EtIndonesia. Pada hari Senin (19/5), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melakukan percakapan telepon selama dua jam dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Isi percakapan mereka bocor ke publik melalui berbagai media asing dari berbagai saluran. Yuri Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri Putin, mengungkapkan bahwa dalam pembicaraan tersebut, Putin memberi tahu Trump bahwa menjelang perayaan “Hari Kemenangan” pada 9 Mei, Moskow berhasil menggagalkan beberapa rencana serangan teroris besar-besaran yang didalangi oleh Ukraina.
Putin Sebut Ukraina Gagal Lakukan Serangan Teroris ke Moskow
Menurut laporan media Pemerintah Rusia, RT, dalam wawancara pada 20 Mei, Ushakov menjelaskan bahwa pada 19 Mei, Putin memberi tahu Trump bahwa sebelum dimulainya perayaan Hari Kemenangan dan deklarasi sepihak gencatan senjata selama tiga hari oleh Moskow, militer Ukraina pada dini hari 7 Mei meluncurkan lebih dari 500 drone bunuh diri serta rudal jelajah “Storm Shadow” buatan Inggris. Sebagian besar sasaran serangan adalah wilayah Moskow, namun hampir seluruhnya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Rusia.
Ushakov menambahkan bahwa Putin mengatakan kepada Trump: “Selain itu, terdapat pula ancaman serangan teror yang menargetkan pusat Kota Moskow, termasuk wilayah Kremlin dan Lapangan Merah. Untungnya, serangan ini berhasil digagalkan tepat sebelum perayaan dimulai.”
Putin juga menegaskan bahwa : “Pihak Ukraina secara langsung mengancam keselamatan tamu-tamu asing yang hendak menghadiri perayaan Hari Kemenangan, dan bahkan berupaya mencegah mereka datang ke Moskow.”
Ushakov menambahkan bahwa Putin menyebut “dalang di balik ancaman-ancaman ini adalah pihak-pihak yang mengagungkan penjahat perang Nazi.”
Zelenskyy Lepas Tangan, Namun 28 Pemimpin Tetap Hadir
Sebelumnya, menjelang parade Hari Kemenangan yang menandai 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Kiev “tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi di wilayah Rusia.” Pernyataan ini disinyalir sebagai sindiran terhadap kehadiran sejumlah pemimpin dunia, termasuk Ketua Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping. Meski ada ancaman, sebanyak 28 pemimpin dunia tetap menghadiri acara tersebut.
Trump Serahkan Peran Mediasi Perang ke Vatikan
Pada 19 Mei, setelah berbicara selama lebih dari dua jam dengan Putin, Trump menyatakan kepada publik bahwa pembicaraan berjalan sangat lancar dan mengumumkan bahwa “Rusia dan Ukraina akan segera memulai negosiasi gencatan senjata.”
Dunia, khususnya negara-negara Eropa, menganggap momen ini sebagai titik balik penting dalam perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama tiga tahun.
Namun, menurut laporan Axios, setelah berbicara dengan Putin, Trump melanjutkan komunikasi dengan Presiden Zelenskyy dan sejumlah pemimpin Eropa. Anehnya, dalam pembicaraan ini, Trump tidak menyebutkan rencana gencatan senjata sama sekali. Justru, para pemimpin Eropa dikejutkan ketika mendengar bahwa Trump menyatakan Putin bersedia berunding, namun Amerika Serikat tidak akan ikut serta dan bahkan menolak menerapkan sanksi terhadap Rusia.
Sumber yang terlibat dalam pembicaraan tersebut menyebutkan bahwa setelah Trump berbicara, para peserta terdiam selama beberapa detik, dan sebagian dari mereka mengaku “terkejut.” Sikap Trump dinilai sebagai tanda bahwa dia ingin menarik diri dari proses mediasi konflik Rusia-Ukraina.
Trump kemudian menulis pernyataan bahwa mekanisme negosiasi dan detail kesepakatan akan diserahkan sepenuhnya kepada Rusia dan Ukraina, “karena hanya mereka yang benar-benar memahami rincian yang tidak bisa dipahami oleh pihak luar.”
Trump juga mengatakan kepada wartawan bahwa selama proses negosiasi berjalan, dia tidak akan menambah sanksi terhadap Rusia, karena menurutnya “masih ada kemungkinan kemajuan menuju gencatan senjata.”
Dia menambahkan: “Saya pikir masih ada peluang untuk mencapai sesuatu. Namun jika kita memberi tekanan sekarang, bisa jadi justru memperburuk keadaan.”
Trump juga secara resmi menyerahkan peran mediator perdamaian kepada pihak Vatikan.
Putin Kunjungi Pembangkit Nuklir di Kursk, Kunjungan Pertama Sejak Wilayah Direbut Kembali
Pada 22 Mei, Kremlin mengumumkan bahwa Presiden Putin telah mengunjungi wilayah Kursk, yang merupakan kunjungan pertamanya sejak pasukan Rusia berhasil merebut kembali wilayah tersebut dari tangan Ukraina bulan lalu.
Wilayah Kursk sempat diduduki oleh pasukan Ukraina sejak Agustus 2024 dalam sebuah serangan balik yang disokong oleh drone dan senjata berat dari Barat. Serangan Ukraina saat itu berhasil menguasai hampir 1.400 kilometer persegi wilayah Kursk. Namun pada akhir April, dengan bantuan pasukan Korea Utara, Rusia mengklaim telah berhasil memukul mundur militer Ukraina dan kembali menguasai wilayah tersebut.
Militer Rusia menyatakan bahwa keberhasilan merebut kembali Kursk mengakhiri bentuk invasi terbesar ke wilayah Rusia sejak Perang Dunia II. (jhn/yn)


