Epidemi di Tiongkok terus berlanjut, dan banyak warga melaporkan kasus kematian mendadak di kalangan dewasa muda, terutama pada usia 40 hingga 60 tahun. Namun, pemerintah setempat diduga menyembunyikan data pandemi dan angka kematian sebenarnya, sehingga jumlah penduduk dan usia harapan hidup di Tiongkok diperkirakan jauh lebih rendah daripada data resmi yang diumumkan.
ETIndonesia. Pada 17 Januari, Biro Statistik Nasional Tiongkok mengumumkan bahwa jumlah penduduk di akhir tahun 2024 mencapai 1,408 miliar jiwa, turun 1,39 juta orang dibandingkan akhir tahun 2023, dengan tingkat pertumbuhan alami sebesar -0,99%. Namun, banyak warga yang merasakan penurunan populasi secara nyata dan membagikan video untuk mempertanyakan data resmi tersebut.
Seorang warga desa di Xingtai, Provinsi Hebei, bernama Huang mengatakan bahwa di desa-desa sekitarnya sering terjadi kasus kematian mendadak pada orang dewasa muda tanpa penyebab yang jelas.
Baru-baru ini, seorang pria berusia sekitar 47-48 tahun ditemukan meninggal di tempat tidurnya sehari setelah menghadiri pesta pernikahan. Sebelumnya, ada juga kasus seorang ayah dan anak yang meninggal pada hari yang sama.
Huang, warga desa di Xingtai, Hebei: “Sejak memasuki musim dingin, banyak orang mengalami demam dan batuk. Banyak orang muda yang tampaknya sehat tiba-tiba meninggal mendadak, kebanyakan berusia empat puluhan. Di pedesaan, mereka biasanya tidak memeriksakan penyebab kematian ke rumah sakit. Krematorium pun kewalahan hingga tidak lagi mewajibkan kremasi, sehingga banyak keluarga memilih pemakaman tradisional. Kita sering melihat banyak makam baru di ladang-ladang.”
Seorang warga desa di Dali, Provinsi Yunnan, bernama Zhang mengatakan bahwa banyak kematian mendadak dan kasus stroke atau serangan jantung di desanya dialami oleh mereka yang telah menerima vaksin COVID-19 buatan dalam negeri.
Zhang, warga desa di Dali, Yunnan: “Di desa kami, sudah ada belasan orang yang terkena stroke, dan dua atau tiga orang meninggal dunia. Mereka berusia sekitar lima puluh hingga enam puluh tahun. Ini adalah efek samping dari vaksin. Sebelum divaksin, mereka sehat dan bugar, tetapi setelah disuntik, banyak yang terkena stroke dan meninggal dalam beberapa bulan. Begitu mereka terjatuh, biasanya tidak bisa diselamatkan lagi.”
Huang juga mengungkapkan bahwa virus COVID-19 sebenarnya belum pernah benar-benar hilang, tetapi pemerintah sengaja menyembunyikan fakta ini. Istrinya tertular virus sebelum Tahun Baru Imlek dan baru sembuh belakangan ini. Sedangkan dirinya sendiri sempat dirawat di rumah sakit selama sepuluh hari tahun lalu.
Huang, warga desa di Xingtai, Hebei: “Istri saya sakit selama hampir sebulan. Saya sendiri mengalami demam, nyeri dada, dan batuk yang tak kunjung sembuh pada bulan Mei tahun lalu. Setelah menjalani pemeriksaan sinar-X, dokter mengatakan itu adalah pneumonia. Rumah sakit daerah tidak sanggup menangani, jadi saya dirawat selama sepuluh hari di rumah sakit provinsi. Di rumah sakit, mereka tidak lagi menyebut penyakit ini sebagai COVID-19, tetapi banyak orang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Menurut data resmi, pada tahun 2024, harapan hidup rata-rata di Tiongkok adalah 69,9 tahun untuk pria dan 78,5 tahun untuk wanita. Namun, banyak warga yang percaya bahwa angka sebenarnya jauh lebih rendah.
Berdasarkan data dari krematorium, usia rata-rata pria yang dikremasi pada tahun 2024 adalah 63 tahun, sementara wanita adalah 67 tahun. Bahkan, seorang pegawai krematorium mengungkapkan bahwa sekitar 80% dari orang yang meninggal dunia berusia di bawah 60 tahun.
Lao Zhang, warga Xuzhou, Provinsi Jiangsu: “Saya sering mendengar teman-teman saya bercerita tentang orang-orang berusia lima puluhan yang meninggal mendadak. Mungkin ini ada hubungannya dengan vaksin. Selain itu, masalah keamanan pangan, begadang, stres emosional, kebiasaan minum alkohol, dan penyakit kardiovaskular juga menjadi faktor. Dulu, usia harapan hidup orang Tiongkok bisa mencapai sekitar 72-73 tahun, tetapi menurut informasi internal, sekarang rata-rata hanya sekitar 62-63 tahun.” (Hui)
Sumber : NTDTV.com


