“Sangat sedikit orang-orang di jalanan sekarang; sangat sepi,” kata seorang warga di Shijiazhuang.
EtIndonesia. Gelombang infeksi pernapasan baru-baru ini di Tiongkok telah membebani rumah sakit dan krematorium, menurut warga di berbagai daerah yang berbicara kepada The Epoch Times yang dilaporkan Selasa (25/2/2025).
Warga dari berbagai provinsi melaporkan bahwa sejak Januari, rumah sakit besar dan krematorium telah penuh sesak. Mereka mengenal banyak orang yang mengalami gejala mirip flu.
Semua narasumber hanya memberikan nama keluarga mereka karena khawatir akan kemungkinan tindakan balasan dari pihak berwenang.
Rumah Sakit dan Krematorium Kewalahan
Hua, seorang warga desa di Tangshan, Provinsi Hebei, mengatakan bahwa rumah sakit besar di kota tersebut sangat padat, “seperti pasar yang sibuk,” dan krematorium menghadapi situasi serupa.
“Krematorium bekerja tanpa henti untuk menangani banyaknya orang yang meninggal di rumah sakit,” katanya.
“Di kampung halaman saya yang berada di daerah pedesaan, banyak orang juga meninggal dunia.”
“Kami harus mencari orang yang memiliki koneksi [dengan pihak berwenang atau pekerja rumah duka] agar jenazah bisa dikremasi.”
“Rasanya seperti kiamat.”
Ia menyebut bahwa orang dari segala usia telah meninggal dunia akibat gelombang infeksi ini. Berdasarkan gejalanya, ia menduga mereka meninggal karena COVID-19.
“Tante saya meninggal karena COVID-19,” katanya. “Beijing mengendalikan media dan tidak mengizinkan mereka melaporkannya.”
Sulit Menilai Skala Wabah yang Sebenarnya
Karena rekam jejak pemerintah Tiongkok dalam menutupi data infeksi, sulit untuk menilai skala wabah ini.
Partai Komunis Tiongkok (PKT) menghentikan tes COVID-19 di rumah sakit pada Desember 2022 ketika tiba-tiba mencabut pembatasan pandemi. Sejak saat itu, alat tes mandiri tidak lagi tersedia di apotek.
Yao, warga Shijiazhuang, ibu kota Provinsi Hebei dengan populasi sekitar 11 juta jiwa, mengatakan bahwa dua temannya baru saja meninggal dunia.
“Di kota ini, sangat sedikit orang di jalan; sangat sepi, dan tampaknya jumlah orang memang berkurang,” katanya.
“Sedikit orang di kereta bawah tanah dan bus; tidak ada lagi kemacetan lalu lintas,” tambahnya.
Ia percaya bahwa apa yang disebut otoritas sebagai influenza A sebenarnya adalah COVID-19 yang diberi nama baru.
“Banyak orang mengalami gejala yang sama seperti COVID-19, termasuk paru-paru putih. Obat yang digunakan juga sama,” ujarnya.
Kombinasi Infeksi Menyebabkan Banyak Kematian
Influenza A, COVID-19, dan infeksi manusia oleh flu burung memiliki gejala pernapasan yang serupa, menurut Sean Lin, asisten profesor di Departemen Ilmu Biomedis di Feitian College, AS, dan mantan ahli mikrobiologi di Angkatan Darat AS.
“Subtipe influenza, COVID-19, dan flu burung menyebar secara bersamaan, menyebabkan banyak infeksi dan kematian,” kata seorang profesional pencegahan epidemi di Tiongkok daratan yang meminta anonimitas demi keselamatannya.
Lin mengaitkan lonjakan infeksi baru-baru ini dengan “penyebaran berbagai virus secara bersamaan dan melemahnya sistem kekebalan masyarakat.”
“Hal yang paling mengkhawatirkan adalah apakah flu burung yang sangat patogen menyebar di antara manusia,” katanya.
The Epoch Times edisi bahasa mandarin sebelumnya melaporkan bahwa menurut sumber lokal, infeksi manusia oleh flu burung H5N1 telah merebak di Provinsi Shanxi serta kota-kota besar seperti Wuhan dan Shanghai.
Sistem Kekebalan Melemah
Yao mengamati bahwa meskipun orang biasanya pulih dari flu biasa, banyak yang kini tidak dapat bertahan, terutama mereka yang berusia 40-an dan 50-an.
Seorang kerabatnya yang bekerja di ruang gawat darurat rumah sakit mengatakan bahwa banyak pasien meninggal akibat komplikasi yang disebabkan oleh penyakit pernapasan, seperti penyakit jantung, ginjal, dan stroke.
