oleh Zhou Xiaohui
Hanya beberapa hari setelah Partai Komunis Tiongkok (PKT) meneriakkan “tidak akan berlutut” kepada AS. Pada 12 Mei, PKT dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan penurunan tarif selama 90 hari dalam negosiasi di Swiss. PKT setuju untuk menurunkan tarif 125% atas komoditas yang diimpor dari AS hingga menjadi 10%, dan membatalkan tarif balasan lainnya yang diberlakukan terhadap AS sejak 2 April tahun ini. Sedangkan Amerika Serikat setuju untuk menurunkan tarif impor atas sebagian besar komoditas yang diimpor dari Tiongkok dari 145% menjadi 30%. Namun, tarif hukuman sebesar 20% yang terkait isu fentanil tidak dibatalkan, yang berarti bahwa tarif yang dikenakan AS terhadap komoditas impor dari Tiongkok masih cukup tinggi.
Pada 13 dan 14 Mei, juru bicara PKT membuat dua pernyataan terkait masalah fentanil. Awalnya, ia mengatakan bahwa tanggung jawab dari masuk dan beredarnya fentanil di dalam negeri Amerika Serikat adalah urusan Washington, bukan urusan Beijing, dan menuduh Amerika Serikat yang bertindak kurang adil karena mengaikan tarif untuk fentanil, menuntut agar tindakan “fitnah dan upaya pengalihan kesalahan” ini dapat dihentikan. Namun dalam pernyataakn berikutnya, juru bicara PKT mengatakan bahwa pihak Tiongkok memberlakukan dua putaran tarif terhadap fentanil dari Amerika Serikat, dan tindakan balasan tarif dan non-tarif yang telah diambilnya masih tetap berlaku.
Dapat dikatakan bahwa PKT berupaya untuk menghindari tanggung jawab atas produksi dan peredaran narkotika jenis fentanil ini, sehingga tidak membantu utusan PKT dalam negosiasi penurunan labih jauh tarif. Karena dalam pandangan pemerintahan Trump, fentanil yang membunuh sedikitnya 70.000 warga Amerika Serikat setiap tahun, adalah suatu isu serius yang harus diatasi. Sebagai sumber, Partai Komunis Tiongkok dipaksa mengambil tindakan substantif dan efektif untuk mengekang aliran narkoba ke Amerika Serikat. Sebelum ada kemajuan nyata pada masalah ini, pemerintahan Trump tidak akan membatalkan tarif hukuman tersebut.
Sikap pemerintahan Trump yang telah meramalkan perang dagang dapat dilihat dari laporan CNN Amerika Serikat. Ketika Presiden Trump ditanya mengenai apakah tarif AS atas barang-barang asal Tiongkok akan kembali ke 145% jika batas waktu 90 hari berakhir, dan kedua belah pihak gagal mencapai kesepakatan jangka panjang, Trump menjawab: “Tarif dapat meningkat secara signifikan.” Dengan kata lain, Amerika Serikat akan tetap menaikkan tarif, meskipun tidak sampai ke tingkat yang keterlaluan.
Karena hakikat perang tarif AS-PKT adalah pertarungan sistem, maka tidak akan mudah bagi kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan jangka panjang yang dapat diterima oleh kedua belah pihak jika PKT tidak melakukan perubahan mendasar. Jika PKT memilih untuk menghadapi Amerika Serikat demi mempertahankan rezimnya, maka hasil prediksi Deng Xiaoping di tahun 1970-an bakal menjadi kenyataan.
Pada 16 Desember 1978, PKT dan Amerika Serikat mengeluarkan komunike tentang pembentukan hubungan diplomatik, mengumumkan bahwa kedua negara akan saling mengakui dan menjalin hubungan diplomatik mulai 1 Januari 1979. Segera setelah itu, sebagai seorang Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok, Deng Xiaoping mengunjungi Amerika Serikat selama 9 hari dari 28 Januari hingga 4 Februari 1979. Meskipun ada masalah status di internal PKT, tetapi kedatangan Deng di AS masih mendapat sambutan tingkat tinggi.
Menurut laporan media Tiongkok daratan, Li Shenzhi, Wakil Presiden Akademi Ilmu Sosial Tiongkok dan Direktur Institut Studi Amerika, yang mendampingi Deng Xiaoping dalam kunjungan tersebut, bertanya kepada Deng dalam pesawat: “Mengapa kita begitu mementingkan hubungan kita dengan Amerika Serikat?” Deng Xiaoping menjawab: “Dengan menengok kembali ke beberapa dekade terakhir, kita melihat bahwa semua negara yang memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat telah menjadi kaya.” Subteksnya adalah bahwa negara-negara yang tidak memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat relatif miskin, karena itu RRT juga perlu melakukan hal yang sama.
Kenyataan membuktikan bahwa ekonomi Eropa, Jepang, Korea Selatan usai Perang Dunia II telah mengalami peningkatan pesat dan pembangunan yang sukses dengan bantuan Amerika Serikat. Namun, negara-negara Eropa Timur seperti Jerman Timur dan lainnya yang mengikuti Uni Soviet, serta negara-negara sosialis yang anti-AS seperti Korea Utara, Republik Rakyat Tiongkok, dan Kuba, manakah dari mereka ini yang tidak berada di bawah pemerintahan yang otokratis, bukan saja tanpa kebebasan, tetapi juga dengan ekonomi yang terbelakang dan rakyat yang sengsara?
Jelas, Deng Xiaoping juga menyadari pentingnya menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat, oleh karena itu ia menempatkan pengembangan hubungan baik PKT-AS di urutan tertinggi dalam kepemimpinannya. Pada 24 Januari 1979, saat Deng Xiaoping bertemu dengan tamu dari Amerika Serikat sebelum kunjungannya ke Washington ia mengatakan: “Kami percaya bahwa normalisasi hubungan PKT-AS akan menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi Amerika Serikat untuk menggunakan produk-produk canggihnya membantu PKT mencapai Empat Modernisasi, yang juga bermanfaat bagi Amerika Serikat.”
Di kemudian hari Li Shenzhi pun menulis catatan berikut dalam memoarnya: “Deng Xiaoping sangat mementingkan Amerika Serikat karena ia percaya bahwa untuk melaksanakan kebijakan reformasi dan keterbukaan, kita harus terlebih dahulu membuka diri terhadap Amerika Serikat. Tanpa membuka diri terhadap Amerika Serikat, tidak ada gunanya membuka diri terhadap negara lain.”
Perkembangan ekonomi Tiongkok yang terjadi di era 1980-an tidak dapat dipisahkan dari investasi modal dan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat, tetapi keberhasilan negosiasi dengan Amerika Serikat dan bergabungnya PKT secara resmi ke dalam Organisasi Perdagangan Dunia pada tahun 2001-lah yang benar-benar mendongkrak perkembangan pesat ekonomi Tiongkok. Pada saat itu, para faksi “pemeluk panda” dalam pemerintahan AS tidak menyadari sifat jahat PKT, mereka cuma berharap PKT dapat bertransformasi politiknya melalui pembangunan ekonomi dengan mengintegrasikannya ke dalam sistem ekonomi global.
Namun, setelah sekian dekade berlalu, dan PKT mengalami perkembangan ekonomi yang cepat, orang Amerika Serikat baru menemukan bahwa PKT tidak hanya gagal memenuhi janjinya ketika bergabung dengan WTO, tetapi juga meningkatkan infiltrasi menyeluruhnya ke Amerika Serikat dan Eropa, dengan maksud untuk menguasai dunia dengan ideologi komunis. Menyadari akan adanya ancaman serius terhadap Amerika Serikat yang belum pernah terjadi sebelumnya, Trump melancarkan perang dagang AS-PKT selama masa jabatan pertamanya, kemudian melancarkan perang tarif selama masa jabatan keduanya, selain itu juga melakukan pengekangan multi-segi terhadap PKT.
Tidak diragukan lagi, akan sulit bagi Partai Komunis Tiongkok yang ingin mempertahankan kekuasaan untuk menyetujui tuntutan wajar pemerintahan Trump, seperti membuka pasar secara menyeluruh. Tetapi membuka pasar secara menyeluruh berarti rezim otoriter akan ambruk atau tidak dapat dipertahankan. Maka untuk menipu rakyat Tiongkok, PKT menciptakan opini publik yang menggambarkan dirinya sebagai korban atas perundungan pemerintah Amerika Serikat, dan menunjukkan sikap tegas untuk “tidak akan berlutut” kepada AS. Tetapi di bawah tekanan situasi, PKT terpaksa juga “berlutut” meskipun ia tetap mengaku telah “mencapai kemenangan”, hanya saja ia menggunakan metode kemenangan spiritual.
Jadi, pilihan apa yang akan diambil PKT setelah masa jeda perang tarif 90 hari? Para pemimpin tingkat atas di Zhongnanhai sebaiknya mempertimbangkan pernyataan Deng Xiaoping, apakah mereka sanggup menanggung konsekuensi dari konfrontasi dengan Amerika Serikat. Selain itu, para pemimpin tinggi di Zhongnanhai tidak boleh melupakan apa yang dikatakan Deng Xiaoping pada sidang khusus keenam Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa 1 April 1974: “Jika suatu hari Tiongkok berubah warna dan menjadi negara adikuasa, serta menjadi negara yang mendominasi dunia, menindas, menginvasi, dan mengeksploitasi pihak lain, maka warga dunia patut melabeli rezim Tiongkok sebagai ‘imperialisme sosial’. Hal itu harus diekspos, ditentang, dan digulingkan bersama rakyat Tiongkok.”
Tak seorang pun menyangkal bahwa Tiongkok di bawah kekuasaan PKT saat ini telah memenuhi apa yang pernah diucapkan oleh Deng. Dalam hal ini, bukankah pilihan yang paling tepat bagi warga dunia yang telah melihat wajah asli PKT yang jahat untuk bersama-sama dengan rakyat Tiongkok membubarkan PKT, memulihkan perdamaian di Tiongkok daratan dan dunia? (***)


