Qatar Hentikan Jadi Mediator  Gencatan Senjata di Gaza Dikarenakan Israel dan Hamas Tidak Menunjukkan Niat Bernegosiasi

Dikarenakan kedua pihak yang bertikai tidak menunjukkan niat yang “tulus” untuk bernegosiasi, Qatar akhirnya memutuskan untuk menarik diri dari peran mediasi dalam kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza. Qatar akan kembali terlibat hanya jika kedua belah pihak menunjukkan kemauan yang nyata untuk kembali ke meja perundingan. Keputusan ini diberitahukan kepada kedua pihak yang bertikai serta pemerintah Amerika Serikat.

ETIndonesia. Menurut laporan Reuters yang dikutip Central News Agency, setelah beberapa pimpinan senior Hamas tewas dalam serangan, kantor politik Hamas di Doha, Qatar, “tidak lagi efektif.” Namun demikian, belum dijelaskan apakah Qatar akan meminta para pemimpin Hamas meninggalkan negara tersebut. 

Seorang pejabat diplomatik menyatakan bahwa Qatar menyimpulkan kedua belah pihak “tidak memiliki kemauan yang cukup untuk menyelesaikan perbedaan dalam negosiasi.”

Pejabat tersebut juga menyampaikan bahwa Doha telah memberitahukan keputusan ini kepada kedua pihak yang bertikai serta pemerintah Amerika Serikat. “Saat kedua pihak… menunjukkan niat yang tulus untuk kembali berunding, Doha siap untuk kembali berperan dalam mediasi.”

Sejak Hamas yang didukung Iran menyerang Israel Selatan pada Oktober tahun lalu, Israel melancarkan aksi militer terhadap Hamas di Gaza. Qatar, dengan dukungan Amerika Serikat, terus berupaya dalam kegiatan diplomatik yang berkepanjangan untuk mengakhiri konflik ini.

Meski demikian, setelah kesepakatan gencatan senjata selama seminggu pada November 2023, negosiasi yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat sering mengalami kendala, dengan kedua pihak saling menyalahkan atas kebuntuan tersebut.

 Pada pertengahan Oktober, putaran negosiasi terbaru kembali gagal mencapai kesepakatan, karena Hamas menolak proposal gencatan senjata singkat dari Mesir dan Qatar.

Dalam setahun terakhir, pejabat Qatar dan Amerika Serikat menyatakan bahwa kantor politik Hamas akan tetap berada di Doha selama kantor tersebut masih bisa menjadi saluran komunikasi yang efektif.

Seorang pejabat senior Hamas di Doha mengatakan kepada AFP, “Kami belum menerima permintaan untuk meninggalkan Qatar.”

Israel baru-baru ini mengalihkan fokusnya ke Lebanon.  Sejak September tahun ini, Israel telah melancarkan serangan besar terhadap Hizbullah yang juga didukung oleh Iran. Di sisi lain, Hizbullah terus menembakkan roket ke wilayah utara Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Hamas di Gaza.

Pada  9 November, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi memperingatkan bahwa serangan Israel terhadap Hamas dan Hizbullah dapat menyebabkan meluasnya konflik ke luar wilayah Timur Tengah.

Sebelumnya, Ali Larijani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, juga memberikan peringatan agar tidak sembarangan membalas Israel. Dia mengatakan, “Tujuan Israel adalah untuk mengalihkan konflik ke Iran. Kita harus menanggapinya dengan bijak agar tidak terjebak dalam perangkap Israel dan jangan sampai bereaksi tanpa berpikir.” (Hui)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine