EtIndonesia. Pada 4 Maret 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikkan tarif tambahan sebesar 10% menjadi 20% pada barang impor dari Tiongkok. Langkah ini bertujuan untuk menghukum Partai Komunis Tiongkok (PKT) karena gagal mengambil tindakan untuk menghentikan masuknya fentanyl ke Amerika Serikat. Ini adalah kedua kalinya pemerintahan Trump melakukan kenaikan tarif sejak ia kembali ke Gedung Putih.
Namun, seberapa beracun sebenarnya fentanil? Seberapa besar dampaknya terhadap AS? Dan mengapa pemerintahan Trump menuntut pertanggungjawaban dari PKT?
Fentanil adalah obat opioid sintetis yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit dan anestesi dalam operasi. Obat ini memiliki biaya produksi yang rendah, tetapi sangat mudah menyebabkan ketergantungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, fentanil sering dicampurkan ke dalam obat resep palsu yang dijual ke masyarakat.

Fentanil memiliki tingkat toksisitas yang sangat tinggi, sehingga konsumsi berlebihan dapat menyebabkan kematian.
Untuk memahami seberapa beracunnya, mari kita lihat perbandingan berikut:
- Fentanil 50 hingga 100 kali lebih kuat daripada morfin.
- Fentanil 50 kali lebih kuat daripada heroin.
- Hanya 2 miligram (seukuran beberapa butir garam) sudah cukup untuk menyebabkan kegagalan pernapasan dan kematian.
Menurut data resmi AS, fentanil kini menjadi penyebab utama kematian bagi warga AS berusia 18 hingga 45 tahun. Sekitar 70% dari total kematian akibat overdosis obat di AS disebabkan oleh fentanil.
Selama lebih dari 10 tahun terakhir, krisis ini semakin memburuk.
Mari kita lihat data statistik:
- Pada tahun 2011, sekitar 2.600 orang meninggal akibat overdosis opioid sintetis ilegal, terutama fentanil.
- Pada tahun 2016, jumlah ini melonjak lebih dari tujuh kali lipat, mencapai 19.413 kematian.
- Pada tahun 2021, angka ini meningkat drastis menjadi lebih dari 70.000 kematian, 26 kali lipat dibandingkan 10 tahun sebelumnya.
- Jumlah ini terus meningkat hingga saat ini.
Beberapa kasus berikut menunjukkan betapa seriusnya krisis fentanil di AS:
- Tahun 2016 – Di Sacramento, California, dalam waktu dua minggu, terjadi 52 kasus overdosis akibat fentanil, 12 di antaranya meninggal dunia.
- 13 September 2022 – Seorang siswi 15 tahun di Los Angeles County, meninggal di dalam sekolah setelah mengonsumsi pil yang mengandung fentanil.
- Tahun 2022 – San Francisco melaporkan 620 kasus kematian akibat overdosis, di mana 72% terkait dengan fentanil.
Menurut Anne Milgram, mantan Kepala Badan Narkotika AS (DEA), Amerika sedang menghadapi krisis narkoba paling berbahaya dan paling mematikan dalam sejarahnya.
Pemerintah AS dan berbagai lembaga penelitian menunjukkan bahwa fentanil dan bahan bakunya sebagian besar berasal dari Tiongkok.
Biasanya, zat ini diselundupkan ke Amerika Utara melalui kontainer pelabuhan, terutama ke Meksiko. Di sana, kartel narkoba memproses bahan mentah menjadi fentanil siap edar, lalu menyelundupkannya ke Amerika Serikat.
Pada tahun 2023, Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS menyita lebih dari 28.000 pon fentanil, meningkat lebih dari 30% dibandingkan tahun 2022.
Tahun lalu, think tank Washington, The Heritage Foundation, merilis laporan yang menyatakan bahwa PKT secara aktif mendanai, mendukung, dan mendorong penyebaran fentanil ke AS.
Pada April 2024, Komite Khusus DPR AS untuk Persaingan Strategis AS-Tiongkok mengeluarkan laporan investigasi yang menuduh PKT memainkan peran utama dalam “perang narkoba” melawan AS melalui cara-cara berikut:
- Memberikan subsidi untuk produksi bahan kimia ilegal yang digunakan dalam pembuatan fentanil dan narkoba sintetis lainnya.
- Menetapkan insentif pajak untuk ekspor fentanil. Pada tahun 2020, PKT meningkatkan insentif pajak ekspor menjadi 13%, tingkat tertinggi saat itu.
- Mengizinkan penjualan bahan baku fentanil secara terbuka di internet, meskipun internet di Tiongkok dikontrol secara ketat oleh pemerintah.
Laporan ini menyimpulkan bahwa setiap hari, hampir 200 warga AS meninggal akibat overdosis fentanil. Ini bukan hanya masalah kesehatan masyarakat, tetapi juga merupakan serangan terhadap stabilitas sosial, politik, dan ekonomi AS.
Fentanil kini menjadi senjata PKT untuk melemahkan kekuatan AS. Jika pemerintah AS gagal menghentikan “perang narkoba” yang didorong oleh PKT, maka dalam beberapa tahun ke depan, ratusan ribu hingga jutaan orang Amerika bisa kehilangan nyawa mereka. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


