EtIndonesia. Agresi militer Rusia terhadap Ukraina telah membuka mata negara-negara Eropa terhadap ambisi dan ancaman nyata dari Moskow. Kini, banyak negara di Eropa bersumpah akan membela diri mereka sendiri — bahkan jika itu berarti harus menghadapi konfrontasi langsung dengan Rusia. Belanda baru-baru ini mengeluarkan peringatan serius: Amsterdam tengah mempersiapkan diri untuk kemungkinan konflik bersenjata dengan Moskow.
Akun X (sebelumnya Twitter) “NEXTA” pada hari ini (9 Mei) mengunggah pernyataan dari Pieter Reesink, Kepala Dinas Intelijen Militer Belanda sekaligus Laksamana Muda Angkatan Laut. Dia menyatakan bahwa Rusia secara terus-menerus memperkuat kekuatan militernya, sebuah tanda bahwa negara itu sedang bersiap untuk perang di masa depan — dan bukan hanya terhadap Ukraina.
Reesink mengungkapkan bahwa anggaran pertahanan Rusia pada tahun 2024 melonjak drastis menjadi 149 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.400 triliun), naik 38% dibandingkan tahun lalu dan dua kali lipat dari anggaran pada tahun 2015.
Lebih lanjut, Reesink menuduh bahwa Rusia, dengan bantuan dari pihak asing, telah memproduksi artileri dalam jumlah yang jauh melebihi kebutuhan untuk perang di Ukraina. Dia memperingatkan bahwa Moskow tak hanya tengah mengisi kembali persediaan senjatanya, tetapi juga memindahkan kekuatan militernya ke wilayah yang lebih dekat ke perbatasan NATO, termasuk ke negara-negara Baltik dan Finlandia.
Menurut Reesink, jika produksi senjata Rusia terus berlanjut dan semangat tempur Kremlin tetap tinggi, maka dalam waktu satu tahun Rusia akan siap menghadapi perang berikutnya.
Reesink menambahkan bahwa Belanda, seperti negara-negara anggota NATO lainnya, kini sedang berada dalam tahap memperkuat kesiapan militernya. Kementerian Pertahanan Belanda juga mengumumkan bahwa Belanda dan Rumania akan bersama-sama mendirikan pusat pelatihan teknisi pemeliharaan pesawat tempur F-16 untuk Ukraina.
Namun, tidak semua negara Eropa bersikap tegas terhadap Rusia. Akun X “NOELREPORTS” melaporkan bahwa Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orbán dan Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico telah mengkritik rencana Komisi Eropa untuk menghentikan impor gas alam dari Rusia.
Orbán memperingatkan bahwa rencana tersebut akan membawa kehancuran ekonomi bagi Eropa dan menambah beban berat bagi keluarga-keluarga di Eropa Tengah. Dia juga menegaskan bahwa Hongaria tidak akan memberikan dana apa pun untuk mendukung keanggotaan Ukraina di Uni Eropa.
Di sisi lain, Lituania telah mengambil langkah drastis demi melindungi negaranya, yaitu dengan resmi keluar dari Konvensi Internasional tentang Pelarangan Ranjau Anti-Personel (Anti-Personnel Mine Ban Convention). Sama seperti Latvia, Polandia, Finlandia, dan Estonia, Lituania ingin mempertahankan hak untuk menggunakan ranjau demi melindungi perbatasan nasionalnya jika diperlukan.(jhn/yn)


