EtIndonesia. Bea Cukai Prancis wilayah Marseille pada hari Senin (26/5) mengumumkan bahwa mereka telah menyita sekitar 6.000 boneka mainan berbentuk domba impor dari Tiongkok. Boneka berbulu halus tersebut diketahui mengandung kadar logam berat berbahaya yang jauh melebihi batas aman yang ditetapkan Uni Eropa, sehingga dianggap berisiko terhadap kesehatan anak-anak.
Dalam pernyataan resminya, pihak bea cukai menjelaskan bahwa boneka-boneka ini sedianya akan dikirim ke sebuah perusahaan grosir mainan di wilayah Pyrénées-Atlantiques, Prancis, untuk kemudian didistribusikan lebih lanjut. Namun hasil pengujian menunjukkan bahwa mainan tersebut “sebenarnya mengandung risiko nyata terhadap kesehatan anak-anak.”
Kadar Logam Beracun Melebihi Batas Aman Uni Eropa
Insiden ini terjadi pada akhir Februari 2025 di kantor bea cukai Fos-sur-Mer, wilayah Bouches-du-Rhône. Saat melakukan pemeriksaan rutin terhadap sebuah kontainer, petugas bea cukai mencurigai adanya ketidaksesuaian terhadap peraturan keselamatan. Pemeriksaan fisik lanjutan serta uji laboratorium pun segera dilakukan.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa label tekstil pada boneka-boneka tersebut mengandung kromium heksavalen (Chrome VI) dalam kadar yang sangat tinggi—yakni hampir 8 kali lipat dari ambang batas maksimum yang diperbolehkan oleh regulasi Uni Eropa.
Kromium VI: Racun Karsinogenik yang Sangat Berbahaya
Bea Cukai Prancis menekankan bahwa kromium VI merupakan logam berat yang sangat beracun. Zat ini diketahui memiliki sifat karsinogenik (menyebabkan kanker), mutagenik (menyebabkan mutasi genetik), serta toksik terhadap sistem reproduksi. Anak-anak yang cenderung memasukkan mainan ke dalam mulut saat bermain menjadi kelompok yang paling rentan terhadap paparan zat ini.
Atas temuan ini, pihak berwenang memutuskan untuk menyita dan memusnahkan seluruh mainan tersebut guna mencegah dampak yang lebih luas terhadap masyarakat.
Fenomena Mainan Impor Berbahaya Terus Terjadi
Menurut statistik dari Bea Cukai Prancis, selama tahun 2024 saja, total 5,75 juta unit mainan, permainan, dan perlengkapan olahraga telah disita di seluruh Prancis. Sebagian besar penyitaan dilakukan karena alasan keselamatan produk, pemalsuan label, atau ketidaksesuaian dengan peraturan Uni Eropa.
Kasus ini sekali lagi menyoroti perlunya pengawasan ketat terhadap produk impor, khususnya yang ditujukan bagi anak-anak, serta urgensi transparansi dalam rantai distribusi global.(jhn/yn)


