EtIndonesia. Situasi di Jalur Gaza kembali memanas usai Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan bahwa militer Israel diduga telah berhasil menewaskan salah satu tokoh paling penting dalam struktur Hamas, Muhammad Sinwar. Muhammad adalah adik kandung dari Yahya Sinwar, pemimpin tertinggi Hamas yang juga tewas dalam operasi militer Israel pada tahun lalu. Kematian Muhammad Sinwar menandai salah satu pukulan terberat bagi jaringan kepemimpinan Hamas dalam beberapa tahun terakhir.
Serangan Udara Masif Sasar Rumah Sakit, Puluhan Tewas
Operasi militer besar-besaran yang digelar Israel kali ini menargetkan sejumlah titik strategis di Gaza Selatan, dengan fokus utama di sekitar Rumah Sakit Eropa di Kota Khan Younis. Berdasarkan pernyataan resmi Kementerian Kesehatan Palestina, serangan udara tersebut menewaskan sedikitnya 28 orang dan melukai lebih dari 50 warga sipil, termasuk pasien dan tenaga medis yang berada di lokasi. Muhammad Sinwar diyakini tengah bersembunyi di kawasan tersebut saat serangan terjadi.
Pihak militer Israel belum memberikan konfirmasi visual atas tewasnya Muhammad Sinwar, namun berbagai sumber intelijen menyatakan bahwa peluang selamatnya sangat kecil. Netanyahu dalam konferensi pers menyebutkan bahwa operasi masih akan terus berlanjut hingga seluruh jaringan komando Hamas “dibersihkan”.
“Setiap jengkal tanah di Gaza, pada akhirnya, akan berada di bawah kendali penuh Israel,” tegas Netanyahu di hadapan wartawan.
“Seluruh pemimpin Hamas yang masih tersisa kini sedang diburu. Kami telah mengidentifikasi posisi kepala militer, Deif, serta pemimpin politik Haniyeh, yang akan menjadi target berikutnya,” tambahnya.
Sikap Keras Israel Ditengah Tekanan Dunia
Deklarasi Netanyahu menuai reaksi keras dari komunitas internasional, terutama karena meningkatnya korban sipil dan hancurnya infrastruktur sipil, termasuk fasilitas kesehatan. Meski desakan untuk melakukan gencatan senjata datang dari berbagai negara—termasuk AS, Uni Eropa, dan negara-negara Arab—Netanyahu menegaskan bahwa jeda pertempuran hanya mungkin terjadi apabila para sandera yang masih ditahan Hamas dibebaskan.
“Tidak akan ada perdamaian permanen sampai Hamas benar-benar dilucuti dan rezim mereka tumbang,” tegasnya lagi. “Siapa pun yang meminta gencatan senjata sebelum tujuan ini tercapai, berarti sama saja membiarkan Hamas tetap berkuasa.”
Israel juga mengangkat isu rencana “migrasi sukarela” bagi warga Gaza, mengikuti usulan AS yang telah menimbulkan perdebatan di berbagai forum internasional. Namun, banyak pihak memandang langkah ini sebagai bentuk pengusiran terselubung yang melanggar hak asasi manusia.
Insiden Salah Tembak: Israel Panen Kecaman Dunia
Sementara operasi militer berlangsung di Gaza, insiden kontroversial terjadi di Tepi Barat, tepatnya di dekat kamp pengungsi Jenin. Pada hari yang sama, rombongan diplomat dari lebih dari 30 negara tengah melakukan kunjungan lapangan untuk memantau dampak operasi militer Israel terhadap warga sipil Palestina.
Secara tiba-tiba, seorang tentara Israel melepaskan tembakan peringatan ke udara saat rombongan melintasi area dekat operasi militer aktif. Tindakan ini sontak menimbulkan kepanikan di antara para diplomat, yang langsung berlarian mencari perlindungan. Rekaman video kejadian tersebut beredar luas di media sosial, menuai kecaman dan kritik dari berbagai negara.
Dalam rombongan tersebut, terdapat diplomat dari Uni Eropa, Prancis, Inggris, Tiongkok, Rusia, Turki, Mesir, Irlandia, Italia, Spanyol, dan sejumlah negara lain. Mereka saat itu sedang mendengarkan penjelasan dari otoritas Palestina terkait situasi keamanan dan kemanusiaan di kawasan Jenin.
Respons Israel dan Protes Internasional
Militer Israel kemudian mengeluarkan pernyataan resmi, menyatakan bahwa tembakan peringatan tersebut dilakukan karena rombongan diplomat “melenceng dari jalur yang sudah ditetapkan” dan tanpa sengaja masuk ke zona operasi berisiko tinggi. Menurut pihak militer, tindakan tersebut hanya dimaksudkan sebagai peringatan untuk menghindari potensi bahaya dan bukan sebagai serangan langsung.
“Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi, dan tidak ada niat jahat dalam tindakan tersebut,” ujar perwakilan militer Israel.
Namun, klarifikasi ini tidak cukup meredam kemarahan internasional. Menteri Luar Negeri Prancis, Stéphane Séjourné, menyebut tindakan itu “tidak dapat diterima” dan menuntut penjelasan resmi dari Israel. Pemerintah Spanyol dan Italia juga mengeluarkan kecaman keras, sementara Uni Eropa menuntut penyelidikan penuh atas insiden ini.
Otoritas Palestina sendiri menuduh militer Israel melakukan tembakan secara sengaja terhadap rombongan diplomat yang telah memperoleh izin resmi untuk melakukan kunjungan. Mereka menegaskan bahwa insiden ini membuktikan “rendahnya penghormatan Israel terhadap hukum internasional dan diplomasi”.
Dampak Diplomatik dan Humaniter
Serangkaian peristiwa ini tidak hanya memperburuk citra Israel di mata dunia, tetapi juga meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Netanyahu baik dari dalam negeri maupun komunitas internasional. Para pengamat menilai, insiden salah tembak terhadap diplomat asing bisa menjadi pemicu krisis diplomatik baru di tengah konflik yang sudah sangat kompleks dan berkepanjangan.
Sementara itu, situasi di Gaza semakin memburuk, dengan jumlah korban sipil terus bertambah dan bantuan kemanusiaan yang sulit masuk ke wilayah konflik. Komunitas internasional terus menyerukan penghentian kekerasan, pembukaan jalur bantuan, dan perlindungan maksimal terhadap warga sipil serta pekerja kemanusiaan.
Kesimpulan
Ketegangan antara Israel dan Hamas belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dengan tewasnya Muhammad Sinwar, Israel berharap dapat memutus rantai komando militer Hamas, namun balasan dan aksi protes dari kelompok perlawanan diyakini akan semakin meningkat. Di sisi lain, insiden salah tembak ke rombongan diplomatik menunjukkan betapa rawan dan tidak terduganya situasi di lapangan, sekaligus memperbesar risiko krisis internasional yang lebih luas.


