Keberhasilan Masa Kecil Dimulai dengan 4 Hal Dasar Ini

Anak-anak mendapatkan manfaat lebih besar dari keluarga yang mendukung dibandingkan dengan sumber daya khusus

Annie Holmquist

Seorang teman saya baru-baru ini mengatakan, “Kamu tahu kamu mulai menua ketika mulai memindahkan impian yang dulu kamu miliki untuk diri sendiri—seperti bermain basket di NBA—kepada anakmu.”

Pernyataan ini mungkin akan terasa relevan bagi setiap orangtua. Sejak seorang anak masih dalam kandungan, hampir setiap orangtua yang baik mulai bermimpi untuk memberikan yang terbaik dalam hidup bagi anaknya. Tahun-tahun berikutnya pun diisi dengan berbagai upaya orangtua dalam mewujudkan harapan tersebut, seperti menyediakan nutrisi terbaik, pendidikan terbaik yang bisa mereka jangkau, serta les piano, tari, sepak bola, pemrograman komputer, dan berbagai kegiatan lain yang mungkin membawa kebahagiaan dan kesuksesan bagi sang anak di masa depan.

Namun, pernahkah kita bertanya-tanya apakah semua upaya tersebut berlebihan? Bagaimana jika sebenarnya kunci kesuksesan anak-anak terletak pada hal-hal yang lebih sederhana?

Pertanyaan ini muncul di benak saya saat membaca otobiografi Russell Kirk berjudul The Sword of Imagination. Meskipun namanya tidak begitu dikenal luas, Kirk menjalani kehidupan yang sangat sukses—bahkan, ia dianggap sebagai salah satu pemikir konservatif terkemuka abad ke-20. Ia memengaruhi jutaan orang Amerika melalui berbagai publikasi ternama seperti National Review dan Modern Age.

Banyak orang mungkin mengira bahwa seseorang yang begitu sukses dan berpengaruh dibesarkan dengan segala fasilitas terbaik—dan memang benar, tetapi bukan dalam arti yang kita bayangkan. Kenyataannya, masa kecil Kirk penuh dengan kesederhanaan, yang ditandai oleh empat hal berikut:

1. Keluarga yang Bahagia

“Russell kecil lahir di lingkungan keluarga yang tertata, bahagia dalam pernikahan, murah hati terhadap anak-anaknya, memiliki ikatan keluarga yang erat, dan sadar akan kesinambungan mereka,” tulis Kirk.

Orang tua Kirk bukanlah orang kaya atau berpendidikan tinggi. Ayahnya hanya memiliki pendidikan hingga kelas enam dan menjalani berbagai pekerjaan sebelum akhirnya bekerja di perkeretaapian selama sebagian besar hidupnya. Namun, Kirk menganggap interaksinya dengan keluarganya sebagai salah satu hal terbaik yang mempersiapkannya menghadapi dunia luar yang penuh tantangan.

Kehadiran sang ayah memainkan peran besar dalam persiapan tersebut. “Bijaksana, penuh tanggung jawab, selalu lembut dan berbahasa sopan, ia menghabiskan waktu paling bahagianya berbaring bersama putranya di bawah naungan pohon ek besar di atas kolam penggilingan,” tulis Kirk. 

Betapa kontrasnya ini dengan budaya modern yang menekankan mengejar ketenaran, kekayaan, dan pemenuhan diri! Sang ayah Kirk menunjukkan bahwa salah satu kepuasan terbesar dalam hidup justru datang dari bekerja dengan setia dalam pekerjaan yang biasa-biasa saja untuk menghidupi keluarga, tanpa mengorbankan energi hingga tak bisa lagi menghabiskan waktu berkualitas bersama anak-anak.

2. Interaksi dengan Keluarga Besar

Selain waktu bersama ayahnya, Kirk juga banyak menghabiskan waktu dengan kakek dari pihak ibu, Frank Pierce.

