EtIndonesia. Ini adalah mimpi buruk terburuk setiap orangtua: Mendengar anak-anaknya dalam kesulitan dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Teror ini menjadi kenyataan bagi seorang ibu pada tahun 2001 setelah mantan suaminya menyuruh kedua putri mereka berbicara di telepon dengan pengeras suara sebelum mereka dibunuh dengan kejam.
John Battaglia dan Mary Jean Pearle telah bercerai setahun sebelumnya, dan mereka memiliki dua putri bersama: Faith yang berusia 9 tahun dan Liberty yang berusia 6 tahun.
Pada tanggal 2 Mei 2001, Mary Jean menerima panggilan telepon dari mantan suaminya, John, yang akan menghancurkan hidupnya untuk selamanya.
Sebelumnya pada hari itu, dia telah mengantar kedua gadis kecil itu kepada ayah mereka karena dia telah berjanji untuk mengajak mereka makan malam di mal. Sebaliknya, Battaglia membawa kedua gadis itu ke apartemennya di Adam Hats Lofts, Deep Ellum di Dallas, Texas, tempat dia menelepon Mary Jean dan memaksanya untuk mendengarkan kedua putrinya yang ketakutan.
Sebelumnya, dia mengetahui bahwa ada surat perintah penangkapan atas dirinya karena melecehkan mantan istrinya, jadi dia menyuruh Faith kecil bertanya kepada ibunya: “Mengapa kamu ingin Ayah masuk penjara?”
Gadis kecil itu kemudian terdengar berteriak: “Tidak, Ayah! Tolong jangan! Jangan lakukan itu!”

Mary Jane memohon kedua putrinya untuk lari, tetapi sudah terlambat, dan fia mendengar Battaglia menembak mati kedua gadis itu beberapa kali.
Dia kemudian berkata : “Selamat Natal sialan” kepada Mary Jean, hanya dalam satu dari sekian banyak ejekannya kepada Mary Jean.
Diyakini bahwa dia merujuk pada sebuah insiden yang terjadi pada Natal tahun 1999, di mana dia menyerang Mary Jean dan Mary Jean melapor ke polisi, yang menyebabkan perceraian mereka.
Mary yang ketakutan menutup telepon dan menelepon 911 untuk meminta bantuan.
Battaglia kemudian menelepon kembali dan meninggalkan pesan suara di mesin penjawab, dengan mengatakan: “Hai, gadis-gadis. Aku hanya ingin memberi tahu kalian betapa, sangat beraninya kalian, dan aku harap kalian beristirahat di tempat yang lebih baik sekarang. Aku berharap kalian tidak ada hubungannya dengan ibu kalian. Dia jahat, kejam, dan bodoh!”
“Selamat malam, anak-anakku,” lanjutnya. “Kalian gadis-gadis yang sangat berani.”
Setelah membunuh kedua putrinya, Battaglia pergi ke bar bersama pacarnya sebelum pergi ke tempat tato, membuat tato pada dua mawar yang didedikasikan untuk anak-anak yang baru saja dibunuhnya.
Hanya butuh waktu 20 menit bagi juri untuk menyatakannya bersalah, dan dia dijatuhi hukuman mati pada tahun 2002.
Pembunuh itu akhirnya dieksekusi pada tahun 2018, meskipun ada beberapa penolakan dari tim hukumnya yang mempertanyakan kewarasannya. Tim hukumnya mengajukan banding baru pada pagi hari saat dia meninggal, dengan mengatakan bahwa dua eksekusi terakhir negara bagian itu salah.
Banding tersebut tidak berhasil, dengan Mahkamah Agung AS mengeluarkan penolakan terakhir sekitar pukul 9 malam.
Battaglia tidak pernah menyatakan penyesalan atas pembunuhan tersebut dan masih terus menyalahkan mantan istrinya. Bahkan saat dia menghadapi kematian, dia menemukan waktu untuk menyiksa ibu yang berduka.
Ketika ditanya apakah dia memiliki kata-kata terakhir, Battaglia berkata tidak, lapor Dallas Morning News, tetapi dia kemudian berubah pikiran, dengan mengatakan: “Hai Mary Jean,” yang berdiri di balik kaca sambil memperhatikan eksekusi.
“Sampai jumpa nanti. Silakan saja,” imbuhnya.
Dia kemudian disuntik dengan dosis mematikan pentobarbital pukul 21.18. Butuh waktu dua puluh dua menit baginya untuk dinyatakan meninggal. (yn)
Sumber: unilad


