Pada Jumat (2 Mei), Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal berbicara di parlemen Ukraina dan mendesak para anggota parlemen untuk segera meratifikasi perjanjian yang baru-baru ini ditandatangani dengan Amerika Serikat. Perjanjian ini bertujuan untuk memperoleh bantuan menyeluruh dari AS guna meningkatkan pertahanan dan keamanan nasional Ukraina.
EtIndonesia. Pada Kamis (1 Mei) malam, serangan drone Rusia menghantam wilayah Zaporizhzhia di Ukraina, menyebabkan kebakaran pada beberapa bangunan dan melukai 29 orang, termasuk seorang anak.
Pada Jumat, pejabat Ukraina menyatakan bahwa parlemen Ukraina akan mengadakan pemungutan suara pada 8 Mei untuk meratifikasi perjanjian pertambangan dengan Amerika Serikat. Sekitar satu hingga satu setengah bulan setelahnya, Ukraina akan memulai pembentukan Dana Investasi Rekonstruksi Nasional.
Perdana Menteri Shmyhal menyampaikan bahwa perjanjian ini telah mendapat dukungan dari sekutu-sekutu Eropa. Selain pendanaan, AS juga kemungkinan akan memberikan bantuan senjata dan sistem pertahanan udara di masa mendatang.
“Perjanjian ini jelas akan menjadi dasar untuk membangun hubungan baru dengan Amerika Serikat. Kami sangat membutuhkan hubungan ini, baik untuk mempertahankan kedaulatan kami selama perang maupun untuk membangun kembali negara kami setelah perang berakhir,” kata Denys Shmyhal.
Juru bicara Komisi Eropa, Paula Pinho, menyatakan bahwa mereka menyambut baik perjanjian tersebut dan menekankan bahwa isi perjanjian telah mempertimbangkan proses keanggotaan Ukraina di Uni Eropa dan kesesuaiannya dengan hukum UE, yang dinilai sangat penting.
Sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa perjanjian ini tidak hanya mencakup eksplorasi mineral penting, tetapi juga berdampak besar dalam memperkuat keamanan nasional Ukraina.
“Ketika kalian memiliki mitra seperti Amerika Serikat, dan kita bekerja sama dengan negara kalian, maka ini akan menciptakan keamanan nasional yang lebih kuat bagi semua pihak. Dan tentu saja, keuntungan dari kerja sama ini akan diinvestasikan kembali ke Ukraina untuk rekonstruksi, yang memang sangat diperlukan,” kata Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tamie Bruce.
Wakil Presiden AS, J.D. Vance, dalam wawancara Kamis (1 Mei), menyampaikan bahwa perang di Ukraina tidak akan segera berakhir. Ia menyebut fokus AS akan beralih dari mediasi ke dorongan untuk kontak langsung antara Kyiv dan Moskow, demi tercapainya kesepakatan gencatan senjata. (Hui)
Laporan oleh Yu Liang, New Tang Dynasty Television


