Krisis keuangan yang semakin parah di banyak wilayah pemerintahan lokal Tiongkok telah memengaruhi pembayaran gaji. Banyak pekerja kebersihan yang belum menerima gaji selama berbulan-bulan melakukan mogok kerja, menyebabkan sampah di kota-kota tidak terangkut dan jalanan dipenuhi sampah. Plastik, kantong sampah, dan kertas beterbangan di mana-mana tertiup angin
ETIndonesia. Pada 29 Desember 2024, warga Kota Teng’ao, Anshan, Provinsi Liaoning, melaporkan melalui platform video pendek bahwa pekerja kebersihan setempat melakukan mogok kerja karena gaji yang belum dibayar. Akibatnya, tempat sampah di jalanan penuh, dan plastik serta kertas berserakan tertiup angin.
Video yang beredar di internet menunjukkan jalan-jalan dipenuhi dengan sampah tanpa ada yang membersihkannya. Salah satu pengunggah video mengatakan, “Gaji pekerja tidak dibayar, situasinya jadi seperti ini, para pekerja kebersihan benar-benar kesal.”
Pejabat pemerintah kota mengatakan kepada media daratan bahwa masalah ini tidak bisa diselesaikan di tingkat kota, melainkan merupakan tanggung jawab pemerintah tingkat atas di Kota Haicheng untuk menyediakan anggaran gaji. “Sekarang terjadi penundaan pembayaran gaji,” tambahnya.
Pada 26 Desember, seorang pengguna internet dari Nanning, Guangxi, memposting video yang menunjukkan jalanan penuh sampah tanpa ada yang membersihkan. Disebutkan bahwa pekerja kebersihan belum menerima gaji selama beberapa bulan dan telah berhenti bekerja selama dua hari.
Pada 27 Desember, laporan dari Urban Live News menunjukkan bahwa jalanan yang tidak dibersihkan berada di Pasar Longteng, Nanning. Pasar ini berada di bawah pengelolaan Stasiun Manajemen Kebersihan Lingkungan Kota Litang, Binyang County, Nanning, Guangxi. Seorang wakil kepala stasiun mengatakan, “Benar, gaji belum dibayar selama beberapa bulan. Perusahaan kontraktor belum menerima dana, sehingga tidak bisa membayar para pekerja.” Namun, alasan mengapa perusahaan kontraktor tidak menerima dana tidak diketahui.
Saat ini, beberapa pekerja kebersihan telah diminta untuk kembali bekerja sementara waktu, termasuk pengaturan ulang personel dari stasiun lain. Namun, pekerja yang berada di bawah perusahaan kontraktor masih belum kembali bekerja. Stasiun ini memiliki sekitar 60-70 pekerja kebersihan, tetapi hingga saat ini, gaji mereka belum dibayarkan. Pembersihan darurat jalanan hanya dilakukan sebagai langkah sementara.
Beberapa pengguna internet mengungkapkan bahwa situasi serupa terjadi di seluruh negeri.
“Di Henan, gaji pekerja kebersihan tertunda hingga setengah tahun,” kata seorang warganet.
“Di Tianjin, pekerja taman juga belum menerima gaji selama setengah tahun,” tambah yang lain.
“Di Shenyang, para pekerja kebersihan di distrik Yuhong memblokir jalan karena gaji tidak dibayarkan,” ujar komentar lain. “Di Jiangsu, saya mendengar pekerja kebersihan berbincang di jalan bahwa mereka belum menerima gaji selama sembilan bulan.”
Pada 17 Desember, pekerja kebersihan di Xi’an, Provinsi Shaanxi, memblokir jalan untuk menuntut gaji mereka. Seorang staf dari Pusat Kebersihan Kota Distrik Lintong mengatakan bahwa pekerjaan kebersihan telah dialihdayakan ke pihak ketiga. Namun, karena kesulitan keuangan pemerintah, pembayaran kepada perusahaan pihak ketiga tertunda, yang pada akhirnya menyebabkan keterlambatan pembayaran gaji para pekerja kebersihan.
Netizen mengecam situasi ini, mengatakan: “Para pekerja kebersihan hanya dibayar RMB.1.500 per bulan tanpa tunjangan asuransi, dan uang segitu pun tidak bisa dibayarkan. Mereka jelas tidak berniat membayar.”
“Para pekerja kebersihan bekerja keras dan hanya mendapat sekitar RMB.2.000 per bulan. Lalu gaji mereka ditunda selama beberapa bulan, ini sangat tidak manusiawi.”
“Bahkan gaji kecil seperti itu ditahan, sungguh tidak berperasaan.” (Hui)
Sumber : NTDTV.com


