- AS akan menerapkan tarif global 10 Persen, tarif lebih tinggi untuk negara dengan tingginya hambatan perdagangan
- “Selama beberapa dekade, negara kita telah dijarah, dirampok, diperkosa, dan dihancurkan oleh negara-negara di dekat maupun jauh, baik teman maupun musuh,” kata Trump.
EtIndonesia. Amerika Serikat akan menerapkan tarif 10 persen secara menyeluruh terhadap semua impor sebagai bagian dari kebijakan tarif timbal balik atau resiprokal pemerintahan Trump terhadap semua negara.
Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif timbal balik besar-besaran di Rose Garden, Gedung Putih, pada 2 April, menyebutnya sebagai “deklarasi kemerdekaan ekonomi” Amerika Serikat dan salah satu hari terpenting dalam sejarah negara itu. Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif untuk menjalankan kebijakan ini setelah pengumuman tersebut.
Tarif Timbal Balik dan Negara yang Terdampak
“Timbal balik. Itu berarti mereka melakukannya kepada kita, dan kita melakukannya kepada mereka. Sangat sederhana. Tidak bisa lebih sederhana dari itu,” kata Trump.
Amerika Serikat akan menerapkan tarif dasar sebesar 10 persen yang akan berlaku pada 5 April pukul 12:01 pagi. Tarif yang lebih tinggi akan dikenakan terhadap negara-negara yang masuk dalam daftar “pelanggar terburuk,” yang mulai berlaku pada 9 April pukul 12:01 pagi.
Daftar ini mencakup tarif tambahan 34 persen terhadap Tiongkok, di atas tarif 20 persen yang sudah ada, sehingga total beban tarif pada barang-barang Tiongkok menjadi 54 persen. Uni Eropa akan dikenakan tarif 20 persen, sedangkan Vietnam menghadapi tarif 46 persen.

Tarif ini akan diberlakukan melalui Undang-Undang Kewenangan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA), sebuah undang-undang tahun 1977 yang memberi wewenang kepada presiden untuk memberlakukan pembatasan perdagangan terhadap negara asing. Trump sebelumnya telah menggunakan undang-undang ini pada Februari untuk mengenakan tarif terhadap Kanada, Meksiko, dan Tiongkok dengan alasan ancaman perdagangan narkoba ilegal dan imigrasi gelap.

Pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa praktik perdagangan yang tidak adil dan kurangnya timbal balik dari mitra dagang AS telah menyebabkan defisit perdagangan besar-besaran, yang “melemahkan keamanan nasional dan ekonomi kita.” Tahun lalu, AS mencatat defisit perdagangan barang sebesar $1,2 triliun, yang merupakan rekor tertinggi.
Hambatan Non-Tarif dan Praktik Perdagangan yang Dipertanyakan
Selain tarif tinggi, pejabat Gedung Putih menyoroti hambatan non-tarif yang digunakan oleh negara lain. Tiongkok, misalnya, menghindari tarif dengan menggunakan strategi “keluar” melalui negara ketiga seperti Kamboja, Indonesia, Thailand, dan Vietnam.
“Masalah dengan Vietnam bukan tarif mereka,” kata seorang pejabat Gedung Putih dalam konferensi pers sebelum acara “Make America Wealthy Again” Trump. “Masalahnya adalah semua hal lain yang mereka lakukan, termasuk menjadi tempat produksi bagi Tiongkok untuk mengirim barang ke AS.”
Sedangkan Israel mengumumkan akan menghapus tarif terhadap barang AS, disebut masih terlibat dalam pencurian kekayaan intelektual dalam industri farmasi AS.
Pejabat juga menyebut beberapa negara yang membatasi ekspor pertanian AS. Brasil mewajibkan lisensi impor untuk produk pertanian. Australia melarang daging sapi AS, dan Meksiko membatasi jumlah yang bisa masuk ke negara itu.
Secara keseluruhan, pemerintahan Trump menyatakan bahwa presiden ingin “mengejar perdagangan timbal balik bersama.”
“Ini adalah langkah untuk membawa kembali manufaktur ke AS,” kata seorang pejabat. “Petani kita bisa mendapatkan perlakuan yang adil di negara lain.”
Reaksi Pasar
Meskipun pasar saham AS ditutup dalam zona positif pada 2 April, pasar keuangan merosot dalam perdagangan setelah jam kerja setelah rincian tarif diumumkan oleh Trump.
- Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi anjlok sekitar 500 poin (-2,5%).
- S&P 500 turun hampir 90 poin (-1,5%).
- Dow Jones Industrial Average turun sekitar 200 poin (-0,5%).
- Imbal hasil obligasi pemerintah AS bervariasi, dengan obligasi 10 tahun berada di sekitar 4,14%.
- Indeks dolar AS, yang mengukur nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang, turun 0,25%.
‘The Big One’
Trump pertama kali menyebut kebijakan tarif timbal balik besar-besaran ini pada Februari, mempersiapkan publik melalui platform media sosial Truth Social untuk apa yang ia sebut sebagai “The Big One.”
Dalam acara pers dari Kantor Oval, Trump menandatangani memorandum yang disebut “Rencana Adil dan Timbal Balik.” Memorandum ini menetapkan peta jalan untuk menerapkan tarif timbal balik terhadap semua negara yang mengenakan bea impor terhadap Amerika Serikat.
