Forum Elite
Presiden Amerika Serikat, Biden, pergi ke Normandy, Prancis, untuk menghadiri peringatan 80 tahun pendaratan Sekutu di Eropa pada Perang Dunia II. Sebelum berangkat, ia memberikan wawancara kepada majalah Time, dan membahas banyak masalah global, dengan sebagian besar berfokus pada RRT (Republik Rakyat Tiongkok).
Yang paling mencolok adalah Presiden Biden menyatakan bahwa ekonomi RRT berada di ambang kegagalan. Kedua, Biden juga membela kebijakan tarif AS (Amerika Serikat) terhadap produk RRT dan menyatakan bahwa Washington akan bertindak secara setara terhadap Beijing. Selain itu, Presiden Biden juga mengkritik strategi “Belt and Road” PKT (Partai Komunis Tiongkok), dan menganggapnya telah meninggalkan banyak masalah di Afrika. Sudut pandang Presiden Biden jelas bukanlah pendapat pribadinya, seharusnya mewakili pemahaman pemerintah AS terhadap situasi dan kondisi RRT saat ini.
Pernyataan bahwa ekonomi RRT berada di ambang kegagalan, Biden secara terbuka menabrak garis merah Beijing
Produser televisi independen, Li Jun, dalam acara “Forum Elite” New Tang Dynasty TV, menyatakan bahwa pada 28 Mei, Biden menerima wawancara khusus dengan majalah Time di Gedung Putih, yang secara rinci membahas strategi diplomasi-nya, di mana bagian yang berkaitan dengan PKT dianggap sebagai pernyataan paling keras dari seorang Presiden AS dalam 20 tahun terakhir. Isi pembicaraan mencakup setidaknya empat aspek.
Pertama, ia mengatakan bahwa ekonomi Beijing berada di ambang kegagalan, meskipun sejumlah ekonom telah membuat kesimpulan serupa, namun ini pertama kalinya dikemukakan oleh seorang Presiden AS.
Kedua, Biden menyebut inisiatif “One Belt, One Road” telah menjadi sebuah inisiatif yang gagal dan menjengkelkan, ia menyangkal klaim bahwa “One Belt, One Road” telah berhasil membantu PKT memperluas pengaruhnya secara global dan menantang AS. Ia bertanya, “Di mana mereka mencapai kemajuan? Lihatlah apa yang terjadi di Afrika.” Ini mengacu pada banyaknya negara yang terjerat utang segunung akibat proyek “One Belt, One Road” dan sejumlah proyek telah mangkrak.
Ketiga, Biden mengklaim memiliki bukti yang menunjukkan bahwa PKT campur tangan dalam pemilihan presiden AS.
Keempat, Biden untuk kelima kalinya menyatakan bahwa jika RRT menyerang Taiwan, AS akan mengirimkan pasukan untuk melindungi Taiwan.
Keempat poin ini pada dasarnya adalah topik yang sangat penting bagi Xi Jinping, dan semuanya merupakan garis merah, dan dalam sekejap Biden telah menginjak-injak semuanya.
Li Jun mengatakan bahwa Biden tidak melakukan analisis mendalam mengenai alasan mengapa ekonomi RRT berada di ambang kegagalan. Dia menjawab pertanyaannya sendiri dengan mengatakan bahwa ekonomi Tiongkok sedang berkembang pesat, dan jangan ngawur ah! Jelas sekali, Biden sama sekali tidak percaya pada data ekonomi yang diumumkan oleh RRT.
Tahun lalu, Biden mulai mengatakan bahwa ekonomi Beijing menghadapi masalah besar, pada saat itu ia menyebutkan bahwa dia menerima informasi terkait. Kali ini, pernyataan Biden tentang kebangkrutan ekonomi RRT telah memicu reaksi yang besar di Tiongkok, dengan media dalam negeri PKT mulai menyerang. Pandangan mereka adalah, “Lihat siapa yang akan jatuh terlebih dahulu.” Artinya adalah bahwa ekonomi Amerika akan mengalami kegagalan terlebih dahulu.
Kelebihan produksi Tiongkok melanda Eropa dan Amerika Serikat, dan pemerintah AS bereaksi keras
Dalam “Forum Elite,” pakar komentar politik Henghe menyatakan bahwa sebagai sebuah kekuatan utama yang menjaga ketertiban pasca-perang, AS harus mempertimbangkan keseimbangan global. Artinya, jika dampak dari “One Belt, One Road” menyebabkan terlalu banyak negara mengalami kebangkrutan ekonomi atau terjebak dalam hutang yang besar, bahkan sampai harus menyerahkan pangkalan militer mereka kepada RRT, ini merupakan ancaman besar bagi kepentingan internasional dan strategi global Amerika Serikat secara keseluruhan. “One Belt, One Road” tidak hanya membuat negara yang bersangkutan bangkrut, tetapi pada kenyataannya juga merusak keseimbangan global.
