengan apa yang pernah kita bayangkan pada 1990-an. Kolaborasi internasional juga menjadi jauh lebih mudah,” kata Larkin dalam siaran pers.

“Lagi pula, apa artinya 30 tahun? Itu hanya sekejap mata jika dibandingkan dengan usia spesimen prasejarah ini.”

Tengkorak aneh tersebut juga membawa pesan ilmiah yang mendobrak pemahaman sebelumnya. Struktur bagian dalamnya sangat mirip dengan Dinodontosaurus, makhluk yang hidup jauh dari sana, di seberang Samudra Atlantik, tepatnya di Brasil dan Argentina. Kemiripan ini mengantarkan para peneliti pada penemuan yang mengejutkan.

Karena pemakan tumbuhan bertubuh kekar ini hidup di Tanzania maupun Amerika Selatan, temuan tersebut mengindikasikan bahwa kedua wilayah daratan itu memiliki usia geologis yang sama—ibarat dua wilayah kembar dari sudut pandang geologi.

Pada masa lampau, kedua lempeng benua tersebut merupakan bagian dari superbenua purba Gondwana yang saling terhubung. Kondisi ini memungkinkan hewan-hewan tersebut berpindah melintasi daratan yang menyatu.

“Temuan ini menghubungkan batuan di Tanzania dan Amerika Selatan yang mengandung fosil, sekaligus menunjukkan bahwa keduanya memiliki usia yang setara,” kata George.

“Hal ini membantu memperkuat dugaan bahwa kandidat dinosaurus tertua dari Tanzania kemungkinan tidak lebih tua daripada dinosaurus dari Amerika Selatan, sehingga garis waktu asal-usul dinosaurus dapat ditentukan dengan lebih tepat.”

Kesimpulan George juga mengguncang pemahaman yang selama ini tercantum dalam buku-buku sejarah. Para ilmuwan sebelumnya telah mengetahui usia pasti batuan di Amerika Selatan. Namun, ketika usia tersebut dicocokkan dengan batuan di Tanzania, hasilnya menunjukkan bahwa batuan Tanzania bisa jadi hingga 10 juta tahun lebih muda daripada perkiraan sebelumnya.

Dalam perkembangan yang mengejutkan, temuan ini juga berpotensi mengubah pemahaman kita mengenai dinosaurus.

Sejumlah fosil dinosaurus tertua di dunia ditemukan di lapisan batuan Tanzania. Namun, keberadaan mamalia purba yang dijuluki makhluk “babi-kura-kura” itu di wilayah yang sama menunjukkan bahwa batuan tersebut sebenarnya jauh lebih muda daripada perkiraan sebelumnya.

Artinya, banyak dinosaurus awal yang terkenal kemungkinan juga hidup jutaan tahun lebih belakangan daripada yang selama ini diperkirakan.

Dengan demikian, rentang waktu kemunculan dinosaurus awal yang selama ini dipahami para ilmuwan mendadak menyempit.

Hewan yang sebelumnya diteliti Larkin kemudian diberi nama baru, Dinodontosaurus isiyavamanda, sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat adat Tanzania.

“Penemuan ini menunjukkan bahwa meninjau kembali koleksi museum dapat mengubah pemahaman kita tentang masa lalu, sama besarnya dengan menemukan fosil baru di lapangan. Hal ini juga memperlihatkan betapa pentingnya menjaga catatan kehidupan di Bumi yang sangat berharga ini,” kata Mike Day, seorang kurator di Museum Sejarah Alam.

Jika menilik kembali perjalanan penelitian selama puluhan tahun tersebut, terlihat jelas bahwa terobosan ini merupakan hasil estafet ilmiah lintas generasi. Penelitian lapangan yang dimulai 63 tahun lalu dengan peralatan sederhana harus menunggu dengan sabar di rak museum sampai teknologi berkembang untuk mengungkap rahasianya.

Dalam ekspedisi lapangan pada 1963, Cox dan timnya tinggal di tenda selama berbulan-bulan di Cekungan Ruhuhu, Tanzania, sebuah kawasan dengan kondisi alam yang keras. Mereka membungkus kerangka tersebut menggunakan koran basah dan gips sebelum mengirimkannya. Saat itu, mereka tidak menyadari apa sebenarnya yang telah mereka temukan.

Ketika Larkin membuka peti berisi fosil tersebut tiga dekade kemudian, ketajaman pengamatannya membantu mengidentifikasi ciri-ciri unik pada tengkorak yang belum pernah dicatat dalam penelitian ilmiah. Namun, karena hasil penelitiannya tidak diterbitkan, fosil itu seolah menjadi sosok misterius yang terlupakan dalam dunia sains.

Kini, kisah panjang tersebut mencapai akhirnya. Bukan dengan menggantikan pemahaman tentang masa lalu, melainkan dengan melengkapi dan menyempurnakannya.

George meneliti kembali temuan Cox dan menguji hipotesis yang sebelumnya diajukan Larkin, lalu berhasil membuktikannya.

Hasil akhirnya pun menggembirakan. Larkin akhirnya tercantum sebagai salah satu penulis pendamping bersama George ketika penelitian mereka diterbitkan bulan ini dalam jurnal Journal of Vertebrate Paleontology.

Tiga puluh tahun merupakan waktu yang sangat lama untuk menunggu. Namun, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Sumber : Theepochtimes.com

INSPIRASI ERABARU

Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Membahayakan Ginjal

Makanan berjamur dan makanan yang tercemar logam berat dapat merusak fungsi ginjal.Hu NaiwenKebanyakan orang mengetahui bahwa sering begadang, minum alkohol secara berlebihan, dan menggunakan...

Ketika Kehidupan Modern Bergerak Lebih Cepat daripada Kemampuan Tubuh Anda

Kebutuhan untuk terus terburu-buru memiliki istilah tersendiri: “hurry sickness” atau sindrom terburu-buru.Sheridan GenrichAnda mungkin merasa tidak membutuhkan waktu istirahat tambahan atau menganggap tubuh yang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine