EtIndonesia. Dalam insiden yang menggemparkan, sebuah keluarga bangsawan ternama di Gaza dilaporkan mengeksekusi mati seorang anggota bersenjata Hamas di tengah jalan, pada siang hari bolong. Aksi brutal ini dipicu oleh kemarahan atas terbunuhnya salah satu anggota keluarga mereka, Abdulrahman Sha’aban AbuSamra, saat sedang mengantre membeli tepung di wilayah Deir al-Balah.
Menurut laporan, eksekusi itu dilakukan karena pria bersenjata Hamas tersebut menolak menjalankan perintah yang diberikan oleh kelompoknya. Video eksekusi itu kini beredar luas di media sosial, memperlihatkan beberapa pria bersenjata lengkap menggiring seseorang yang diduga anggota Hamas ke tengah jalan, lalu menembaknya dari jarak dekat hingga tewas di tempat.
Seorang anggota keluarga AbuSamra, yang dikenal sebagai salah satu keluarga paling berpengaruh di wilayah tengah Gaza, mengonfirmasi bahwa pria yang dieksekusi tersebut memang anggota Hamas dan dianggap bertanggung jawab atas kematian Abdulrahman.
Di Gaza, terdapat puluhan keluarga kuat seperti AbuSamra yang membentuk jaringan bersenjata terorganisir, namun tidak memiliki hubungan resmi dengan Hamas. Meskipun tidak dikelola secara militer seperti Hamas, banyak anggota keluarga ini memiliki senjata dan loyalitas keluarga yang kuat, menjadikan mereka kekuatan yang tidak bisa diremehkan.
Kemarahan Rakyat Palestina Terhadap Hamas Semakin Memuncak
Para analis menilai bahwa insiden eksekusi oleh keluarga AbuSamra ini menjadi bukti bahwa kemarahan warga sipil Palestina terhadap Hamas semakin tidak terbendung. Abdulrahman bukanlah satu-satunya warga sipil yang tewas di tangan Hamas belakangan ini.
Sebelumnya, seorang pemuda berusia 22 tahun bernama Oday Nasser Rabay juga dilaporkan tewas secara tragis setelah mengalami penyiksaan brutal. Belum jelas alasan Hamas menculik dan menyiksa Oday hingga meninggal dunia. Namun, menurut keterangan keluarga, ketika mereka dihubungi oleh Hamas untuk menjemput Oday, pemuda itu dalam kondisi disiksa secara kejam. Kakaknya, Hassan, menyaksikan langsung bagaimana anggota Hamas “mengikat lehernya dengan tali, menyeretnya, dan memukulinya.” Oday kemudian dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.
Wilayah Gaza yang tengah hancur karena perang kini juga diguncang oleh gelombang unjuk rasa. Beberapa waktu terakhir, warga Gaza turun ke jalan menyuarakan penderitaan yang mereka alami akibat kekuasaan Hamas.
Pekan lalu, ribuan warga Palestina berdemonstrasi di wilayah utara Gaza, menuntut diakhirinya konflik dengan Israel. Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan warga melambaikan bendera putih sambil meneriakkan slogan seperti “Hentikan perang!” dan “Hamas keluar!”.
Perlu dicatat bahwa selama ini protes terhadap Hamas sangat jarang terjadi di Gaza, karena tekanan dan represi yang sangat ketat dari kelompok tersebut.
Serangan Israel dan Tekanan Ekstrem Terhadap Warga Gaza
Sementara itu, Israel terus melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Gaza yang mereka klaim sebagai “tahap akhir penghancuran dan pembersihan.” Serangan ini semakin memperburuk kondisi kehidupan rakyat Palestina yang sebelumnya sudah sangat memprihatinkan, dan diyakini menjadi salah satu alasan utama munculnya keberanian rakyat untuk angkat suara melawan Hamas.Serangan terbaru Israel dimulai pada 18 Maret lalu, tak lama setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa “tekanan militer adalah cara terbaik untuk menyelamatkan para sandera yang tersisa.” Akibatnya, warga Gaza kembali dipaksa meninggalkan rumah mereka, menjadikan pengungsian sebagai bagian dari rutinitas hidup yang memilukan.(jhn/yn)


