ETIndonesia. Nicolas Maduro, 62 tahun, mengabaikan tuduhan kecurangan pemilu dan kecaman internasional saat dilantik pada Jumat (10/1/2025) sebagai Presiden Venezuela untuk masa jabatan ketiga. Amerika Serikat telah menaikkan hadiah penangkapannya menjadi 25 juta dolar AS, sementara negara-negara anggota Uni Eropa memperluas sanksi terhadap Venezuela.
Menurut laporan AFP yang dikutip oleh kantor berita Taiwan, CNA, hanya Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel dan Presiden Nikaragua Daniel Ortega yang hadir dalam upacara pelantikan tersebut, menunjukkan tanda-tanda isolasi terhadap Maduro. Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim ucapan selamat, sementara Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva sengaja absen dan hanya mengirimkan Duta Besar Oliveira sebagai perwakilan.
Edmundo Gonzalez Urrutia, pesaing utama Maduro dalam pemilu Juli lalu, diakui oleh Amerika Serikat dan sebagian besar negara Amerika Latin sebagai pemenang sah. Gonzalez menuduh Maduro telah “memaksakan dirinya sebagai diktator” dan melakukan “kudeta”.
Menurut kubu Gonzalez, berdasarkan hasil penghitungan suara, ia memenangkan pemilu dengan keunggulan yang besar serta mendapat pengakuan dari Amerika Serikat dan negara-negara lain sebagai presiden terpilih. Namun, para pengamat internasional mengkritik pemilu tersebut sebagai tidak demokratis.
Menurut laporan Reuters, situasi politik di Venezuela terus bergejolak sejak pemilu. Gonzalez mengasingkan diri ke Spanyol pada September tahun lalu, sementara sekutunya Maria Corina Machado tetap berada di Venezuela dalam kondisi bersembunyi. Beberapa tokoh oposisi terkemuka dan demonstran telah ditangkap.
Setelah pelantikan Maduro, Gonzalez merilis video yang menyatakan tekadnya untuk segera kembali ke Venezuela guna “mengakhiri tragedi ini.”
Pemerintah menuduh oposisi merencanakan konspirasi fasis dan memperingatkan bahwa Gonzalez akan segera ditangkap jika kembali ke negara tersebut serta menawarkan hadiah sebesar 100 ribu dolar AS untuk informasi mengenai keberadaannya.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengutuk pelantikan tersebut sebagai “ilegal” dan mengumumkan sanksi baru terhadap rezim Maduro. Hadiah untuk informasi terkait Maduro atau Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello dinaikkan menjadi 25 juta dolar AS, sementara hadiah sebesar 15 juta dolar AS juga ditetapkan untuk Menteri Pertahanan Vladimir Padrino Lopez.
Ketiga hadiah tersebut terkait dengan tuduhan penyelundupan narkoba yang diajukan AS pada tahun 2020, dua tahun setelah Maduro memenangkan pemilu yang penuh dengan tuduhan kecurangan.
Inggris dan Uni Eropa (UE) turut menjatuhkan sanksi, menargetkan 15 orang, termasuk anggota Komisi Pemilihan Nasional dan pasukan keamanan. Sementara itu, Kanada menjatuhkan sanksi kepada 14 pejabat lama dan baru. (hui)
Sumber : NTDTV.com