Menurut data dari Perwakilan Dagang AS, Amerika Serikat mempertahankan tarif impor rata-rata tertimbang sekitar 2 persen.
Trump juga memerintahkan pejabat untuk membuat laporan yang menentukan tingkat tarif yang sesuai untuk setiap negara yang terdampak.
Dampak dan Reaksi Internasional
Perwakilan Dagang AS merilis Laporan Perkiraan Perdagangan Nasional 2025, sebuah kajian menyeluruh mengenai hambatan perdagangan yang diterapkan oleh mitra dagang AS serta tantangan yang dihadapi ekspor AS.
Sejak pengumuman Februari, Gedung Putih memberikan sinyal yang beragam terkait rencana tarif presiden.
Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat menargetkan negara-negara dengan defisit perdagangan yang terus-menerus, yang disebut sebagai “dirty 15″—yakni 15 persen negara yang memiliki perdagangan signifikan dengan AS namun mencatatkan defisit besar.
“Menjelang 2 April, beberapa mitra dagang kita yang paling buruk dalam hal perlakuan terhadap AS sudah datang kepada Presiden Trump menawarkan pengurangan besar dalam tarif mereka yang sangat tidak adil,” kata Bessent dalam wawancara dengan Maria Bartiromo di Fox News pada 18 Maret.
Bessent mencatat bahwa beberapa tarif mungkin tidak akan diberlakukan karena adanya perjanjian yang sudah dinegosiasikan sebelumnya. Ia juga mengatakan bahwa beberapa negara akan berdiskusi untuk menurunkan tarif mereka setelah mengetahui jumlah tarif timbal balik yang dikenakan AS.
Beberapa negara telah merespons kebijakan ini:
- India mengindikasikan kesediaan untuk menurunkan tarif pada setengah dari impor AS.
- Vietnam menurunkan bea masuk terhadap berbagai produk AS.
- Israel mengonfirmasi akan menghapus sisa tarif terhadap barang-barang AS.
Trump kemudian mengonfirmasi bahwa tarif timbal balik akan berlaku untuk semua negara, meskipun ia mungkin akan memberikan beberapa kelonggaran.
“Saya mungkin memberi banyak negara keringanan,” katanya kepada wartawan dalam konferensi pers, menunjukkan bahwa beberapa negara telah mengenakan tarif yang sangat tinggi terhadap AS sehingga mereka mungkin tidak akan sanggup menanggung tarif yang lebih besar.
“Saya rasa mereka tidak akan mampu menanggungnya,” kata Trump. “Dengan kata lain, mereka telah mengenakan tarif begitu tinggi kepada kita sehingga saya merasa malu untuk mengenakan tarif yang sama kepada mereka.”
Ketakutan akan Resesi dan Inflasi
Selama beberapa minggu terakhir, kekhawatiran terhadap resesi dan inflasi telah mengguncang Wall Street dan Main Street.
Pasar saham AS mengalami penurunan akibat ketidakpastian terkait tarif, sentimen konsumen memburuk, dan ekspektasi akan perlambatan ekonomi serta kenaikan harga semakin meningkat.
Namun, Trump dan pejabat pemerintahannya sebagian besar menepis kekhawatiran akan inflasi dan resesi.
“Saya sama sekali tidak melihat ada resesi,” katanya kepada wartawan dalam sebuah acara di Gedung Putih bulan lalu. “Saya pikir negara ini akan mengalami ledakan ekonomi. Saya pikir kita akan memiliki pasar terbaik yang pernah ada.”
Menteri Perdagangan Howard Lutnick juga menegaskan dalam acara “Meet the Press” di NBC bahwa masyarakat Amerika tidak perlu bersiap menghadapi resesi.
“Tidak akan ada resesi di Amerika. Tarif global akan turun karena Presiden Trump telah mengatakan: ‘Kalau kalian mengenakan tarif 100 persen kepada kami, kami akan mengenakan 100 persen kepada kalian,'” kata Lutnick.
“Jadi, jika Donald Trump membawa pertumbuhan ekonomi ke Amerika, saya tidak akan pernah bertaruh pada resesi—tidak ada kemungkinan.”
Mengenai harga, Bessent menyatakan bahwa mungkin akan ada penyesuaian satu kali, tetapi ia tidak khawatir terhadap inflasi dalam jangka panjang.
Lutnick memperkirakan akan ada “distorsi” di pasar global ketika tarif mulai diberlakukan.
“Barang-barang impor mungkin menjadi sedikit lebih mahal. Tetapi barang-barang buatan Amerika akan menjadi lebih murah, dan dengan membeli produk dalam negeri, Anda akan membantu masyarakat Amerika,” katanya.
Para pengamat ekonomi masih menunggu kejelasan lebih lanjut sejak rencana tarif timbal balik ini diumumkan.
“Sekarang kita menunggu kejelasan dan berharap kita bisa mendapatkannya terkait tarif,” kata Jay Woods, Kepala Strategi Global di Freedom Capital Markets, dalam catatannya kepada The Epoch Times.
“Kurangnya kepastian dan kerahasiaan seputar kebijakan ini telah membuat pasar menjadi gila.”
Sumber : Theepochtimes.com


