ETIndonesia. Baru-baru ini, Korea Utara mengambil langkah militer yang menarik perhatian internasional. Dilaporkan bahwa ribuan pasukan khusus Korea Utara telah memasuki Rusia untuk mendukung perang melawan Ukraina. Jumlahnya diperkirakan akan bertambah. Tindakan ini tidak hanya meningkatkan tekanan strategis bagi Partai Komunis Tiongkok (PKT), tetapi juga membuat posisi diplomatik PKT di antara Korea Utara dan Rusia semakin rumit.
Walaupun Korea Utara dan PKT menyatakan tahun 2024 sebagai tahun persahabatan kedua negara, sikap Korea Utara yang tidak terduga serta hubungannya yang semakin erat dengan Rusia — termasuk mengirimkan pasukan ke wilayah Kursk yang berbatasan dengan Ukraina — menempatkan pemerintah Beijing dalam situasi canggung.
Menurut laporan The Wall Street Journal, meskipun Beijing, Pyongyang, dan Moskow memiliki pandangan senada dalam urusan internasional dan sering kali menentang tatanan dunia yang didominasi Amerika Serikat, keterlibatan militer Korea Utara meningkatkan ketidakstabilan di kawasan dan menantang pengaruh Beijing terhadap dua negara tetangga yang memiliki senjata nuklir ini.
Komentator internasional, Lan Shu, mengatakan, “Gara-gara aliansi antara PKT, Korea Utara, Rusia, dan Iran sudah terbentuk, setiap tindakan besar dari salah satu negara ini akan mempengaruhi hubungan internasional semua negara dalam aliansi ini. Oleh karena itu, pasukan Korea Utara di Rusia akan mempengaruhi hubungan Beijing dengan Barat secara signifikan.”
Dr. Zhong Zhidong dari Institut Riset Keamanan Nasional Taiwan menilai bahwa semakin eratnya hubungan Korea Utara dan Rusia akan mengurangi ketergantungan Korea Utara terhadap PKT. “
“Nyatanya PKT ingin Korea Utara sepenuhnya bergantung pada PKT. Namun, sekarang Korea Utara memiliki pilihan lain dengan dukungan Rusia, yang kemungkinan tidak gratis. Korea Utara mungkin menerima bantuan penting dari Rusia seperti teknologi militer dan pangan, sehingga ketergantungan Korea Utara pada PKT akan berkurang.”
Pada Juni lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi Korea Utara dan menandatangani “Kemitraan Strategis Komprehensif” dengan negara tersebut.
Pada 1 November, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov bertemu dengan Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son Hui di Moskow, yang kemudian berjanji bahwa Korea Utara akan “mendukung” Rusia sampai Rusia menang dalam perang Ukraina. Sebelumnya, Korea Utara telah menyediakan banyak artileri dan amunisi untuk Rusia, kini mengirimkan pasukan dalam jumlah besar.
Lan Shu menjelaskan bahwa “pasukan Korea Utara yang kini berada di Rusia kemungkinan besar akan ditempatkan di wilayah Rusia. Pertama, untuk mencegah Ukraina melancarkan serangan militer besar-besaran antara pemilihan AS dan pelantikan Trump sebagai presiden. Kedua, sebagai kekuatan pendukung untuk negosiasi bilateral antara Rusia dan Ukraina di masa depan. Ini kemungkinan adalah tujuan utama Putin dalam mengizinkan pasukan Korea Utara masuk ke Rusia.”
Serangan Rusia terhadap Ukraina sudah melanggar larangan penggunaan kekuatan dalam hukum internasional. Adanya dukungan militer dari Korea Utara untuk Rusia menimbulkan pertanyaan apakah ini juga melanggar hukum internasional dan bagaimana dampaknya terhadap geopolitik global.
Dr. Zhong Zhidong menyatakan, “Dikarenakan Korea Utara dan Rusia saat ini sudah berada di bawah sanksi ekonomi dari negara-negara Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat, pengaruh Korea Utara terhadap dunia secara keseluruhan terbatas.”
Lan Shu menambahkan bahwa selama pasukan Korea Utara tidak memasuki Ukraina, situasi perang tidak akan meningkat secara signifikan. Hal ini akan bergantung pada bagaimana perkembangan di medan perang dan bagaimana Putin menggunakan pasukan Korea Utara yang sudah berada di Rusia. Jika Putin hanya menggunakan mereka untuk pertahanan di wilayah Rusia, dampaknya terhadap situasi umum mungkin tidak akan besar.”
Pemerintahan Partai Komunis Tiongkok memilih untuk mengurangi perhatian pada masalah pengiriman tentara Korea Utara ke Rusia dan menganggapnya sebagai urusan bilateral antara Korea Utara dan Rusia.
Lan Shu menjelaskan bahwa “hubungan antara PKT, Korea Utara, dan Rusia dalam jangka pendek memiliki konflik kepentingan tertentu. Konflik ini terutama muncul karena Rusia dan Korea Utara mengharapkan PKT agar bersikap lebih keras terhadap Barat, sedangkan PKT enggan melakukannya. Namun, konflik ini tidak akan mempengaruhi aliansi strategis jangka panjang antara ketiga negara.”
Dr. Zhong Zhidong menambahkan, “Korea Utara akan terus menjalin hubungan baik dengan PKT, tetapi dengan perbedaan utama: kemungkinan besar suara Korea Utara akan lebih kuat dalam hubungan bilateral ini. Korea Utara juga mendapatkan kebebasan strategis dan memainkan strategi dua arah yang berpotensi memberikan dampak negatif bagi hubungan antara PKT dan Korea Utara.”
Beberapa pakar di PKT secara terang-terangan menyatakan bahwa pengiriman tentara Korea Utara ke Rusia membuat pemerintah PKT berada dalam posisi “canggung.”
The Wall Street Journal memperkirakan bahwa dengan berkurangnya pengaruh Beijing terhadap Korea Utara, serta terbatasnya langkah-langkah untuk mengendalikan Korea Utara dan Rusia, pemerintah PKT mungkin memilih untuk mempertahankan status quo. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


