Penjelasan dari Seorang China Hand AS Tentang Mengapa Pemimpin PKT Menolak Menyelamatkan Perekonomian

oleh Lin Yan

Dengan melakukan penelitian lapangan di Tiongkok pada musim semi tahun 2024, seorang pakar Tiongkok menemukan, bahwa warga sipil Tiongkok pada umumnya mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan negara.

Scott Kennedy, Direktur Proyek Bisnis dan Ekonomi Politik Tiongkok di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), sebuah lembaga pemikir Amerika Serikat menulis laporannya di jurnal “Foreign Policy” : “Orang-orang itu berulang kali mempertanyakan masalah yang sama, yaitu mengapa kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok tidak mengambil lebih banyak langkah untuk memperbaiki perekonomian dan memulihkan kepercayaan masyarakat ? Sesungguhnya kepemimpinan yang dimaksud semua orang itu adalah Sekretaris Jenderal PKT Xi Jinping”.

Perekonomian Tiongkok sampai tahun 2024 ini belum tampak membaik dan sangat bergantung pada ekspor. Perekonomian Tiongkok berkinerja buruk selama dan setelah epidemi COVID-19, bahkan pemulihannya lebih kecil dan lebih singkat daripada perkiraan resmi. Tidak menutup kemungkinan bahwa situasi sebenarnya lebih buruk dari perkiraan. Beberapa analis memperkirakan, tingkat pertumbuhan aktual ekonomi Tiongkok tidak melebihi 1% ~ 2%.

Mengenai uneg-uneg mengapa PKT tidak mengambil langkah-langkah yang lebih kuat untuk menyelamatkan perekonomian ? Scott Kennedy merangkumkan 4 pandangan umum yang dianut masyarakat Tiongkok, yang dapat diringkas sebagai “4 Tidak” dalam gaya politik PKT saat ini. 

Yakni : Sekjen tidak mengetahui situasi perekonomian yang sebenarnya. Sekjen tidak mengetahui cara mengatur perekonomian. Sekjen tidak peduli terhadap kelangsungan perekonomian karena ideologinya. Sekjen yang berkepribadian paranoid tidak setuju untuk menyelamatkan perekonomian.

Pandangan pertama : Sekjen tidak mengetahui situasi perekonomian yang sebenarnya

Kennedy mengatakan, pandangan pertama adalah pemimpin partai tidak mengetahui situasi ekonomi yang sebenarnya. Karena bawahan hanya memberinya laporan positif yang telah disanitasi sebelumnya.

Beberapa orang bahkan beranggapan bahwa Xi Jinping tidak tahu apa-apa tentang situasi ekonomi yang buruk, kader bawahannya tidak mau menyampaikan kabar buruk kepada Xi karena takut Xi menyalahkan pihak yang memberikan berita tersebut.

Saat ini masyarakat awam Tiongkok khawatir terhadap masalah perekonomian yang berkembang semakin buruk, karena jatuhnya industri real estat, kebijakan ketat dalam mencegah penyebaran COVID-19 yang berakhir kacau, tindakan keras terhadap perusahaan teknologi swasta, meningkatnya fokus yang berlebihan dari rezim terhadap ideologi, dan upaya yang tidak realistis dalam mencapai kemandirian teknologi, serta konflik dengan negara Barat yang semakin tinggi.

Kekhawatiran ini pada akhirnya berdampak pada lemahnya permintaan konsumen, terbatasnya investasi bisnis, dan keinginan masyarakat Tiongkok untuk memindahkan kekayaan dan keluarganya ke luar negeri.

Scott Kennedy mengatakan, seorang sumber yang dapat dipercaya mengatakan bahwa mereka (para pejabat tingkat rendah) yang di Zhongnanhai hanya menyampaikan ke atasan laporan-laporan yang isinya positif. Sumber lainnya mengatakan, para pejabat senior yang mengontrol pengiriman dokumen ke Xi Jinping sengaja menjalin kedekatan hubungan dengan pejabat badan keamanan dan propaganda, dengan demikian Xi membaca laporan yang mencerminkan pandangan mereka yang sudah dibiaskan.

Namun, sebagian besar orang tidak sependapat dengan pandangan ini, dan mereka percaya bahwa Xi Jinping dan para pemimpin lainnya tidak kekurangan akses terhadap informasi mengenai hal ini.

Pandangan kedua : Sekjen tidak mengetahui cara mengatur perekonomian

Pandangan kedua adalah Sekjen tidak tahu bagaimana mengatur perekonomian. Meskipun pemimpin partai telah menerima informasi, tetapi karena dia menghadapi terlalu banyak masalah pelik dan tidak mampu menemukan solusi yang baik terhadap krisis real estate, membengkaknya utang pemerintah daerah, anjloknya tingkat kesuburan, meningkatnya kesenjangan, ketidakpuasan masyarakat Hongkong, dan meningkatnya ketegangan dengan negara-negara Barat dan sebagian besar negara tetangga Tiongkok.

Kennedy mengutip ucapan dari teman-temannya yang mendengar dari sumber yang dapat dipercaya, menyebutkan bahwa dalam beberapa permasalahan, para pemimpin menghabiskan banyak waktu untuk perdebatan panjang, hingga menunda-nunda waktu pengambilan keputusan dan meluncurkan kebijakan baru yang dapat menyelesaikan masalah. Misalnya, pada musim panas tahun 2023, para pemimpin telah mengidentifikasi pasar saham yang lemah sebagai permasalahan serius, namun tidak ada tindakan perbaikan hingga awal tahun 2024, saat kepala regulator sekuritas Tiongkok diganti.

Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menemukan cara untuk memecahkan satu masalah tanpa memperburuk masalah lainnya, atau mengembangkan rencana menyeluruh untuk menemukan keseimbangan.

Karena kurangnya konsensus, Sidang Pleno Ketiga Komite Sentral PKT ditunda dari Januari 2024 hingga musim panas.

Selain itu, kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok sekarang terdiri dari “Tim B”, yang kebanyakan tidak memiliki pengalaman dalam bertugas di pemerintahan pusat Partai Komunis Tiongkok, dan otoritas pembuatan kebijakan telah menjadi begitu terpusat sehingga koordinasi antar birokrasi dan antara Beijing dengan pemerintah daerah menjadi semakin sulit.

Beberapa sumber mengatakan bahwa pejabat senior Tiongkok tidak kompeten dan membandingkan Perdana Menteri saat ini Li Qiang dengan pendahulunya Li Keqiang.

Pandangan ketiga : Sekjen tidak peduli terhadap kelangsungan perekonomian karena ideologinya

Pandangan ketiga didasarkan pada ideologi “dia (Xi) tidak peduli”. Prioritas pertama sekjen partai adalah memperkuat monopoli partai atas kekuasaan dan dominasi politik pribadinya. Agenda sehari-harinya didominasi oleh penanganan masalah keamanan dan politik (termasuk pengambilan keputusan personalia) dibandingkan dengan memimpin perekonomian.

Para pendukung pandangan ini mengatakan bahwa Xi tampaknya mengorbankan perekonomian demi nasionalisme dan dominasi Partai Komunis Tiongkok.

Pada pertengahan Mei, Partai Komunis Tiongkok mengumumkan tambahan RMB.300 miliar dalam bentuk pinjaman kembali perumahan yang terjangkau untuk mendukung perusahaan milik negara mengakuisisi persediaan perumahan yang belum terjual atau yang terbengkalai. Meskipun otoritas mengklaim keputusan tersebut sebagai kebijakan stimulus terbesar. Namun opini masyarakat umumnya menganggap bahwa kebijakan bailout ini sudah terlambat dan terlalu lemah untuk membangkitkan minat.

Seorang analis ekonomi lulusan Barat mengomentari kebijakan stimulus terbaru lewat media sosial : “Alangkah baiknya jika uang untuk membeli perumahan yang belum laku terjual atau yang belum selesai dibangun itu diberikan langsung kepada masyarakat biasa. Jadi pemerintah tidak perlu campur tangan. Tindakan tersebut pada dasarnya tidak efektif dan kontraproduktif …. Detail kebijakannya sangat panjang lebar membuat pemerintah terlihat sangat sibuk, perlu bekerja lembur demi semua orang, padahal di mata masyarakat, stimulus itu akan berakhir sia-sia”.

Banyak ekonom mengatakan perekonomian Tiongkok pada dasarnya perlu memberikan dana talangan (bailout) kepada pasar, mengambil lebih banyak langkah untuk membantu pengembang properti merestrukturisasi utang dan menyelesaikan proyek yang belum selesai, sambil meningkatkan kepercayaan pembeli rumah melalui subsidi langsung.

