ETIndonesia. Setelah 14 bulan pertempuran sengit, Israel berhasil menghancurkan kekuatan militer dan politik Hamas, hampir memusnahkan gudang senjata Hizbullah yang telah mereka kumpulkan selama 20 tahun. Dengan runtuhnya rezim Assad, pasukan Israel dengan cepat memasuki Suriah untuk menghancurkan senjata berbahaya.
Bagaimana peta politik Timur Tengah akan berubah pada 2025? Layak untuk ditunggu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkata “Ketika Israel berperang melawan Hamas, kami sebenarnya berperang melawan Iran. Ketika kami melawan Hizbullah, kami juga melawan Iran. Ketika kami melawan pasukan Houthi, kami juga melawan Iran. Dan, ketika kami melawan Iran, kami melawan pembunuh paling radikal, musuh Amerika Serikat.”
Pada musim panas ini, ketika Netanyahu berpidato di Kongres AS, pertempuran antara Israel dan organisasi Hamas di Gaza hampir selesai. Pasukan Israel telah membunuh setengah dari komandan militer Hamas, menghancurkan jaringan terowongan penting serta gudang senjata Hamas.
Pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, tewas dalam serangan di Teheran, Iran. Pemimpin Hamas lainnya, Yahya Sinwar, yang merencanakan serangan teroris pada 7 Oktober 2023 di permukiman Israel, juga tewas di Gaza.
Menurut data yang dirilis oleh Departemen Luar Negeri AS, serangan Hamas ini menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk 46 warga AS. Sebanyak 254 orang disandera ke Gaza, termasuk 12 warga AS, di mana 4 di antaranya telah dikonfirmasi tewas. Serangan ini memicu konflik antara Israel dan Hamas serta pertempuran multi-front melawan Iran dan sekutunya, yang berlangsung hingga kini.
Setelah kekuatan utama Hamas hancur, Israel mengalihkan fokusnya ke Hizbullah yang berbasis di Lebanon selatan. Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, dan penggantinya, Hassan Khalil Yassin, tewas dalam serangan yang ditargetkan. Komandan militer tertinggi Hizbullah, Nasrat Hussein Shuqair, serta komandan pasukan roket, Jaafar Khader Faour juga tewas dalam serangan udara. Sebagian besar kepemimpinan Hizbullah dilaporkan tewas.
Serangan bom yang mengejutkan, seperti pada perangkat pager dan radio, melukai lebih dari 3.000 anggota inti Hizbullah. Israel terus melakukan serangan udara ke wilayah selatan dan timur Lebanon.
Pada 23 September, militer Israel mengklaim telah menghancurkan 1.300 target Hizbullah dalam 24 jam, merusak gudang senjata mereka secara signifikan. Meski ada tekanan dari Amerika Serikat dan dunia Barat yang khawatir perang akan meluas, Israel tetap melanjutkan operasinya sesuai rencana, termasuk mengirim pasukan darat ke Lebanon selatan.
Melihat sekutu utamanya “lumpuh”, Iran menunjukkan respons yang relatif terkendali. Pada awal Oktober, Iran menembakkan sekitar 180 roket ke Israel, jauh lebih sedikit dibandingkan serangan April yang melibatkan lebih dari 300 drone dan rudal. Israel membalas dengan lebih dari 100 pesawat yang menyerang target militer di Teheran. Setelah serangan beberapa jam, Israel menghentikan operasi dan tidak menyerang fasilitas minyak atau nuklir Iran. Iran mengklaim bahwa kerusakannya minim untuk menghindari perang terbuka dengan Israel.
Perkembangan lain yang tak terduga adalah perubahan kekuasaan di Suriah yang semakin melemahkan aliansi anti-Amerika dan anti-Israel yang dipimpin Iran. Dalam dua minggu, oposisi Suriah berhasil menggulingkan rezim Assad. Israel segera melancarkan serangan udara terhadap fasilitas militer, basis rudal, dan gudang senjata kimia di Suriah.
Pasukan darat Israel juga memasuki Suriah, menguasai zona penyangga seluas 400 kilometer persegi. Selain itu, Israel terus mengontrol Dataran Tinggi Golan untuk menjaga keamanan perbatasan utara dan mencegah penyelundupan senjata Iran ke Lebanon.
Dengan terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS, harapan gencatan senjata di Timur Tengah mulai muncul.
Pada 27 November, gencatan senjata selama 60 hari antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku. Pada 20 Desember, Israel dan Hamas menyatakan bahwa mereka lebih dekat dari sebelumnya untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Netanyahu: “Kami akan terus mengawasi ancaman dari Iran yang ingin menghancurkan kami. Kami bertekad untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir atau senjata lain yang dapat mengancam kota dan komunitas kami.”
Dalam konteks kabinet baru Trump yang pro-Israel, apakah pemerintah Netanyahu akan memanfaatkan peluang ini untuk menghilangkan potensi ancaman nuklir Iran dan mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, akan terlihat lebih lanjut pada tahun 2025. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


