ETIndonesia. Oposisi Suriah pada Minggu (8/12) mengumumkan bahwa mereka telah mengakhiri pemerintahan rezim Assad setelah merebut ibu kota Damaskus. Media Rusia melaporkan bahwa Bashar al-Assad telah tiba di Moskow dan mendapatkan suaka politik dari pemerintah Rusia. Presiden Amerika Serikat Joe Biden juga menyampaikan pernyataan mengenai situasi ini.
Pidato Pemimpin Oposisi di Damaskus
Pada Minggu, pemimpin oposisi Suriah, Abu Mohammed al-Jawlani, memasuki Masjid Umayyah di Damaskus dan memberikan pidato kepada kerumunan orang yang berkumpul di sana.
“Kemenangan ini, saudara-saudaraku, adalah babak baru bagi negara Islam kita dan titik balik bagi kawasan ini,” ujar pemimpin oposisi Suriah, Abu Mohammed al-Jawlani.
Beberapa jam sebelumnya, perwakilan oposisi muncul di televisi nasional Suriah untuk mengumumkan bahwa mereka telah menguasai ibu kota Damaskus dan menggulingkan rezim Assad.
Mereka juga mengklaim telah membebaskan semua tahanan yang dipenjara secara tidak adil.
Oposisi menyatakan bahwa mereka memasuki kawasan Istana presiden tanpa perlawanan dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan militer yang dikerahkan di sana.
Seorang perwira militer Suriah mengungkapkan kepada Reuters bahwa pada Minggu, komando militer telah memberitahu para perwira bahwa pemerintahan Assad telah berakhir.
Pernyataan Perdana Menteri Suriah
Perdana Menteri Suriah, Mohammed Ghazi Al Jalali menyatakan bahwa dia tidak akan melarikan diri dan telah menghubungi pemimpin oposisi untuk membahas pengelolaan masa transisi.
“Kami telah mengulurkan tangan kepada oposisi, dan mereka telah menghubungi kami, memastikan bahwa tidak akan ada ancaman bagi rakyat Suriah,” katanya.
Assad Mengungsi ke Rusia
Pada hari yang sama, media resmi Rusia melaporkan bahwa Bashar al-Assad, pemimpin Suriah yang digulingkan, telah tiba di Moskow bersama keluarganya dan mendapatkan suaka politik dari pemerintah Rusia.
Dilaporkan bahwa Assad melarikan diri dari Damaskus pada pagi Minggu.
Reaksi Internasional
Pada Minggu sore, Presiden Amerika Serikat Joe Biden memberikan pernyataan mengenai situasi terkini di Suriah.
“Akhirnya, rezim Assad runtuh, sebuah rezim yang dengan kejam menyiksa dan membunuh ratusan ribu warga Suriah tak bersalah. Kejatuhan rezim ini adalah hasil dari keadilan sejati dan membawa peluang bersejarah bagi rakyat Suriah yang telah menderita,” kata Presiden Joe Biden.
Biden menambahkan bahwa kejatuhan rezim Assad terjadi karena dukungan utama mereka, yakni Iran dan Rusia, telah melemah akibat perang. Amerika Serikat akan bekerja sama dengan mitra-mitra untuk mengelola risiko di kawasan dan membantu rakyat Suriah menentukan masa depan mereka.
Euforia Kemenangan di Suriah
Setelah jatuhnya rezim Assad, suasana kegembiraan menyelimuti Suriah.
“Kami keluar untuk merayakan momen besar ini bersama dunia. Semua orang telah menantikan akhir ini, kejatuhan sang tiran,” ujar seorang warga di timur laut Suriah, Delbrat Lashou.
Di jalanan Aleppo, warga bersorak-sorai, mengibarkan bendera, meneriakkan slogan-slogan, bernyanyi, dan menari bersama.
Masyarakat diaspora Suriah di Timur Tengah dan berbagai negara di dunia juga turun ke jalan untuk merayakan runtuhnya rezim Assad.
Analisis Kejatuhan Rezim Assad
Kejatuhan rezim Assad mengakhiri lebih dari 50 tahun pemerintahan otoriter keluarga Assad di Suriah. Peristiwa ini juga memberikan pukulan besar bagi para pendukungnya, yakni Rusia dan Iran. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