“Inisiatif Belt and Road” dimaksudkan untuk memperluas pengaruh ke arah barat, dengan mencurahkan industri berlebih RRT, terutama dalam infrastruktur seperti semen dan baja, ke negara-negara dunia ketiga di jalur tersebut. Meskipun pada permukaan, membantu negara-negara itu membangun infrastruktur bisa dianggap sebagai hal yang baik, namun pada kenyataannya, bukan negara-negara itu yang meminta bantuan RRT untuk membangun proyek infrastruktur tertentu, melainkan Beijing yang menawarkan investasi dengan syarat bahwa negara tersebut harus menggunakan investasi tersebut untuk membeli semen dan baja dari Tiongkok, serta membiarkan perusahaan-perusahaan RRT memenangkan lelang untuk membangun proyek-proyek tersebut.
Sehingga, ini merupakan proses ekspor keseluruhan. Proses ini menyebabkan banyak negara, pada awalnya menerima investasi tersebut karena tidak memiliki banyak opsi lain, namun kemudian mereka dengan cepat menyadari adanya beberapa masalah besar. Pertama, mereka tidak dapat membayar hutangnya. Kedua, infrastruktur yang dibangun tidak selalu sesuai dengan kebutuhan negara tersebut, tetapi lebih sesuai dengan preferensi RRT. Ketiga, korupsi yang muncul karena proses ekspor ini membuat kondisi politik di negara-negara tersebut semakin buruk. Masalah-masalah ini sangat merugikan bagi tatanan internasional saat ini dan juga bagi negara-negara yang terlibat. Banyak negara telah terbukti secara ekonomi hampir bangkrut. Oleh karena itu, masalah-masalah yang diangkat oleh Biden kali ini sangatlah penting, dan merupakan sinyal bahwa pemerintah Amerika Serikat telah menyadari substansi dari masalah ini.
Henghe menyatakan bahwa keputusan Biden untuk memberlakukan tarif tambahan pada mobil listrik RRT adalah langkah pencegahan utama. Ini dikarenakan keuntungan paling besar dari penjualan mobil listrik RRT adalah di Eropa, di mana mobil listrik mereka telah membanjiri pasar. Saat ini, Eropa sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan tarif tambahan untuk melindungi industri mobil listriknya sendiri.
Sebagai sekutu, Amerika Serikat juga perlu menyampaikan dukungannya karena sebagian besar kebijakan tarif telah dimulai oleh AS. Ini menunjukkan bahwa AS berdiri bersama dengan Eropa. Di sisi lain, jika Eropa menerapkan tarif tambahan, RRT kemungkinan akan meningkatkan penjualan mobil listriknya ke AS dengan lebih agresif, melalui berbagai cara seperti mendirikan pabrik di Meksiko atau di AS, atau bahkan menurunkan harga. Oleh karena itu, AS harus siap menghadapinya. Karena pada akhirnya, ancaman terbesar saat ini dari produk RRT adalah mobil listrik. Langkah tarif ini dilakukan untuk melindungi industri AS dan juga kepentingan keseluruhan negara tersebut.
Dalam “Forum Elite,” Editor-in-Chief dari The Epoch Times, Guo Jun, menyatakan bahwa kali ini Biden mengatakan bahwa tidak ada yang ingin bertukar tempat dengan Xi Jinping. Artinya, PKT saat ini menghadapi banyak masalah, terutama krisis ekonomi yang hampir tidak terpecahkan. Sebagai seorang pemimpin, tekanan yang dihadapi olehnya sangat besar. Tentu saja ini juga merupakan masalah sistem, di mana sistem pembagian kekuasaan dan pemisahan kekuasaan ala Barat memungkinkan banyak orang untuk bertanggung jawab atas tekanan keseluruhan negara, dan kekuasaan serta tanggung jawab saling melengkapi. Sementara itu, sistem otoriter adalah monopoli kekuasaan, yang pada dasarnya juga merupakan monopoli tanggung jawab, serta monopoli tekanan di seluruh masyarakat, dan ini juga merupakan pilihan sistem.
Dalam sejarah Tiongkok, banyak catatan yang menyatakan bahwa pada saat-saat kekacauan sosial dan menjelang keruntuhan negara, kaisar-kaisar terakhir berharap agar tidak lagi menjadi kaisar di kehidupan berikutnya, dan berharap terlahir sebagai orang biasa, bukan di istana kaisar lagi. Sebaliknya jika masyarakat berfungsi dengan normal dan semuanya tenang dan damai, maka kekuasaan kaisar akan terlihat sebagai sesuatu yang baik. Tetapi jika situasi kacau, menjadi kaisar sebenarnya adalah sebuah profesi yang sangat berbahaya. Saya pikir maksud Biden adalah bahwa situasi di Tiongkok saat ini sangat buruk. (Yud/whs)


