EtIndonesia. Sejak pengumuman darurat militer oleh Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol pada 3 Desember lalu yang menyebabkan gejolak politik, Korea Utara tetap bungkam, tanpa pernyataan resmi maupun laporan media. Namun, pada Rabu (11/12), media Korea Utara akhirnya bersuara, menyebut krisis tersebut telah memicu “kerusuhan sosial” yang semakin memburuk, dan mengecam Yoon Suk-yeol sebagai “boneka.”
Menurut laporan Reuters, setelah satu minggu bungkam, Kantor Berita Korea Utara KCNA menerbitkan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa krisis darurat militer di Korea Selatan telah memperburuk “kerusuhan sosial.”
Artikel tersebut sebagian besar mengutip laporan dari media Korea Selatan dan internasional, yang menyoroti lebih dari satu juta orang ikut serta dalam serangkaian protes menuntut pemakzulan Yoon Suk-yeol.
KCNA menyatakan: “Boneka Yoon Suk-yeol yang sudah menghadapi krisis pemerintahan dan ancaman pemakzulan, secara mengejutkan mengumumkan darurat militer dan mengarahkan senjata kediktatoran fasis kepada rakyatnya sendiri.”
KCNA juga menyatakan: “Tindakannya yang gila ini mengingatkan kita pada kudeta militer era kediktatoran beberapa dekade lalu, yang tidak hanya memicu kecaman keras dari oposisi Korea Selatan tetapi juga memicu tuntutan luas dari rakyat untuk pemakzulan.”
Korea Utara mengomentari darurat militer singkat yang ditetapkan oleh negara tetangganya, Korea Selatan (Korsel), pekan lalu. Media pemerintah Korut menyebut Korsel berada dalam “kekacauan” setelah pemberlakuan darurat militer singkat oleh Presiden Yoon Suk Yeol.
Melansir laman AFP, ulasan media Pemerintah Korut soal darurat militer Korsel itu menjadi komentar pertama yang diberikan Pyongyang mengenai pergolakan politik yang dialami negara tetangganya.
Yoon menangguhkan pemerintahan sipil dengan menetapkan darurat militer pada Selasa (3/12) malam pekan lalu, yang diwarnai pengerahan pasukan ke gedung parlemen. Darurat militer itu hanya berlangsung singkat setelah mayoritas anggota parlemen mendesak Yoon mencabutnya.
“Komunitas internasional menyaksikan dengan saksama. dengan penilaian bahwa insiden darurat militer mengungkap kerentanan dalam masyarakat Korea Selatan,” tulis media pemerintah Korut dalam komentarnya.
“Para komentator menggambarkan deklarasi darurat militer yang dilakukan Yoon secara tiba-tiba sebagai tindakan putus asa dan kehidupan politik Yoon Suk-yeol bisa berakhir lebih awal,” sebut media pemerintah Korut.
Saat mengumumkan darurat militer pekan lalu, Yoon menyebut hal itu akan melindungi Korsel dari “ancaman yang ditimbulkan kekuatan komunis Korea Utara dan menghilangkan unsur-unsur anti-negara yang merampas kebebasan dan kesejahteraan masyarakat”.(jhn/yn)


