ETIndonesia. Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa Assad telah meninggalkan Suriah setelah melakukan negosiasi dengan kelompok pemberontak dan memberikan instruksi untuk “mentransfer kekuasaan secara damai.”
Dalam sebuah unggahan di aplikasi pesan Telegram pada Minggu (8/12/2024), kementerian tersebut menyatakan bahwa Moskow tidak secara langsung terlibat dalam pembicaraan ini. Selain itu, mereka menyebutkan bahwa pihaknya mengikuti perkembangan di Suriah “dengan keprihatinan yang mendalam.”
Kementerian tersebut juga mengatakan bahwa pasukan Rusia yang ditempatkan di Suriah telah berada dalam siaga tinggi, dan hingga Minggu siang, belum ada “ancaman serius” terhadap keamanan pangkalan militer Rusia di sana.
Rusia telah melancarkan kampanye militer di Suriah sejak September 2015, bekerja sama dengan Iran untuk mendukung pemerintah Assad melawan kelompok oposisi bersenjata dan merebut kembali kendali atas sebagian besar wilayah negara itu.
Meskipun Rusia saat ini memusatkan sebagian besar sumber daya militernya di Ukraina, negara itu tetap mempertahankan kehadiran militernya di Suriah dengan menjaga pasukan di pangkalan militernya.
Reaksi Biden dan Trump
“Presiden Biden dan timnya sedang memantau dengan cermat peristiwa luar biasa di Suriah dan terus berkomunikasi dengan mitra-mitra regional,” kata Gedung Putih dalam pernyataan yang dirilis Sabtu malam.
Presiden terpilih Donald Trump mengatakan di Truth Social pada Minggu pagi, “Assad telah pergi. Dia telah meninggalkan negaranya. Pelindungnya, Rusia, Rusia, Rusia, yang dipimpin oleh Vladimir Putin, tak lagi tertarik melindunginya. … Rusia dan Iran saat ini berada dalam kondisi lemah, satu karena Ukraina dan ekonomi yang buruk, yang lain karena Israel dan keberhasilan militernya.”
Pentagon : AS Akan Tetap di Suriah Timur
Amerika Serikat akan mempertahankan kehadirannya di Suriah timur dan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah kebangkitan kembali kelompok teroris ISIS, kata Wakil Asisten Menteri Pertahanan Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Daniel Shapiro, pada Minggu.
Berbicara beberapa jam setelah pemberontak Suriah mengumumkan bahwa mereka telah menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad, Shapiro menyerukan kepada semua pihak untuk melindungi warga sipil, terutama kelompok minoritas, dan menghormati norma-norma internasional.
“Kami menyadari bahwa situasi yang kacau dan dinamis di lapangan di Suriah dapat memberi ruang bagi ISIS untuk kembali aktif, merencanakan operasi eksternal, dan kami bertekad untuk bekerja sama dengan mitra-mitra tersebut guna terus melemahkan kemampuan mereka,” katanya pada konferensi keamanan Manama Dialogue di ibu kota Bahrain.
“[Kami bertekad] untuk memastikan kekalahan ISIS yang berkelanjutan, menjamin penahanan yang aman bagi para pejuang ISIS, dan repatriasi orang-orang yang terlantar,” tambah Shapiro.
Kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang memimpin kemajuan pemberontak di seluruh Suriah barat, sebelumnya adalah afiliasi al-Qaeda yang dikenal sebagai Front Nusra hingga pemimpinnya, Abu Mohammed al-Golani, memutuskan hubungan dengan gerakan jihad global pada tahun 2016.
Pemerintah Barat, yang mana selama bertahun-tahun memboikot negara yang dipimpin Assad, kini harus memutuskan bagaimana menghadapi pemerintahan baru di mana HTS tampaknya akan memiliki pengaruh.
Warga Suriah Merayakan Berakhirnya Kekuasaan Assad
Kerumunan orang berkumpul di Damaskus, Suriah, pada Minggu untuk merayakan jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad dengan nyanyian, doa, dan sesekali tembakan senjata setelah pejuang oposisi memasuki ibu kota menyusul kemajuan yang mengejutkan.
Dengan penuh semangat, orang-orang berbondong-bondong ke Alun-Alun Ummayed di jantung ibu kota Suriah untuk menandai jatuhnya pemerintahan Assad.
Alun-alun tersebut menjadi lokasi gedung Kementerian Pertahanan.
Pria di jalanan dan beberapa yang menumpang di belakang truk pikap menembakkan tembakan perayaan, sementara asap mengepul terlihat dari kejauhan. Beberapa orang mengibarkan bendera hijau yang mewakili pemberontakan Suriah melawan dinasti Assad, sebuah momen pertama dalam lebih dari satu dekade sejak protes besar-besaran berubah menjadi perang saudara.
Beberapa mil jauhnya, warga Suriah menyerbu istana presiden, menurunkan potret Assad dari ruang tamu istana tempat Assad biasa menjamu kepala negara. (asr)


