Ekonomi Tiongkok yang terus lesu menyebabkan persaingan ketat dalam industri makanan dan minuman. Baru-baru ini, di Yunnan, Guangdong, dan Jiangsu muncul sejumlah “Kafe Kandang Babi” yang menarik banyak anak muda untuk berkunjung dan berfoto. Namun demikian, kualitas “Kafe Kandang Babi” ini dipertanyakan oleh banyak konsumen
EtIndonesia. Laporan dari Hongcan.com, topik tentang “Kafe Kandang Babi” sedang viral di platform media sosial Tiongkok. Di Xiaohongshu, terdapat lebih dari 10.000 postingan terkait “Kafe Kandang Babi”, sementara di Douyin, jumlah penayangan tagar terkait telah melebihi 80 juta kali.
Sebagian besar kafe ini terletak jauh dari pusat kota, berada di pedesaan atau dekat tempat wisata.
Beberapa kafe yang populer, seperti “Kafe Kandang Babi” di Dujiangyan, Chengdu; “Xiaoxiaobai Café” di Yunfu, Guangdong; serta “Xiaozhu Café” di Sanming, Fujian, semuanya dibangun dari kandang babi tua yang telah direnovasi.
Dekorasi kafe ini mengusung konsep pedesaan, dengan penggunaan alat-alat tradisional seperti palung makan, batu giling, dan tampah sebagai hiasan.
Kandang babi yang dulunya usang dan terbengkalai kini disulap menjadi “Starbucks pedesaan”. Konsep yang kontras ini menarik banyak konsumen muda untuk datang dan berfoto.
Produk yang dijual di kafe-kafe ini juga mengusung unsur “babi”. Misalnya, “Xiaoxiaobai Café” menamai kopi Americano mereka sebagai “Kopi Kotoran Babi”.
Di “Jiuge Pigpen Café”, sebagian besar menu diberi nama dengan kata “Zhuzhu” (babi). Sementara itu, “Pigpen Waterfall Café” di Kunshan menghias kopi latte mereka dengan gambar babi dalam seni latte art.
Beberapa kafe juga menawarkan layanan interaksi dengan babi mini. Misalnya, “Kafe Kandang Babi” di Lijiang dan “Kafe Kandang Babi” di Nanjing yang memelihara beberapa babi kecil untuk berinteraksi dengan pelanggan.
Meskipun mengusung konsep unik, harga produk di kafe-kafe ini tidaklah murah. Rata-rata pengunjung harus mengeluarkan sekitar RMB.35 (sekitar Rp77.000) per orang. Namun, kualitas produk dan pengalaman pelanggan banyak dipertanyakan.
Di Xiaohongshu, seorang pelanggan menulis bahwa meskipun dekorasi kafe ini menarik untuk difoto, pengalaman yang diberikan sangat mengecewakan.
“Daripada fokus pada dekorasi agar pelanggan bisa berfoto untuk media sosial, lebih baik meningkatkan kualitas produk,” tulisnya.
Di aplikasi Meituan, ada juga keluhan tentang pelayanan yang buruk, serta kurangnya area khusus merokok, yang membuat pelanggan harus menghirup asap rokok.
Banyak netizen yang sepakat dengan kritik ini. Ada yang mengatakan bahwa “Kafe Kandang Babi hanya bagus untuk berfoto, tetapi produk mereka biasa saja dan tidak sebanding dengan harganya. Dengan RMB.30 lebih, saya bisa membeli secangkir Starbucks.”
Beberapa pelanggan juga mengeluhkan lokasi kafe yang terlalu terpencil. “Saya berkendara satu jam untuk ke sini, tempatnya terlalu jauh, dan kopi Americano seharga RMB.28 adalah yang terburuk yang pernah saya minum,” tulis seorang pelanggan.
Lebih ekstrem lagi, ada yang mengeluh tentang bau tak sedap. “Bau kandang babi sesekali tercium, saya minum kopi sambil menahan rasa mual…”
Selain permasalahan kualitas, banyak “Kafe Kandang Babi” juga menghadapi masalah ketidakstabilan jumlah pengunjung dan kurangnya pelanggan tetap. Menurut pemilik “Kafe Kandang Babi” di Nanjing, jumlah pelanggan meningkat pada akhir pekan dan hari libur, dengan kelompok pendaki gunung, pejalan kaki, dan keluarga sebagai pelanggan utama.
Karena semakin banyak pengusaha yang mencoba peruntungan di sektor “kafe pedesaan”, persaingan dalam bisnis ini menjadi sangat ketat.
Pemilik “Universe is a Granary” di Anhui, Xiao Zhao, mengatakan kepada GQ Life bahwa dalam setahun terakhir, lebih dari 60 kafe baru dibuka di desanya. Namun, dalam beberapa bulan, banyak yang tutup dan digantikan oleh yang baru.
Di tengah kondisi ekonomi Tiongkok yang lesu dan persaingan ketat dalam industri kuliner, banyak yang meragukan apakah tren “Kafe Kandang Babi” ini dapat bertahan lama.
Sebelumnya, Hongcan.com melaporkan bahwa pada tahun 2024, hampir 3 juta restoran tutup, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Bisnis yang terdampak mencakup berbagai kategori, seperti restoran biasa, minuman teh, kopi, toko roti, hot pot, makanan penutup, prasmanan, makanan cepat saji, bar, dan tempat BBQ.
Menurut data, dari minggu terakhir Januari 2025 hingga saat ini, setidaknya 40 merek telah menutup 41 gerai. Industri restoran adalah yang paling terdampak, dengan 21 gerai tutup, termasuk 7 kafe, 3 toko minuman teh, dan 2 toko roti.
Data dari Hongcan menunjukkan bahwa hingga Desember 2024, ada 103.000 gerai toko roti baru, tetapi 95.000 di antaranya tutup dalam periode November 2023 hingga November 2024. Selain itu, lebih dari 300.000 restoran hot pot dan 197.000 gerai minuman teh juga gulung tikar. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


