ETIndonesia. Situasi perang di Suriah semakin memanas pada 6 Desember 2024, dengan pasukan anti-pemerintah melancarkan serangan kilat yang berhasil mengguncang kekuatan pemerintah. Pasukan loyal Presiden Bashar al-Assad yang mendekati kota Homs dan ibu kota Damaskus mengalami kekalahan total, menandai titik balik serius dalam konflik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Penarikan Mendadak Warga Tiongkok dan Rusia
Pada hari yang sama, dua kekuatan besar, Tiongkok dan Rusia, mengumumkan penarikan mendadak warga negara mereka dari Suriah. Langkah ini menimbulkan spekulasi bahwa perang di Suriah telah memasuki fase akhir, dengan kedua negara tersebut mulai mengurangi keterlibatan langsungnya di negara tersebut.
Kedutaan Besar Rusia di Suriah, menurut laporan TASS, mendesak warga Rusia untuk meninggalkan negara tersebut melalui penerbangan komersial. Sementara itu, Kedutaan Besar Tiongkok juga mengeluarkan pernyataan serupa, menyarankan warga Tiongkok untuk segera kembali ke tanah air atau meninggalkan Suriah.
Serangan Terhadap Ibu Kota Damaskus dan Homs
Pemimpin organisasi bersenjata Joranini, dalam sebuah wawancara dengan AFP pada tanggal 6 Desember 2024, menyatakan bahwa tujuan utama mereka adalah menyerang ibu kota Damaskus untuk menggulingkan rezim Presiden Assad. “Jika kami berhasil merebut Homs yang strategis dekat Damaskus, kami dapat memutus hubungan antara pusat kekuasaan di Damaskus dan Mediterania,” ujarnya. Homs, yang telah lama menjadi pusat perlawanan, kini menjadi target utama dalam upaya menggulingkan rezim yang telah berkuasa selama setengah abad.
Penduduk Homs melaporkan bahwa kantor-kantor utama lembaga keamanan pemerintah kini kosong dan para pejabat telah meninggalkan kota. Sumber militer mengonfirmasi bahwa di sekitar Damaskus, terjadi pemberontakan bersenjata tambahan serta pengkhianatan di kalangan pasukan pemerintah. Meskipun wilayah yang dikuasai oleh pasukan pemerintah terus bertambah, pasukan anti-pemerintah berhasil menyerang Assad dari dua sisi, termasuk serangan drone yang menghantam Gedung Departemen Pertahanan di Al-Mu’allaq Plaza, Damaskus.
Intervensi Pasukan AS di Deir ez-Zor
Pasukan yang didukung Amerika Serikat tengah memasuki wilayah timur Suriah, khususnya Deir ez-Zor, di mana pasukan pemerintah Suriah menunjukkan tanda-tanda mundur. Keberadaan milisi Iran di wilayah ini juga mulai menunjukkan gejala penarikan tanpa adanya pertempuran sengit, menandakan keruntuhan total kekuatan pemerintah.
Upaya Pemerintah Assad untuk Mempertahankan Kekuasaan
Menyikapi krisis ini, Presiden Assad mengumumkan kenaikan gaji sebesar 50% untuk semua tentara pada tanggal 4 Desember 2024, yang segera diberlakukan sebagai upaya untuk meningkatkan moral dan mempertahankan kekuatan militer. Namun, langkah ini belum mampu membendung kemunduran pasukan pemerintah.
Ambisi Turki untuk Merebut Damaskus
Selain itu, pada 6 Desember 2024, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdoğan menyatakan ambisinya untuk merebut Damaskus. Meskipun menawarkan bantuan kepada Assad, tidak ada respons yang diterima, menandakan kemungkinan pergantian aliansi dan strategi di tengah konflik yang semakin kompleks.
Pengaruh Rusia dan Masa Depan Rezim Assad
Menurut laporan Sky News, Dr. Neil Quilliam dari Chatham Institute menyatakan bahwa nasib rezim Assad sangat bergantung pada Rusia. Selama empat tahun terakhir, pasukan anti-pemerintah telah melakukan pelatihan intensif dan persiapan untuk serangan kilat ini, sementara pasukan Assad menghadapi kekurangan sumber daya, pelatihan yang kurang memadai, dan moral yang menurun. Prediksi umum menyebutkan bahwa rezim Assad kemungkinan besar akan runtuh.
Sumber dekat Kremlin, menurut Bloomberg, mengonfirmasi bahwa Rusia tidak memiliki rencana untuk menyelamatkan Assad. Dengan terus menyerahnya pasukan pemerintah Suriah, dukungan Rusia diperkirakan akan semakin menurun, memperkuat prediksi keruntuhan rezim.
Komentar dan Analisis Politik
Seorang blogger politik di platform Axios mengemukakan bahwa Presiden Vladimir Putin hanya memiliki dua pilihan utama: mendukung Ukraina atau Suriah. Jika Putin memilih untuk mempertahankan Suriah, pembebasan seluruh wilayah Ukraina akan menjadi hal yang semakin dekat.
Komentator politik Tang Jingyuan menambahkan bahwa Tiongkok dan Rusia mungkin menyadari bahwa rezim Assad tidak lagi dapat dipertahankan dan keruntuhannya sudah di depan mata. Kedua negara tersebut mungkin juga mempertimbangkan bahwa pemerintahan baru yang terbentuk pasca-keruntuhan Assad mungkin tidak akan bersikap ramah kepada kepentingan mereka.
Oleh karena itu, pergantian rezim di Suriah dianggap sebagai hal yang tak terhindarkan, karena rezim saat ini tidak lagi mampu melindungi keamanan warga negara mereka di negara tersebut.
Kesimpulan
Dengan serangkaian serangan kilat dari pasukan anti-pemerintah dan penarikan mendadak warga Tiongkok serta Rusia, konflik di Suriah tampaknya berada pada ambang perubahan besar. Masa depan rezim Assad kini berada dalam ketidakpastian, sementara kekuatan internasional mulai mengurangi keterlibatan mereka, membuka jalan bagi kemungkinan perubahan drastis dalam struktur politik dan keamanan di Suriah. (kyr)
Sumber : Sound of Hope


