Pasukan Khusus Israel Menyamar Jadi Perempuan, Masuk ke Wilayah Musuh dan Membunuh Komandan Palestina

EtIndonesia. Pada dini hari tanggal 19 Mei, pasukan khusus militer Israel (IDF) melancarkan operasi rahasia di Kota Khan Younis, wilayah selatan Jalur Gaza. Para anggota pasukan ini mengenakan pakaian sipil untuk menyusup ke pusat kota, bahkan beberapa di antara mereka menyamar sebagai perempuan.

Misi utama mereka adalah menangkap salah satu komandan senior Komite Perlawanan Rakyat Palestina. Namun ketika upaya penangkapan tidak berhasil, mereka justru membunuh target tersebut.

Pada 20 Mei, media Sky News mengutip pernyataan sumber Palestina bahwa dalam operasi tersebut, pasukan khusus Israel membunuh Sarhan—komandan senior divisi militer Komite Perlawanan Rakyat Palestina—secara langsung di tempat. Mereka juga dilaporkan menangkap istri dan anak-anak Sarhan sebelum segera mundur dari lokasi.

Untuk memperkuat penyamaran sebagai warga sipil, pasukan tersebut meninggalkan sebuah tas berisi barang-barang pribadi yang tampak seperti milik pengungsi.

Sumber dari otoritas medis setempat menyatakan bahwa jenazah Sarhan telah dibawa ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis.

Pihak militer Israel kemudian mengonfirmasi bahwa memang ada operasi khusus yang dilakukan di Khan Younis pada dini hari tanggal 19 Mei, dan bahwa tidak ada korban jiwa dari pihak mereka. Namun, juru bicara militer tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait target operasi ini.

Komite Perlawanan Rakyat Palestina kemudian mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Sarhan tewas dalam operasi penyergapan oleh pasukan khusus Israel. Mereka menjelaskan bahwa Sarhan selama ini bertanggung jawab atas “operasi-operasi khusus” dalam organisasi, dan bahwa dia tewas setelah pasukan Israel gagal menangkapnya hidup-hidup.

Komite Perlawanan Rakyat Palestina dikenal sebagai kekuatan militer terbesar ketiga di Jalur Gaza, berada di bawah Hamas dan Jihad Islam.

Israel Tengah Menjalankan Strategi yang Lebih Luas

Menurut laporan media Tiongkok “NetEase”, operasi pembunuhan Sarhan ini dinilai sebagai salah satu misi pemenggalan kepala (decapitation strike) yang sangat berhasil bagi Israel. Keberhasilan operasi ini tampaknya menunjukkan bahwa Israel tengah melaksanakan strategi militer yang jauh lebih besar.

Operasi militer bersandi “Gideon Chariot” yang saat ini sedang dijalankan oleh pasukan Israel di Gaza bukanlah sekadar serangan sporadis, tetapi bagian dari rencana besar yang tengah digodok secara sistematis.

Selama ini, Israel terus berupaya melemahkan kekuatan Hamas melalui cara-cara militer. Kali ini, mereka menerapkan strategi “divide and conquer” (pecah-belah dan kuasai), yaitu dengan membagi Jalur Gaza menjadi dua wilayah melalui serangan darat berskala besar. Tujuannya adalah memutus kesinambungan teritorial Hamas dan mengurangi pengaruh mereka terhadap warga sipil.

Di saat yang sama, Israel juga membatasi masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza. Tindakan ini dilihat sebagai upaya untuk menekan warga sipil agar hengkang dari daerah konflik, meski dari sudut pandang strategi militer, pendekatan ini juga memiliki implikasi yang sangat kompleks.

Israel saat ini tidak hanya menghadapi perlawanan bersenjata dari Hamas, tetapi juga tekanan internasional yang kian meningkat. PBB dan Uni Eropa secara terbuka menyerukan agar Israel segera menghentikan aksi militernya.

Hamas dan Houthi Bermain Strategi Ganda

Masih menurut laporan dari “NetEase”, Hamas saat ini menghadapi tekanan militer yang masif dari Israel dan merespons dengan taktik perang penundaan. Mereka tidak meladeni pertempuran besar-besaran, melainkan memilih untuk bermain waktu, antara lain dengan melepaskan sebagian sandera guna mendapatkan ruang manuver lebih luas.

Strategi ini tidak berarti bahwa Hamas sedang berada di ujung kehancuran atau hendak menyerah. Justru sebaliknya—dalam konteks geopolitik global saat ini, Hamas tampaknya berhasil memanfaatkan kondisi internasional untuk menciptakan semacam “zona penyangga strategis”. Dengan menampilkan sikap “melunak”, Hamas sesungguhnya sedang mengumpulkan amunisi diplomatik untuk mendorong tekanan internasional terhadap Israel.

Peran kelompok Houthi dari Yaman juga menjadi faktor penting. Setelah menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Amerika Serikat, Houthi justru berkali-kali meluncurkan serangan terhadap Israel. Ini bisa diibaratkan sebagai tikaman dari belakang yang membuat Israel semakin tertekan, baik secara internal maupun eksternal.

Dilema Israel: Maju Kena, Mundur Pun Kena

Israel kini berada dalam dilema besar: jika melanjutkan operasi militer, mereka berisiko menghadapi gelombang kecaman dan isolasi dari komunitas internasional. Namun jika mundur sekarang, hal itu akan dianggap sebagai kegagalan strategi militer dan bisa memberikan ruang bagi Hamas untuk bangkit kembali—sebuah ancaman baru bagi keamanan Israel di masa depan.(jhn/ny)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine