EtIndonesia. Nancy Rynes dulunya adalah seorang ateis sejati. Dia mengedepankan logika dan percaya bahwa sains mampu menjelaskan segalanya. Namun, hanya dalam beberapa menit menjelang kematiannya, pandangannya tentang hidup dan keberadaan Tuhan berubah total.
Wanita asal negara bagian Colorado, Amerika Serikat, ini adalah seorang penulis sains sekaligus pelatih korporat. Dia tidak pernah tertarik pada hal-hal spiritual atau agama. Padahal sejak kecil, Nancy cukup memiliki sisi spiritual, dibesarkan dalam keluarga Katolik. Tapi saat dia berusia 15 tahun, sejumlah berita tentang pelecehan anak yang dilakukan oleh pendeta menghancurkan kepercayaannya. Dia mulai meragukan keyakinannya dan bahkan menganggap bahwa semua yang dia lihat dan alami tentang Tuhan dan roh semasa kecil hanyalah ilusi.
Setelah lulus dari universitas dan bekerja di Departemen Energi AS, Nancy tumbuh menjadi seorang ilmuwan yang sangat rasional dan berpijak pada realitas material. Dia memeluk ateisme sepenuhnya. Namun takdir mempertemukannya dengan sebuah “pintu tak terlihat” yang membawanya masuk ke dunia yang selama ini dia pandang sebelah mata.
Kecelakaan Sepeda yang Mengubah Segalanya
Pada usia 46 tahun, Nancy tengah berada di titik terendah dalam hidupnya. Dia baru bercerai, pekerjaannya tidak berjalan baik, dan dia memutuskan pindah ke Boulder, Colorado untuk memulai lembaran baru.
Suatu hari, saat bersepeda, dia ditabrak oleh sebuah SUV dan terlempar jauh. Dia dilarikan ke ruang gawat darurat dengan luka serius dan dijadwalkan menjalani operasi besar tiga hari kemudian.
Hasil pemeriksaan menunjukkan cedera parah di bagian kepala, tulang selangka, tulang rusuk, tulang leher, tulang belakang, serta paru-paru.
Sebagai seorang ateis, ketakutan terbesar Nancy adalah kematian. Ketika obat bius mulai bekerja dan dia tertidur di meja operasi, dia justru “terbangun” di sebuah dunia lain—sebuah lereng bukit yang indah, dipenuhi bunga dan rumput hijau. Dunia itu tidak mengikuti hukum fisika yang dikenalnya di dunia nyata.
Nancy mulai menyadari bahwa dia telah mati. Dia teringat akan perkataan orangtuanya di masa kecil, bahwa ateis akan masuk neraka. Namun, yang dia lihat sangat bertolak belakang. Sebuah suara lembut menyambutnya, berkata: “Selamat datang di rumah.” Suara itu berasal dari sosok perempuan yang samar namun memancarkan kasih dan kebijaksanaan. Nancy menyebut sosok itu sebagai “dewi”.
Pelajaran dari Dunia Lain: Energi, Peta Kehidupan, dan Pertobatan Jiwa
Dewi itu mulai mengajarkan Nancy berbagai pengetahuan tentang alam spiritual. Dia menjelaskan bahwa segalanya di alam semesta ini dibangun di atas dasar energi. Nancy menyerap ilmu itu dengan kecepatan luar biasa, jauh melebihi kecepatan belajar di dunia manusia. Hal-hal yang biasanya membutuhkan waktu tiga bulan untuk dipahami di bumi, di sana hanya membutuhkan beberapa menit.
Nancy juga ditunjukkan sebuah “peta kehidupan”, semacam peta energi yang menggambarkan seluruh pilihan hidupnya—jalur mana yang dia pilih, mana yang dia tinggalkan, dan bagaimana semuanya saling terhubung.
“Aku berdiri di sana, memandangi peta itu, dan menyadari: itulah hidupku,” kenangnya.
Dia juga menjalani momen yang disebut “tinjauan jiwa”, di mana dia melihat kembali seluruh kejadian dalam hidupnya, tak hanya dari sudut pandangnya sendiri, tapi juga dari sudut pandang orang lain. Salah satu momen yang membekas adalah ketika dia berusia 17 tahun dan berkata kasar pada adiknya. Dari perspektifnya dulu, hal itu tampak sepele. Namun ketika dia melihatnya dari sudut pandang sang adik, dia merasakan betapa sakit dan terpukulnya hati sang adik.
Ingin Tinggal, Namun Sudah Ada Perjanjian Jiwa
Dalam pengalaman itu, Nancy memohon kepada dewi agar diperbolehkan untuk tetap tinggal di dunia tersebut.
“Aku tidak ingin kembali,” pintanya.
Namun, sang dewi menjawab dengan lembut: “Kamu sudah menyetujui untuk kembali.”
Nancy lalu diperlihatkan bahwa sebelum lahir ke dunia, dia sebenarnya telah menyepakati untuk mengalami kecelakaan itu, serta segala penderitaan dan pelajaran yang menyertainya.
Sang dewi akhirnya mengantar Nancy kembali ke dunia nyata. Ketika Namcy membuka mata, dia masih terbaring di meja operasi. Rasa sakit langsung menyeruak, namun kenangan dan pengalaman yang baru saja dialaminya tetap terasa sangat nyata, bahkan lebih nyata dibanding dunia fisik.
Kebangkitan Jiwa dan Misi Baru
Sejak kembali dari pengalaman itu, Nancy menjalani hidup dengan cara yang sama sekali berbeda. Dia setiap hari mengingat apa yang dialaminya di “dunia seberang”, dan hal itu mengubah cara dia berinteraksi dengan sesama manusia. Dia yang dulu menolak semua bentuk kepercayaan spiritual, kini menjadi seorang penyampai pesan-pesan spiritual. Namun yang dia bawa bukanlah ajaran agama tertentu, melainkan pengalaman langsung dari dunia misterius yang pernah dia masuki.
Nancy kini meyakini bahwa dunia spiritual bukan ilusi atau mitos, melainkan sebuah kenyataan yang sangat dalam dan penuh kasih. Dia mengajak orang untuk berpikir ulang: mungkinkah “pintu pulang” itu tidak hanya terbuka di akhir hayat, tetapi juga bisa disadari lebih awal dalam kehidupan kita?(jhn/yn)