Li, warga Kota Zhumadian, Provinsi Henan, percaya bahwa lonjakan infeksi dan kematian ini adalah akibat dari vaksinasi COVID-19 yang diwajibkan oleh pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, yang menyebabkan penurunan imunitas banyak orang, sehingga mereka mengalami infeksi berulang dan komplikasi.
Zhang, warga Kota Ankang, Provinsi Shaanxi, mengatakan banyak orang di sekitarnya terus-menerus terinfeksi virus pernapasan dan butuh waktu lama untuk pulih.
“Banyak orang mengalami penyakit serius dan meninggal karena tubuh mereka tidak mampu melawan penyakit,” katanya.
Ia meyakini bahwa kebijakan vaksinasi wajib pemerintah dalam beberapa tahun terakhir berkontribusi terhadap meningkatnya kasus kematian mendadak.
Lin menambahkan: “Upaya vaksinasi massal oleh rezim Tiongkok telah sampai batas tertentu, menyebabkan virus bermutasi menjadi strain yang lebih mampu menghindari sistem kekebalan tubu.”
“Ini menunjukkan bahwa lebih banyak vaksin tidak selalu lebih baik—ada masalah yang berkaitan dengan toleransi kekebalan dan pelarian imun.”
Peti Mati Habis Terjual
Li saat ini bekerja di Xiamen, Provinsi Fujian.
“Sejak awal Tahun Baru, banyak anak muda meninggal, terutama di wilayah utara,” katanya.
“Puluhan kerabat, teman, klien, dan rekan kerja saya telah meninggal—bahkan lebih banyak lagi di luar lingkaran sosial saya.”
“Karena tingginya jumlah kematian, banyak rumah duka telah menambah krematorium,” tambah Li, seraya menambahkan bahwa “di provinsi dengan populasi besar, seperti Henan, Anhui, dan Jiangxi, pemakaman alami diam-diam diizinkan untuk mengurangi tekanan pada krematorium.”
Zhang mengatakan bahwa sebelum dan selama Tahun Baru Imlek, yang berlangsung dari 29 Januari hingga 12 Februari, 11 orang lanjut usia meninggal dunia di desanya.
“Di pedesaan kami, sekarang banyak kuburan baru di ladang dan lembah,” katanya.
Wang, seorang warga desa dekat Shijiazhuang, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa banyak orang meninggal di daerahnya.
“Di desa kecil dengan populasi 180 orang, puluhan orang meninggal sekitar Tahun Baru Imlek,” katanya.
“Peti mati yang biasanya seharga 4.000 yuan [sekitar Rp8,8 juta] sekarang dijual seharga 12.000 yuan [sekitar Rp26,5 juta], dan peti mati habis terjual karena begitu banyaknya kematian.”
Laporan yang Tidak Akurat
Pada awal 2023, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Tiongkok tidak melaporkan jumlah warga yang meninggal dunia akibat infeksi COVID-19 secara akurat.
Para pakar Tiongkok, anggota parlemen, dan aktivis hak asasi manusia telah lama mencurigai Partai Komunis Tiongkok (PKT) menutupi jumlah infeksi dan kematian sejak wabah COVID-19 pertama kali muncul di Wuhan, Provinsi Hubei, pada akhir 2019.
Di tengah lonjakan infeksi pernapasan saat ini, banyak pihak luar mempertanyakan data terbaru tentang penyakit menular yang dirilis oleh Beijing.
Menurut laporan yang dirilis oleh Administrasi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nasional Tiongkok pada 14 Februari, lebih dari 2,8 juta warga Tiongkok di daratan terinfeksi influenza pada Januari—peningkatan tajam dari lebih dari 1,5 juta infeksi yang dilaporkan pada Desember 2024—tetapi hanya sembilan orang yang meninggal dunia.
Banyak warga lokal, pelapor, dan netizen menyebut bahwa situasinya jauh lebih serius daripada yang diakui oleh data resmi pemerintah.
“Sampai sekarang, WHO masih belum dapat menjamin bahwa mereka bisa memperoleh data rumah sakit dan informasi epidemi sebenarnya dari pemerintah Tiongkok,” kata Lin.
Ia menambahkan bahwa WHO “tidak belajar dari pandemi COVID-19 dan belum mampu melakukan reformasi internal yang efektif untuk menghilangkan korupsi, birokrasi berlebihan, dan infiltrasi PKT.”
Laporan ini turut disusun oleh Luo Ya, Wen Xin, dan Xiong Bin.


