Presiden Ukraina mengatakan bahwa pertahanan udara negaranya bekerja sepanjang waktu menghadapi serangan terbaru Rusia
ETIndonesia. Ukraina menyerang Moskow dengan 34 drone pada 10 November, menurut Kementerian Pertahanan Rusia.
“Antara pukul 7:00 dan 10:00 waktu Moskow, upaya rezim Kyiv untuk melakukan serangan teroris menggunakan kendaraan udara tak berawak tipe pesawat terhadap sasaran di wilayah Federasi Rusia berhasil digagalkan,” kata kementerian itu di Telegram.
Kementerian tersebut menyatakan bahwa sistem pertahanan udara militer Rusia berhasil mencegat dan menghancurkan 70 kendaraan udara tak berawak Ukraina: 34 di wilayah Moskow, 14 di wilayah Bryansk, tujuh di wilayah Oryol dan Kaluga, enam di wilayah Kursk, dan dua di wilayah Tula.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan di platform media sosial X pada 10 November bahwa pertahanan udara negaranya telah bekerja sepanjang waktu menghadapi serangan terbaru Rusia di negara Eropa Timur tersebut.
“Tadi malam, Rusia meluncurkan 145 Shahed dan drone serangan lainnya ke Ukraina,” katanya. “Sepanjang minggu ini, Rusia telah menggunakan lebih dari 800 bom udara berpemandu, sekitar 600 drone serangan, dan hampir 20 rudal dari berbagai jenis.”
Saling balas serangan ini terjadi beberapa hari setelah Presiden terpilih Donald Trump memenangkan pemilihan presiden AS, di mana ia berkampanye untuk menyelesaikan perang Rusia-Ukraina dengan cepat.
“Saya menghargai komitmen Presiden Trump terhadap pendekatan ‘damai melalui kekuatan’ dalam urusan global. Prinsip inilah yang secara praktis dapat membawa perdamaian yang adil di Ukraina semakin dekat. Saya berharap kami dapat mewujudkannya bersama,” kata Zelenskyy di X.
“Kami tertarik mengembangkan kerja sama politik dan ekonomi yang saling menguntungkan yang akan menguntungkan kedua negara kami. Ukraina, sebagai salah satu kekuatan militer terkuat di Eropa, berkomitmen untuk memastikan perdamaian dan keamanan jangka panjang di Eropa dan komunitas Transatlantik dengan dukungan sekutu kami.”
Zelenskyy mengatakan bahwa dia berbicara dengan Trump setelah pemilu AS dan menyebutnya sebagai “percakapan yang baik dan produktif.”
“Perang ini terjadi di tanah Ukraina. Ukraina berterima kasih atas dukungan dari mitra dan terbuka terhadap ide-ide konstruktif untuk perdamaian. Namun, terserah Ukraina untuk memutuskan apa yang harus dan tidak harus ada dalam agenda untuk mengakhiri perang ini,” katanya di X. (asr)
Sumber : The Epoch Times


