Israel sedang mempersiapkan serangan darat ke Jalur Gaza. Pada saat yang sama, tentara Israel merilis video penggerebekan di sebuah pos pemeriksaan di perbatasan selatan Gaza pada 7 Oktober. Israel mengumumkan bahwa mereka telah membunuh lebih dari 60 elemen Hamas dan berhasil menyelamatkan sekitar 250 sandera
NTD
Pada 12 Oktober, akun resmi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) merilis video di pos pemeriksaan Sufa dan menyelamatkan sekitar 250 sandera. Lebih dari 60 anggota Hamas tewas dan 26 ditangkap, termasuk Muhammad Abu A’ali, wakil komandan Divisi Angkatan Laut Selatan Hamas.
Video tersebut menunjukkan banyak baku tembak sengit terjadi antara kedua belah pihak, dan tentara Israel juga melemparkan granat ke dalam sebuah rumah. Video itu juga memperlihatkan seorang pria telanjang dan berlumuran darah sedang diborgol. Selanjutnya, pasukan komando memasuki bunker di bawah pos pemeriksaan untuk mencari, dan ada banyak mayat.
Kekuatan tempur unit komando elit Israel “Flotilla 13” setara dengan Navy SEAL AS.
The Flotilla 13 elite unit was deployed to the area surrounding the Gaza security fence in a joint effort to regain control of the Sufa military post on October 7th.
— Israel Defense Forces (@IDF) October 12, 2023
The soldiers rescued around 250 hostages alive.
60+ Hamas terrorists were neutralized and 26 were… pic.twitter.com/DWdHKZgdLw
Setelah Hamas menyerbu Israel pada 7 Oktober, para pejabat Israel mengumumkan bahwa lebih dari 1.200 orang telah terbunuh dan setidaknya 150 lainnya telah diculik ke Jalur Gaza.
Pada 13 Oktober, militer Israel mengeluarkan pernyataan dan menggunakan drone untuk menyebarkan selebaran ke Jalur Gaza, menuntut agar 1,1 juta warga sipil di Gaza utara mengungsi ke Gaza selatan dalam waktu 24 jam. Langkah ini menandakan bahwa Israel mungkin bersiap melancarkan serangan darat terhadap Gaza.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel benjamin Netanyahu secara terbuka mengumumkan bahwa Hamas akan dihancurkan sepenuhnya dan seluruh elemen Hamas akan dilenyapkan.
Pada 7 Oktober, Hamas menculik sejumlah besar sandera dalam sebuah penggerebekan, termasuk warga negara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, serta pekerja Tiongkok. Hamas mencoba menggunakan para sandera ini untuk mencegah Israel dan negara-negara Eropa dan Amerika melancarkan serangan militer ke Gaza. Hamas sebelumnya secara terbuka menyatakan bahwa setiap kali Israel menyerang Gaza dengan serangan udara “tanpa peringatan”, mereka akan membunuh seorang sandera. Namun ancaman tersebut tidak berhasil.
Menurut laporan media AS, FBI sedang mengumpulkan informasi tentang warga Amerika yang diculik oleh Hamas sebagai persiapan pengiriman pasukan untuk menyelamatkan para sandera. (hui)


