Sebuah kecelakaan tragis baru-baru ini mengguncang masyarakat Tiongkok. Sebuah mobil listrik Xiaomi SU7, yang diklaim memiliki “keamanan setara anti-peluru”, terbakar setelah menabrak pembatas jalan di jalan tol. Pintu mobil terkunci otomatis, membuat tiga mahasiswi yang berada di dalamnya terjebak dan akhirnya tewas mengenaskan. Tragedi ini tidak hanya merenggut nyawa anak muda, tetapi juga menimbulkan keraguan besar terhadap keamanan mobil listrik buatan Tiongkok.
EtIndonesia. Kecelakaan terjadi pada tengah malam, 29 Maret 2025, di jalan tol De-Shang, provinsi Anhui, Tiongkok. Berdasarkan rekaman video dan foto di tempat kejadian, Xiaomi SU7 versi standar menabrak pembatas beton di tengah jalan. Beberapa detik kemudian, mobil langsung terbakar dan meledak, menyebabkan bagian depan kendaraan hancur total, sementara rangka mobil berubah menjadi besi hitam hangus.
Saksi mata mengatakan bahwa api menyebar sangat cepat, sehingga ketika tim penyelamat tiba, sudah tidak ada yang bisa dilakukan. Yang paling mengkhawatirkan adalah laporan dari keluarga korban, yang mengungkapkan bahwa pintu mobil langsung terkunci setelah benturan, membuat para penumpang tidak bisa keluar, hingga akhirnya tewas dalam kobaran api.
Menurut pernyataan resmi dari Xiaomi di platform media sosial Weibo, mobil berada dalam mode NOA (Navigasi Otomatis) saat kecelakaan terjadi, dengan kecepatan 116 km/jam. Ketika sistem mendeteksi adanya pekerjaan konstruksi di depan, mobil memberikan peringatan dan mulai memperlambat laju. Namun, pada kecepatan 97 km/jam, mobil tetap menabrak pembatas dan langsung terbakar.
Kasus ini menimbulkan sejumlah pertanyaan serius:
- Mengapa mobil yang diklaim memiliki standar keselamatan tinggi gagal melindungi penumpang?
- Mengapa baterai menjadi pemicu ledakan mematikan?
- Mengapa pintu mobil terkunci setelah kecelakaan, membuat penumpang tidak bisa menyelamatkan diri?
- Mengapa Xiaomi tidak menyediakan mekanisme pembukaan pintu darurat secara manual?
Seorang netizen berkomentar, “Keamanan adalah kemewahan terbesar. Teknologi secanggih apapun tidak bisa mengorbankan nyawa manusia.”
Di tengah kecaman publik, harga saham Xiaomi anjlok lebih dari 5% pada 1 April. CEO Xiaomi, Lei Jun, yang sempat diam selama tiga hari, akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi, menyatakan belasungkawa kepada keluarga korban dan berjanji akan bekerja sama dalam penyelidikan.
Sejak pertama kali diperkenalkan, Xiaomi SU7 sudah menuai kontroversi, terutama karena dituduh meniru desain Porsche. Alih-alih membantah, Xiaomi justru mengklaim bahwa desainnya merupakan “penghormatan terhadap legenda”.
Terkait tuduhan tersebut, Presiden Porsche Tiongkok memberikan tanggapan yang penuh sindiran: “Jika Xiaomi SU7 mirip dengan Porsche, mungkin ini karena desain yang bagus memang memiliki keajaiban tersendiri.”
Komentar ini dianggap oleh netizen sebagai tamparan keras bagi Xiaomi.
Kecelakaan ini tidak hanya menjadi krisis bagi Xiaomi, tetapi juga peringatan keras bagi industri mobil listrik Tiongkok. Dengan dukungan besar-besaran dari pemerintah, banyak perusahaan mobil listrik berlomba-lomba meluncurkan produk tanpa memperhatikan aspek keselamatan.
Lebih buruk lagi, banyak teknologi yang digunakan dalam mobil listrik ini berasal dari pencurian atau penjiplakan teknologi Barat, tanpa adanya inovasi nyata. Demi menekan biaya produksi dan memaksimalkan keuntungan, aspek keselamatan sering diabaikan.
Bagi konsumen di Tiongkok, tragedi ini juga menjadi pengingat untuk tidak mudah terbuai oleh teknologi dan desain keren. Pada akhirnya, keselamatan jauh lebih penting daripada tampilan yang menarik.
Kini, Xiaomi menghadapi pilihan besar:
- Menutupi insiden ini dengan strategi PR, atau
- Mengakui kesalahan dan memperbaiki standar keselamatan produknya.
Jawaban atas pertanyaan ini akan segera terlihat dalam waktu dekat.
Jiang Guangyu, New Tang Dynasty Television, Laporan Terpadu