“Pak Pierce tidak memiliki teman sebaya,” tulis Kirk. “Ia berbicara dan berjalan bersama cucunya.” Mereka menjelajahi bukit dan lembah sambil membahas berbagai topik, mulai dari kemajuan peradaban, sejarah Raja Richard II, hingga makna mimpi dan apakah babi bisa memiliki sayap. Namun, lebih dari sekadar percakapan, sang kakek mengajarkan Kirk tentang kebaikan hati dan ketabahan melalui teladan.

Sayangnya, semakin jarang anak-anak memiliki akses rutin ke kakek-nenek atau generasi yang lebih tua. Hilangnya komunitas, kesibukan keluarga, serta meningkatnya tren keterasingan antara orang tua dan anak dewasa turut berkontribusi dalam fenomena ini.

Kakek Kirk memperkenalkannya pada banyak pemikiran mendalam, kebijaksanaan, dan karakter. Pertanyaannya adalah, apakah kita memberi kesempatan bagi anak-anak kita untuk mendapatkan wawasan serupa dari kakek-nenek mereka? Dan bagi para kakek-nenek, apakah kita menggunakan waktu dan pengaruh kita untuk membimbing dan membentuk pemikiran generasi muda? Kebijaksanaan dari generasi sebelumnya sangat berharga.

3. Paparan Membaca yang Rutin

Buku adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Kirk, baik melalui rekomendasi dari kakeknya maupun koleksi yang memenuhi rumah sang kakek. 

Uniknya, Kirk baru mulai membaca sendiri pada usia 7 tahun, karena sebelumnya ibunya sering membacakan buku untuknya—sesuatu yang ia akui sangat membantu memperkaya kosakatanya. Namun, berkat fondasi yang sudah dibangun ibunya, ia bisa belajar membaca hanya dalam dua minggu.

Membaca dengan suara keras memiliki banyak manfaat. Seperti yang dijelaskan dalam artikel NPR yang mewawancarai konsultan literasi anak Keisha Siriboe, “Membaca dengan suara keras dapat membantu seseorang dalam mengelola stres, membangun harapan, dan meningkatkan ketahanan mental.” 

Tanpa disadari, ibu Kirk memanfaatkan manfaat ini. Apakah kita juga melakukannya untuk anak-anak kita? Jika tidak, kita melewatkan momen berharga yang tidak hanya mempererat hubungan, tetapi juga memperkaya pembelajaran dan wawasan anak.

4. Kebebasan untuk Bereksplorasi

Anak-anak zaman sekarang cenderung dibatasi dan diawasi ketat agar mereka tidak mengalami bahaya.

Namun, tidak demikian halnya dengan Kirk. Ia diberi kebebasan untuk bermain dan belajar melalui pengalaman langsung:

“Ia bermain dan berkelahi dengan anak-anak kuat dari Lower Town, menjuluki mereka sebagai ksatria Meja Bundar dan membekali mereka dengan pedang kayu serta baju zirah dari kardus. Di bank kakeknya, ia mengecap endorsement di balik cek dan bahkan… diizinkan masuk ke brankas untuk menumpuk kotak penyimpanan seolah-olah itu adalah balok bangunan.”

Seberapa sering kita membiarkan anak-anak kita bermain bebas dan menggunakan imajinasi mereka? Seberapa sering kita mengizinkan mereka ikut serta dalam aktivitas kita agar mereka secara tidak langsung belajar tentang dunia kerja dan tanggung jawab orang dewasa? Melakukan hal ini akan menanamkan kemandirian dan rasa ingin tahu pada anak-anak kita—sifat-sifat yang akan membantu mereka berani mengambil risiko dan menghadapi tantangan, sesuatu yang mungkin sulit bagi anak-anak zaman sekarang yang terlalu terpaku pada layar gadget.

Kesimpulan

Sebesar apa pun keinginan kita untuk memberikan segalanya kepada anak demi kesuksesan mereka, sering kali justru hal-hal paling sederhana yang memberikan bekal terbaik dalam hidup mereka.

Pertanyaannya adalah, apakah kita mau mengorbankan waktu kita untuk mewujudkan hal-hal sederhana ini? Jika tidak, anak-anak kita mungkin akan kesulitan mengejar ketertinggalan yang mereka alami.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine