EtIndonesia. “Sebuah negara demokratis liberal seperti Korea Selatan, pada pemilihan terakhir hampir memilih seorang kandidat yang pro-partai komunis,” Choi Soo Yong, mantan pejabat National Intelligence Service Korea Selatan, menyebutkan dalam wawancaranya dengan the Epoch Times, bahwa Universitas Seoul memiliki ruangan khusus yang menyimpan karya-karya Xi Jinping. Sebaliknya, universitas ini tidak memiliki museum untuk mengenang para pendiri Korea.
Perintah darurat militer yang dikeluarkan oleh Presiden Korea Selatan, Yoon Suk-yeol, sekali lagi menyoroti pengaruh komunisme terhadap Korea Selatan. Ini adalah kali pertama dalam hampir 40 tahun seorang pemimpin Korea mengeluarkan perintah darurat militer.
Yoon Suk-yeol menuding partai oposisi “Partai Demokrat” berkolusi dengan kekuatan komunis Korea Utara. Beberapa jam setelah perintah darurat militer dicabut melalui pemungutan suara di parlemen, dia kemudian mencabut perintah tersebut.
Dalam pidato tengah malam hari Selasa (3/12), Yoon Suk-yeol mengatakan : “Saya mengumumkan darurat militer untuk melindungi Republik Korea yang bebas dari ancaman kekuatan komunis Korea Utara, untuk melenyapkan kekuatan anti-negara yang memalukan yang merampas kebebasan dan kesejahteraan rakyat kita, dan untuk melindungi tatanan konstitusional yang bebas.”
Dia mengatakan, partai politik oposisi yang mendominasi parlemen nasional “menggunakan intimidasi terhadap hakim dan pemakzulan massal terhadap jaksa untuk melumpuhkan lembaga kehakiman,” dan menyebabkan disfungsi di departemen pemerintah lainnya.
Namun, Korea Utara bukanlah satu-satunya negara yang membawa pengaruh komunisme ke Semenanjung Korea.
Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Korea Selatan dan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap negara tersebut. Hubungan Partai Oposisi dengan Partai Komunis Tiongkok, Pemimpin Partai Demokrat, Lee Jae-myung, membandingkan dirinya dengan Senator Bernie Sanders dari Florida, dan mengambil posisi yang lebih bersahabat terhadap rezim Tiongkok, meskipun Yoon Suk-yeol sejak menjabat telah mencoba membawa Korea Selatan lebih dekat dengan Amerika Serikat, mengubah sikap yang selama ini menenangkan Beijing.
Pada sebuah rapat kampanye di bulan Maret, Lee Jae-myung mengkritik sikap Yoon Suk-yeol terhadap Tiongkok, serta komentarnya mengenai invasi Tiongkok ke Taiwan.
“Mengapa Anda memprovokasi Tiongkok?” tanya Lee Jae-myung. “Apa hubungan masalah Taiwan dengan Korea Selatan?”
Sebagai mantan kandidat presiden, dua minggu yang lalu Lee Jae-myung dihukum karena melanggar undang-undang pemilu dan dijatuhi hukuman penjara satu tahun dengan masa percobaan dua tahun.
Lee Jae-myung kalah dari Yoon Suk-yeol dengan margin kurang dari satu persen dalam pemilihan presiden 2022, menjadikannya salah satu pemilihan presiden paling ketat dalam sejarah Korea Selatan.
Suzanne Scholte, ketua Defense Forum Foundation, sebelumnya mengatakan kepada the Epoch Times: “Kita harus menyadari bahwa ini adalah masalah yang sangat serius.”
Dia mengatakan : “Sebuah negara demokratis liberal seperti Korea Selatan, pada pemilihan terakhir hampir memilih seorang kandidat yang pro-partai komunis.”
Jika reputasi Yoon Suk-yeol jatuh drastis karena pengumuman darurat militer, kekhawatiran ini bisa menjadi lebih mendesak. Partainya sudah menyangkal darurat militer dan menyatakan bahwa mereka akan “mencegahnya bersama rakyat.”
Bruce Klingner, yang pernah bekerja di CIA dan Defense Intelligence Agency dan mengkhususkan diri dalam masalah Korea, mengatakan kepada the Epoch Times: “Karier politik Yoon Suk-yeol mungkin sudah mendekati akhir, karena rakyat akan bersatu untuk mengkritiknya, dan sebagian besar partai oposisi akan mencari cara untuk memakzulkannya.”
Selama periode darurat militer yang singkat, Lee Jae-myung mendesak rakyat Korea untuk berdemonstrasi di parlemen melawan darurat militer.
Dalam pemilihan parlemen bulan April lalu, partai yang dipimpin oleh Lee Jae-myung meraih kemenangan besar, memenangkan 175 dari 300 kursi, sementara partai pemerintah, Partai Kekuatan Rakyat, hanya mendapatkan 108 kursi.
Pengaruh luas Tiongkok Terhadap Korea Selatan sangat kuat. Korea Selatan sangat bergantung pada Tiongkok dalam hal perdagangan dan investasi, hubungan ini memungkinkan otoritas Tiongkok untuk lebih mempengaruhi bidang lain di Korea Selatan, termasuk politik.
Sebelumnya, seorang mantan pejabat kontraintelijen yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada the Epoch Times: “Ekonomi, kebudayaan, universitas, tidak ada satu pun yang tidak disusupi.”
Kedua negara telah menandatangani hampir 700 perjanjian kota kembar atau kota saudara. Melalui program pertukaran pegawai negeri yang didukung negara, ratusan pejabat publik Tiongkok dikirim ke Korea untuk bekerja dan pelatihan.
Kedutaan Besar Tiongkok mensponsori pemuda Korea untuk menghabiskan seminggu di Tiongkok, dan sebelum keberangkatan mereka, mereka diminta membaca buku pidato pemimpin Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping (Kutipan Xi) dan diharapkan mereka menjadi pemimpin hubungan bilateral di masa depan.
Pada tahun 2023, wali kota Gwangju di Korea berusaha membangun taman untuk mengenang komposer lagu militer Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok dan lagu march Korea Utara, untuk menarik wisatawan Tiongkok.
Tara O, penulis buku “The Collapse of North Korea” dan berbicara kepada New Tang Dynasty Television, afiliasi the Epoch Times, mengatakan bahwa kegiatan subversif Tiongkok di Korea tidak sepopuler ancaman dari Korea Utara, tapi “sangat luas dan sangat mendalam.”
Dia mengatakan bahwa usaha pembangunan taman itu “sangat ironis.”
Dia mengatakan: “Ini hanya salah satu perang budaya Tiongkok (Komunis).”
Puluhan media Korea mereproduksi artikel dari corong propaganda Tiongkok, People’s Daily.
Korea juga memiliki jumlah Institut Konfusius terbanyak, sebuah proyek pendidikan bahasa yang didanai oleh Tiongkok, bertujuan untuk mempromosikan agenda pemerintah Beijing.
Choi Soo Yong, mantan pejabat National Intelligence Service Korea Selatan, menyebutkan dalam wawancaranya dengan the Epoch Times bahwa Universitas Seoul memiliki ruangan khusus yang menyimpan karya-karya Xi Jinping. Sebaliknya, universitas ini tidak memiliki museum untuk mengenang para pendiri Korea.(jhn/yn)


