EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Kamis (27 Februari) mengumumkan bahwa mulai 4 Maret, AS akan memberlakukan tambahan tarif 10% terhadap barang impor dari Tiongkok. Ini merupakan kenaikan tarif kedua dalam sebulan, setelah Trump menaikkan tarif 10% pada awal Februari. Akibat pengumuman ini, pasar saham utama di Tiongkok anjlok pada Jumat.
Partai Komunis Tiongkok (PKT) juga dijadwalkan menggelar “Dua Sesi” (Two Sessions) pada 4-5 Maret. Para analis menilai bahwa keputusan Trump ini menempatkan para pembuat kebijakan di Beijing dalam kesulitan besar.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan: m”Tarif 10% terhadap Tiongkok sudah diberlakukan. Apakah Anda berencana…?” “Saya akan menambah lagi 10%.”
Trump memberlakukan tambahan tarif ini karena banyaknya arus masuk obat-obatan terlarang, terutama fentanil, dari Tiongkok melalui Meksiko dan Kanada ke Amerika Serikat. Selain itu, ia juga menaikkan tarif impor dari Kanada dan Meksiko sebesar 25%.
Para analis menilai bahwa kebijakan ini semakin memperumit situasi bagi PKT.
“Reaksi yang terlalu besar tidak hanya akan merugikan ekonomi Tiongkok, tetapi juga berpotensi memicu Trump untuk meluncurkan putaran perang tarif yang baru. Oleh karena itu, yang seharusnya dilakukan Beijing adalah mencoba bernegosiasi dengan pemerintah AS, tidak hanya untuk menghindari tarif kali ini, tetapi juga tarif di masa depan,” ujar Rodrigo Zeidan, profesor bisnis dan keuangan di New York University Shanghai.
Lin Changnian, CEO Zhi Yi Oriental Securities Ltd. di Hong Kong, mengatakan kepada VOA:
“Pada 2018, Trump telah memberlakukan tarif 10% terhadap impor dari Tiongkok. Kemudian pada Februari tahun ini, tarif dinaikkan 10% lagi, dan pada Maret, tarif bertambah lagi 10%. Jadi total tarif impor AS terhadap barang dari Tiongkok kini mencapai 30%. Ini pukulan besar bagi ekspor Tiongkok karena perusahaan eksportir harus menanggung biaya yang jauh lebih tinggi.”
Menurut data, pada tahun 2024, nilai ekspor Tiongkok ke AS mencapai 524,6 miliar dolar AS, meningkat 4,9% dibanding tahun sebelumnya. Dengan AS sebagai mitra dagang ekspor terbesar Tiongkok, tambahan tarif ini bisa berdampak besar dan mungkin mendorong lebih banyak perusahaan Tiongkok untuk membuka pabrik di luar negeri.
Pada Jumat, tiga indeks saham utama di Tiongkok langsung anjlok, dengan penurunan antara 2% hingga 4% pada akhir perdagangan.
Pasar saham Hong Kong juga merosot tajam, turun 3,28%, dan mencapai titik terendah dalam beberapa minggu terakhir. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


