EtIndonesia. Situasi di Jalur Gaza kian memburuk setelah Israel melancarkan operasi militer besar-besaran bertajuk “Tank Elektro-Mekanik.” Dalam kurun waktu 48 jam terakhir, lebih dari 300.000 warga Palestina di Gaza Utara dilaporkan kehilangan tempat tinggal. Ribuan rumah hancur lebur akibat gempuran pasukan Israel. Data ini dirilis oleh media resmi Hamas di Gaza pada 18 Mei, menggambarkan tingkat kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konflik di wilayah tersebut.
Dalam suasana tertekan ini, Hamas terlihat semakin kehilangan kendali dan daya tawar. Beberapa kali kelompok tersebut menawarkan opsi penyerahan seluruh sandera maupun menyerahkan kendali Gaza dengan syarat adanya gencatan senjata. Namun, di mata masyarakat dan pengamat internasional, manuver-manuver ini lebih merupakan tanda keputusasaan ketimbang strategi negosiasi. Seperti dikutip dari komentar warganet: “Ini bukan perubahan hati Hamas, mereka memang sudah kehabisan tenaga. Israel sama sekali tak memberi peluang—Hamas benar-benar di ujung kehancuran.”
Operasi Militer Israel Makin Agresif, Kondisi Kemanusiaan Gaza Semakin Mencekam
Menurut laporan Central News Agency, pada 17 Mei, militer Israel terus memperluas cakupan operasinya di Jalur Gaza. Relawan di lapangan mengabarkan bahwa serangan udara terbaru telah menewaskan sedikitnya 10 orang warga sipil, sementara blokade bantuan oleh Israel membuat situasi semakin kritis. Rumah sakit yang masih berfungsi pun mengeluarkan peringatan keras: mereka tidak lagi mampu menangani gelombang pasien luka berat akibat keterbatasan suplai medis dan rusaknya fasilitas kesehatan akibat serangan.
Tekanan beruntun dari Israel tak hanya melumpuhkan Hamas secara militer, tapi juga mempercepat krisis kemanusiaan di Gaza. Infrastruktur vital, mulai dari listrik, air bersih, hingga rumah sakit, sudah berada di ambang kehancuran total.
Poros Iran-Tiongkok Terpukul, Kegagalan Besar Strategi Timur Tengah Beijing
Kekalahan Hamas tak hanya menjadi tragedi bagi rakyat Palestina, tapi juga menghantam keras poros pendukungnya—khususnya Iran dan Tiongkok. Para pengamat menilai, kemenangan Israel dan strategi agresif Amerika Serikat di bawah Presiden Trump menjadi pukulan telak bagi ambisi Tiongkok di Timur Tengah. Bertahun-tahun Beijing membina kemitraan strategis 25 tahun dengan Iran, menjaga rezim Assad di Suriah, serta mendukung kelompok proksi seperti Hamas dan Houthi, kini semua upaya itu runtuh satu per satu di bawah tekanan Amerika dan Israel.
Hamas dihancurkan, Houthi tertekan di Yaman, dan pengaruh Iran semakin terpinggirkan. Tiongkok yang selama ini mencoba membangun pijakan energi dan strategi melalui Iran, kini menghadapi kegagalan beruntun. Sumber keuangan dan perlindungan internasional bagi Hamas kian menipis, sementara jalur logistik dan diplomasi Beijing di kawasan itu makin terisolasi.
Operasi “Tank Elektro-Mekanik”: Strategi Israel Menghapus Hamas dari Gaza
Pada 16 Mei, Israel secara resmi meluncurkan operasi militer bersandi “Tank Elektro-Mekanik,” yang bertujuan menghancurkan sisa kekuatan dan infrastruktur pemerintahan Hamas di Gaza. Operasi besar-besaran ini melibatkan sedikitnya enam brigade militer, sekitar 30.000 pasukan infanteri, lebih dari 400 tank Merkava, 2.000 kendaraan lapis baja, dan ratusan artileri.
Divisi 252 dan 36 Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sudah menembus jantung wilayah Gaza. Dalam 24 jam terakhir, Angkatan Udara Israel telah membombardir lebih dari 150 target yang teridentifikasi sebagai infrastruktur dan markas Hamas. Target Israel sangat jelas: menghancurkan kekuatan Hamas sampai ke akar, sekaligus memastikan Gaza sepenuhnya berada di bawah kendali Israel.
IDF kini telah bergerak cepat ke Deir al-Balah, Gaza Tamon, Joulia, dan Samaria—wilayah-wilayah strategis di Gaza yang selama ini menjadi basis utama Hamas. Sejak serangan besar-besaran ke Israel pada 7 Oktober 2023, kekuatan tempur Hamas yang semula mencapai 30.000 personel, kini menyusut drastis menjadi sekitar 3.000 hingga 4.000 orang saja. Struktur komando militer Hamas dinyatakan hancur total. Bahkan, jumlah sandera yang masih dikuasai Hamas kini tersisa kurang dari 50 orang, dengan perkiraan hanya sekitar 20 yang masih hidup. Posisi tawar Hamas benar-benar runtuh.
Poros Anti-Amerika Terpuruk, Pengaruh Iran dan Suriah Menyusut
Situasi ini juga berdampak langsung pada kelompok-kelompok proksi lain yang selama ini berada di bawah bayang-bayang Iran dan didukung Tiongkok. Hizbullah di Lebanon memilih untuk tidak melakukan eskalasi, menghindari konfrontasi langsung dengan Israel karena risiko yang terlalu besar. Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman pun terhenti aktivitasnya akibat serangan gabungan AS-Israel. Poros anti-Amerika yang selama ini mencoba menyeimbangkan kekuatan di Timur Tengah, kini lumpuh total.
Pemerintahan Netanyahu melihat momen ini sebagai kesempatan emas untuk “menyelesaikan semuanya dalam satu langkah.” Hamas, Hizbullah, dan Houthi dipukul mundur secara bersamaan, sementara Iran kehilangan keberanian dan Suriah mulai mengubah arah kebijakan luar negerinya. Israel kini memegang keunggulan strategis mutlak di kawasan Timur Tengah.
Komentar netizen pun bermunculan: “Hamas tidak sadar telah tersesat—menyerang Israel tanpa kalkulasi matang, kini harus menanggung akibatnya.”
Di balik runtuhnya poros ini, strategi Amerika Serikat di bawah Trump semakin menunjukkan hasil. Washington menandatangani mega-kontrak persenjataan dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, serta menghidupkan kembali Abraham Accords untuk menormalkan hubungan antara Israel dan negara-negara Arab, sekaligus mengisolasi Iran dari percaturan politik kawasan.
Tiongkok Kehilangan Pijakan: Kegagalan Geopolitik Terbesar di Abad Ini
Dalam dinamika ini, Tiongkok menjadi pihak yang paling merugi. Upaya sistematis Beijing membangun “jaringan energi dan strategi” di Timur Tengah melalui Iran kini berantakan. Dengan jatuhnya “payung” perlindungan Hamas, dan sumber dana Iran yang makin kehabisan napas, semua investasi politik dan ekonomi Tiongkok di kawasan ini perlahan-lahan terhapus.
Pukulan telak ini tidak hanya berarti kekalahan dalam satu perang regional, melainkan menandai perubahan peta kekuatan global. Energi, diplomasi, dan sekutu strategis yang selama ini diandalkan Tiongkok kini luluh lantak. Dengan Hamas hampir sepenuhnya disapu bersih, kartu andalan Tiongkok di Timur Tengah pun nyaris habis. Tidak berlebihan jika dikatakan, kegagalan ini menjadi salah satu bencana geopolitik terbesar yang dialami Tiongkok dalam dua dekade terakhir.
Penutup: Pergeseran Besar Kekuatan Global, Israel dan AS Pegang Kendali Penuh
Peta politik dan keamanan Timur Tengah kini berubah drastis. Israel memegang kendali mutlak di Gaza, sementara Amerika Serikat memperkuat posisinya sebagai aktor utama kawasan, memanfaatkan kekalahan kelompok-kelompok proksi dan isolasi Iran serta Tiongkok. Dunia menyaksikan bagaimana perubahan strategi militer dan diplomasi dalam beberapa bulan terakhir bukan hanya menentukan nasib Gaza, tetapi juga merombak ulang keseimbangan kekuatan global.
Hamas tinggal menunggu waktu untuk benar-benar dihapus dari peta politik Timur Tengah. Sementara itu, Tiongkok—yang semula sangat percaya diri memperluas pengaruhnya melalui poros Iran, Suriah, Hamas, dan Houthi—kini harus menerima kenyataan pahit: mereka kehilangan pijakan, kehilangan sekutu, dan kehilangan peluang emas di salah satu kawasan paling strategis dunia. Dalam hitungan hari, kekalahan Hamas menjadi simbol kegagalan ambisi besar Tiongkok di Timur Tengah, sekaligus menandai babak baru kekuatan global yang kembali digenggam oleh Amerika Serikat dan Israel.


