NTD
Beberapa tahun terakhir, jumlah kepemilikan obligasi pemerintah AS yang ada di tangan pemerintah Tiongkok terus berkurang. Baru-baru ini bahkan mencapai titik terendah dalam 14 tahun terakhir. Pakar keuangan asing mengatakan bahwa Tiongkok menjual obligasi pemerintah AS dengan tujuan untuk melemahkan status internasional dari dolar AS itu kecil kemungkinannya. Tetapi terdapat banyak faktor di baliknya, yang terbesar adalah dana dari perusahaan swasta Tiongkok terus mengalir dengan deras ke Amerika Serikat.
Pada Rabu (25 Oktober), situs berita AS “Business Insider” melaporkan, bahwa selama bertahun-tahun, otoritas Tiongkok terus mengurangi jumlah obligasi pemerintah AS yang disimpan dalam portofolio investasinya dan meluncurkan gerakan yang mereka sebut “De-dolarisasi” untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam arus perdagangan dan investasi lintas batas. Namun para ahli percaya bahwa hal ini tidak berarti bahwa Beijing benar-benar ingin melepas aset dolar AS. Jadi kecil kemungkinannya bahwa rezim Beijing akan melemahkan dolar AS melalui menjual obligasi pemerintah AS.
Dengan mengutip analisis dari Sam Hill, seorang pakar strategi di Lloyds Banking Group dan timnya, “Business Insider” memberitakan bahwa meskipun jumlah kepemilikan obligasi pemerintah Tiongkok berkurang sekitar USD. 220 miliar sejak akhir tahun 2021, tetapi dalam kenyataannya “nyaris tidak kentara”.
Dalam laporan Sam Hill dan timnya yang dirilis baru-baru ini disebutkan bahwa pengurangan jumlah kepemilikan obligasi pemerintah AS itu selain adanya pengalihan aset AS yang disengaja, terdapat juga alasan lainnya sebagai berikut :
Pertama, otoritas Beijing telah mendiversifikasi sebagian investasi mereka ke dalam obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan yang disponsori pemerintah AS atau badan-badan federal. Kedua, pengurangan resmi jumlah kepemilikan obligasi pemerintah AS mencerminkan penurunan valuasi obligasi karena Federal Reserve menaikkan suku bunga dengan cepat. Ketiga, menjual obligasi dengan tujuan memperoleh uang tunai guna dijual di pasar lokal untuk membantu menstabilkan nilai tukar renminbi yang belakangan ini sangat bergejolak.
Agustus lalu, nilai tukar renminbi terhadap dolar AS anjlok ke level terendah dalam hampir 16 tahun terakhir. Pihak luar memperkirakan bahwa RMB mungkin masih bisa mengalami penurunan terbesar selama 2 tahun berturut-turut dalam lebih dari 30 tahun terakhir.
Laporan penelitian dari tim Sam Hill lebih jauh menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, memburuknya hubungan antara negara-negara Barat dengan pemerintah Beijing sebenarnya dapat meningkatkan permintaan untuk memegang obligasi pemerintah AS sebagai safe haven.
“Cukup bermanfaat jika kita bisa memiliki aset (secara langsung atau tidak langsung) di negara-negara demokrasi yang terikat oleh supremasi hukum”, tulis laporan tersebut.
“Semakin otoriter suatu rezim non-demokratis, maka aset-aset safe-haven semakin menarik, hal ini terlihat jelas dari terus mengalirnya dana sektor Swasta dari Tiongkok ke Amerika Serikat”. (sin)


