EtIndonesia. Pada Sabtu sore (9/11), sebuah ledakan besar terjadi di stasiun kereta api di Quetta, ibu kota Provinsi Balochistan di barat daya Pakistan. Saat itu, ledakan tersebut terdengar sangat keras, para penumpang juga sedang menunggu kereta, dan dari gambar yang ditangkap bisa dilihat bara api yang menyelimuti pemandangan, meruntuhkan struktur baja atap peron, menyebabkan barang-barang berserakan, dan telah menewaskan setidaknya 25 orang serta melukai 46 lainnya. Kelompok bersenjata yang telah beberapa kali menyerang warga Tiongkok di wilayah tersebut mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Menurut laporan dari “The New Indian Express”, Associated Press, dan Reuters, stasiun kereta api Quetta di provinsi Balochistan di barat daya Pakistan, mengalami serangan bom bunuh diri pada Sabtu sore (9/11), saat lebih dari 100 penumpang sedang menunggu kereta yang datang dari daerah perbatasan Peshawar dan Rawalpindi (dekat dengan ibu kota Islamabad).
Ledakan keras tersebut menghancurkan struktur baja atap peron, sehingga terdengar di seluruh kota, menghancurkan kios teh dan menyebarkan barang-barang di sekitarnya, sementara jumlah korban jiwa terus meningkat.
Gambar yang diunggah oleh warga net di media sosial X menunjukkan pemandangan yang tampak seperti “neraka”, dengan banyak korban yang anggota tubuhnya terpisah tergeletak di peron, dengan darah berceceran di lantai. Bukan hanya penumpang yang tergeletak tak bergerak, beberapa diantaranya bahkan kepalanya hancur dan perut terbuka akibat ledakan, situasinya seperti di tempat pemotongan hewan.
Seorang korban bernama Abdul Jabbar mengatakan, saat ledakan terjadi dia sedang di loket membeli tiket, dia benar-benar tidak bisa menggambarkan pemandangan mengerikan yang dia saksikan. Seorang saksi mata lain, Muhammad Sohail, mengatakan, semua yang ada di stasiun hancur, dia melihat banyak orang tergeletak di lantai sambil berteriak minta tolong.
Juru bicara Provinsi Balochistan, Shahid Rind menduga bahwa insiden tersebut merupakan serangan bom bunuh diri. Pejabat kepolisian setempat Mohammad Baloch mengatakan, pada saat kejadian, sekitar 100 lebih penumpang sedang menunggu di peron.
Sehubungan dengan insiden ini, kelompok bersenjata “the Baloch Liberation Army” (BLA) telah mengeluarkan pernyataan lebih awal, mengaku bertanggung jawab atas serangan bom tersebut, dan menyatakan bahwa target serangan di stasiun tersebut adalah untuk mengincar pasukan Pakistan yang kembali dari Quetta.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengeluarkan pernyataan mengutuk, mengatakan bahwa para perencana serangan teror ini akan “membayar harga yang mahal” dan menyatakan bahwa pasukan keamanan bertekad melenyapkan ancaman “terorisme”. Dia menyampaikan ketidakpuasan bahwa teroris menjadikan warga sipil, pekerja, anak-anak, dan perempuan sebagai sasaran serangan mereka.
Meskipun Provinsi Balochistan kaya akan sumber daya minyak dan mineral, ini adalah provinsi terbesar di Pakistan dengan populasi paling sedikit dan merupakan pusat kehidupan bagi minoritas Baloch. Karena penduduk setempat mengeluhkan diskriminasi dan eksploitasi oleh pemerintah pusat, “Baloch Liberation Army” telah menyerukan kemerdekaan dari pemerintah Islamabad. Selain itu, mereka juga melancarkan serangan terhadap warga negara Tiongkok yang terlibat dalam inisiatif “Belt and Road” di wilayah tersebut, dan telah memberontak selama beberapa dekade.
Serangan terhadap warga negara Tiongkok di Pakistan sering terjadi dan berkaitan dengan Baloch Liberation Army.
Pada 26 Maret 2024, sebuah ledakan terjadi di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, menargetkan konvoi kendaraan dari Islamabad yang penuh dengan warga negara Tiongkok, yang langsung meledak akibat serangan bom bunuh diri menggunakan truk penuh dengan bahan peledak. Polisi setempat mengkonfirmasi bahwa sedikitnya 5 warga negara Tiongkok tewas dalam insiden tersebut.
Menurut laporan Reuters, konvoi tersebut terdiri dari insinyur Tiongkok yang sedang dalam perjalanan dari Islamabad ke kamp Dasu di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, ketika mereka diserang oleh penyerang bom bunuh diri yang menggunakan truk berisi bahan peledak, menyebabkan tewasnya 5 warga Tiongkok dan satu sopir Pakistan.
Pada 13 Agustus 2023, sebuah serangan terhadap konvoi insinyur Tiongkok terjadi di Provinsi Balochistan, barat daya Pakistan. Saat itu, kelompok radikal Baloch Liberation Army menembaki konvoi tersebut dan melemparkan granat tangan, namun kemudian dihadapi oleh kepolisian dan tentara Pakistan yang membalas, mengakibatkan 2 militan tewas dan 2 petugas luka-luka, namun semua insinyur Tiongkok selamat.
Pada April 2022, terjadi serangan bom bunuh diri di dekat Institut Konfusius di Universitas Karakoram yang menewaskan 3 guru asal Tiongkok dan satu sopir. Baloch Liberation Army mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, dengan menyatakan targetnya adalah Institut Konfusius, yang mereka anggap sebagai simbol ekspansionisme ekonomi, budaya, dan politik Tiongkok.
Pada 20 Agustus 2021, sebuah serangan bom bunuh diri terjadi di Gwadar, barat daya Pakistan, menargetkan kendaraan yang membawa warga negara Tiongkok, mengakibatkan 2 anak-anak tewas dan melukai 3 orang lainnya. Kelompok radikal Baloch Liberation Army mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Pada Juli 2021, di bagian utara Pakistan, terjadi serangan terhadap insinyur Tiongkok di mana sebuah bus yang membawa mereka terjatuh ke dalam jurang setelah terjadi ledakan, menewaskan 12 orang termasuk 9 warga Tiongkok.
Gwadar, yang terletak di bagian barat daya Pakistan di Provinsi Balochistan, telah lama menjadi sumber konflik. Orang-orang Baloch yang merasa tertindas telah melancarkan pemberontakan jangka panjang terhadap pemerintah Pakistan, membuat situasi keamanan untuk pekerja dan keluarga Tiongkok di wilayah itu menjadi sangat menantang.
Pelabuhan Gwadar, sebuah proyek yang dibangun oleh Tiongkok di dekat Laut Arab, telah menjadi titik fokus protes selama beberapa minggu oleh penduduk setempat yang menentang aktivitas penangkapan ikan ilegal oleh orang-orang Tiongkok di perairan terdekat.(jhn/yn)


