ETIndonesia. Pada 7 Desember 2024, kelompok pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS) melancarkan serangan cepat ke selatan Suriah, mendekati kota strategis Homs, yang mana menjadi pintu gerbang menuju ibu kota Damaskus. Di tengah tekanan ini, muncul laporan bahwa Iran, sekutu utama Presiden Bashar al-Assad, telah mulai mengevakuasi personilnya dari wilayah tersebut.
Serangan Pemberontak Memukul Mundur Pemerintah
HTS memulai serangan mereka pada 27 November dari wilayah basis mereka di barat laut Suriah. Dalam waktu singkat, pasukan pemerintah dipukul mundur dan kehilangan wilayah secara berturut-turut.
Pada 6 Desember, HTS merebut kota strategis Hama di bagian tengah Suriah setelah sebelumnya menguasai Aleppo, kota terbesar kedua di negara itu. Kekalahan di Hama meninggalkan Homs sebagai satu-satunya benteng besar yang tersisa untuk menghadang laju pemberontak menuju Damaskus.
Homs, yang berpenduduk 800.000 jiwa, memiliki posisi strategis antara Damaskus, Laut Mediterania, dan perbatasan dengan Lebanon. Jika jatuh ke tangan pemberontak, wilayah pesisir yang masih dikuasai pemerintah akan terputus dari wilayah daratan, mengancam keberlangsungan rezim Assad.
Ketakutan akan meluasnya kekacauan membuat negara tetangga Lebanon dan Yordania menutup beberapa pos perbatasan mereka dengan Suriah.
Iran Mulai Menarik Personelnya
Sumber dari pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa Damaskus kemungkinan akan segera menghadapi serangan militer langsung dari pemberontak. Kedutaan Besar AS pada 6 Desember mendesak warga negara AS di Suriah untuk meninggalkan negara itu secepatnya melalui penerbangan komersial yang masih tersedia. Kedutaan besar Rusia dan Tiongkok juga telah mengeluarkan peringatan serupa kepada warganya.
Namun, perkembangan paling signifikan adalah langkah Iran, pendukung Assad selama lebih dari satu dekade, yang mulai menarik personel mereka, termasuk pejabat tinggi dari Pasukan Quds di bawah Korps Garda Revolusi Iran. Perintah evakuasi ini berasal dari kedutaan besar Iran di Damaskus dan beberapa basis militer mereka. Personel Iran dilaporkan telah meninggalkan Suriah pada 6 Desember pagi, menuju Lebanon dan Irak.
Para analis percaya bahwa Iran kini menyadari bahwa mereka tidak dapat mengendalikan situasi di Suriah melalui aksi militer. Oleh karena itu, opsi militer tampaknya sudah dikesampingkan.
Kondisi di Wilayah Lain
Di bagian selatan, pemberontak mengklaim telah merebut kota Daraa, tempat dimulainya konflik Suriah pada 2011. Sementara itu, pasukan Kurdi yang didukung AS juga mulai memasuki kota Deir al-Zour di timur, yang sebelumnya dikuasai oleh pemerintah. Situasi ini memberikan tantangan terbesar bagi rezim Assad dalam beberapa tahun terakhir.
HTS Menunjukkan Sikap Lebih Moderat
Kemajuan cepat HTS telah mengejutkan para pejabat AS, yang tidak menyangka bahwa kontrol Assad terhadap wilayah seperti Aleppo sedemikian lemah. HTS berhasil memanfaatkan strategi serangan kilat untuk membuat lawan mereka tidak siap dan menciptakan kekacauan.
Beberapa pejabat AS menyatakan bahwa HTS sedang mencoba bertransformasi menjadi lebih moderat. Sebagai kelompok Islam konservatif, HTS telah menunjukkan pendekatan yang lebih pragmatis, seperti menyediakan layanan kepada warga sipil di wilayah yang mereka kuasai.
Direktur Eksekutif Syrian Emergency Task Force, Mouaz Moustafa, memuji HTS karena dengan cepat memulihkan listrik di Aleppo setelah merebut kota itu. Ia menyatakan bahwa HTS tidak lagi pantas dianggap sebagai kelompok jihad ekstremis.
Serangkaian perkembangan ini menunjukkan betapa genting situasi yang dihadapi rezim Assad, yang menghadapi tekanan dari berbagai arah di medan perang yang semakin rumit. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