Namun, para pemimpin Partai Komunis Tiongkok enggan melakukan tindakan tersebut. The Wall Street Journal mengutip orang-orang yang mengetahui masalah ini pada tahun 2023 yang mengatakan bahwa hal ini sebagian disebabkan oleh preferensi pemimpin partai terhadap ideologi penghematan.

Pandangan keempat : Sekjen yang berkepribadian paranoid tidak setuju untuk menyelamatkan perekonomian

Pandangan keempat karena paranoia “dia tidak setuju”. Mereka yang menganut pandangan ini percaya bahwa Partai Komunis Tiongkok memprioritaskan pengembangan teknologi dalam negeri dan mendominasi sebanyak mungkin rantai pasokan global.

Pada saat yang sama, pemimpin Partai Komunis Tiongkok mengusulkan untuk mengembangkan tiga bidang baru, termasuk bidang energi baru seperti kendaraan listrik dan panel surya.

Namun, masalah kelebihan kapasitas di sektor industri Tiongkok ini menjadi sangat menonjol. Dengan lesunya permintaan dalam negeri dan harga yang masih rendah, satu-satunya saluran yang tersisa untuk memperluas kapasitas produksi adalah pasar luar negeri.

Masalah kelebihan kapasitas ini hampir terjadi bersamaan dengan runtuhnya industri real estate Tiongkok. Pasalnya, runtuhnya industri perumahan telah menekan permintaan terhadap besi, baja dan bahan bangunan lainnya. Namun ketiga industri baru tersebut tidak dapat mendukung 25% PDB Tiongkok (tingkat kontribusi real estat terhadap perekonomian Tiongkok di masa lalu).

Pemimpin Partai Komunis Tiongkok tidak mau mengakui bahwa produk teknologi tinggi murah Tiongkok membanjiri pasar global dan berpendapat bahwa tidak ada masalah kelebihan kapasitas di Tiongkok.

Kennedy mengatakan bahwa sebagian besar orang yang diwawancarai cenderung pada pandangan keempat, dan beberapa di antaranya percaya bahwa Sekjen PKT telah membuat kesalahan strategis dengan bertaruh untuk mengendalikan teknologi masa depan dan memanfaatkan kebijakan industri skala besar.

Karena ditinggalkannya liberalisasi dan kurangnya fokus pada rumah tangga dan kemampuan konsumsi, berarti : menurunnya produktivitas, membengkaknya utang, melambatnya pertumbuhan, dan meningkatnya ketegangan dengan negara-negara maju lainnya.

Ada netizen yang melampiaskan ketidakpuasan melalui tulisannya di media sosial : “Semua jenis kebijakan dan dana talangan ditujukan untuk menyelamatkan pengembang, pembiayaan tanah, perusahaan investasi perkotaan, dan pemerintah daerah”.

“Tetapi tidak satu pun dari kebijakan itu yang mencoba menyelamatkan warga sipil. Sebaliknya, semua itu berfokus terhadap bagaimana membuat warga sipil merogoh kantong, mengeluarkan uang lalu kembali mengambil pinjaman untuk dipikul selama puluhan tahun”.

Kennedy mengatakan “4 Tidak” ini dalam kasus yang parah, dapat memicu krisis ekonomi besar dan menimbulkan perhitungan politik.

Dia mengatakan bahwa jika pemimpin partai saat ini tidak menyadari kesalahannya dan mengubah haluan, maka faksi elit lainnya dapat membentuk dan menggantikan tim saat ini, dan masyarakat bahkan mungkin akan melakukan protes dan mencoba untuk menggulingkan rezim yang berkuasa.

Kennedy menekankan bahwa survei informal yang ia lakukan telah menunjukkan bahwa perpecahan semakin meningkat antara berbagai bagian masyarakat Tiongkok dengan para pemimpinnya, serta antara pusat Beijing dengan daerah.

“Ini berarti kecil kemungkinannya untuk mengambil tindakan baru yang berani – namun konflik antara kepemimpinan dan persaingan pandangan dalam dan luar negeri menunjukkan bahwa di masa mendatang ketegangan dan konflik akan semakin meningkat”, demikian Ia menyimpulkan. (sin)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine