Ekonomi Sedang Buruk, Anak Muda Menganggur,  PKT Tiba-tiba Berbicara tentang Partai yang Memimpin “Gerakan Pemuda”

Dampak perang tarif antara AS dan Tiongkok terhadap ekonomi dan lapangan kerja di Tiongkok terus bermunculan. Baru-baru ini, media partai Partai Komunis Tiongkok (PKT) mulai membahas besar-besaran soal kepemimpinan partai dalam “gerakan pemuda”. Analisis menilai, PKT khawatir akan munculnya gejolak sosial, sehingga memperketat pengendalian sosial dan kontrol terhadap kaum muda.

EtIndonesia. Dalam perang tarif ini, Amerika Serikat mengenakan bea masuk terhadap barang impor dari Tiongkok hingga 245%. Pada tahun 2024, nilai ekspor dari pasar Yiwu di Zhejiang ke pasar AS mencapai RMB.83,57 miliar . Namun setelah perang tarif dimulai, meski harga barang didiskon besar-besaran, banyak pelanggan Amerika tetap membatalkan pesanan.

 “Barang-barang kecil dari pasar Yiwu mendominasi sebagian besar perdagangan dengan Amerika. Tapi sekarang semuanya berhenti. Barang-barang seperti mainan kecil dan kerajinan tangan dari Yiwu sudah tidak dibutuhkan lagi, semua pesanan dibatalkan. Jadi, Yiwu sekarang juga mati suri,” ujar Gu Guoping, pensiunan dosen dari Universitas Teknik dan Rekayasa Shanghai. 

Kemerosotan ekonomi Tiongkok mengakibatkan banyak pemuda kehilangan pekerjaan. Pada 25 April, media resmi PKT, People’s Daily, tiba-tiba menerbitkan artikel yang membahas tentang “gerakan pemuda di bawah kepemimpinan partai” dan “pengelolaan pemuda oleh partai”. Artikel itu menyerukan seluruh partai untuk “menggalang, mengorganisir, dan menggerakkan kaum muda seluas mungkin”.

Gu Guoping berkomentar:  “Ini seperti saat Revolusi Kertas Kosong. Kalau kamu membuat orang tidak bisa hidup dengan layak, pasti akhirnya mereka akan melawan. PKT sangat ketakutan, jadi mereka sekarang ingin memperketat kontrol terhadap kaum muda, mengorganisir mereka agar bertindak seragam.”

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa di bawah pemerintahan PKT, rakyat tidak bisa bebas mengutarakan pendapat. Kaum muda, dengan pemikiran yang paling aktif, membawa semangat perubahan. PKT khawatir kondisi ekonomi yang buruk bisa memicu gerakan baru seperti Revolusi Kertas Putih, sehingga mereka meningkatkan pengawasan.


“Kalau konsumen berkumpul membentuk kelompok atau organisasi kecil saja, itu sudah cukup membuat mereka (PKT) ketakutan. Bahkan di internet, berbicara saja tidak diizinkan. Larangan berbicara ini justru menunjukkan mereka penuh ketakutan!,” ujar pengacara dari daratan Tiongkok, Mr. Sheng. 

Selain memperketat pengawasan terhadap kaum muda, konsumsi masyarakat umum juga menurun drastis. Meskipun PKT belakangan ini menggerakkan perusahaan untuk mengalihkan produk ekspor ke pasar domestik dan menekankan perluasan konsumsi dalam negeri, data  Maret menunjukkan hasil yang suram: penjualan ritel barang konsumsi di Beijing turun hampir 10% dibanding tahun sebelumnya, sedangkan di Shanghai anjlok lebih parah hingga 14,1%, menandakan lemahnya permintaan domestik, dan masyarakat semakin berhati-hati mengeluarkan uang.


“(Upaya mendorong konsumsi domestik) kurang efektif. Karena mentalitas orang Tiongkok itu, begitu melihat situasi ekonomi memburuk, mereka pasti langsung mengerem pengeluaran,” kata seorang warga Beijing, Mr. Peng. 

Mr. Sheng menambahkan:  “Bulan lalu saya tidak menangani satu kasus pun. Keadaan sungguh sepi. Orang-orang yang datang kepada saya pun banyak yang tidak punya uang untuk membayar biaya perkara.”

Laporan oleh wartawan NTDTV Li Shanshan, Xie Xinjie, dan Gao Yu

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine