Lily Zhou – The Epoch Times
Ketika ekonomi Tiongkok terhuyung-huyung, gelombang protes buruh meledak di berbagai penjuru negeri. Puluhan ribu pekerja menuntut gaji yang belum terbayar atau tertunda selama berbulan-bulan. Beberapa pekerja yang diwawancarai oleh The Epoch Times mengaku pabrik tempat mereka bekerja ditutup mendadak, sementara yang lain menyebut tak digaji berbulan-bulan.
Sepanjang April hingga awal Mei, puluhan unjuk rasa mewarnai sejumlah provinsi, menunjukkan kemarahan pekerja yang belum dibayar atau digaji tak sesuai. Sebagian besar dari mereka menuntut pembayaran upah dan tunjangan yang menjadi haknya. Ada pula yang menuding pengusaha sengaja menutup pabrik dan menghilang, atau menahan gaji dan tunjangan selama berbulan-bulan.
Blog Yesterday, sebuah pusat informasi tentang protes di Tiongkok, mencatat lebih dari 60 video protes dan mogok kerja terkait upah antara 1 April hingga 21 Mei. Aksi-aksi ini tersebar di 21 provinsi dan kota, termasuk di lokasi proyek konstruksi Tiongkok di Indonesia.
Para pekerja yang terlibat dalam perselisihan ini berasal dari berbagai sektor, antara lain otomotif, konstruksi, properti, pertambangan, elektronik, farmasi, medis, tekstil, hiburan, hingga sektor pemerintahan.

Sektor Otomotif Tersengat
Neta Auto, produsen kendaraan listrik yang sempat menjadi bintang di industri otomotif Tiongkok, dikabarkan hanya membayar separuh gaji karyawan sejak September 2024. Seorang pekerja yang enggan disebut namanya demi menghindari pembalasan dari pihak berwenang, mengungkapkan bahwa gajinya dipotong sepihak.
“Saya hanya menerima separuh gaji untuk September dan Oktober [2024], dan mulai November, saya menerima separuh dari gaji yang sudah diturunkan,” kata pekerja tersebut. “Saya digaji 2.690 yuan [sekitar $373] per bulan, itu gaji minimum di Shanghai. Sekitar 2.000 yuan jelas tidak cukup, dan sulit mencari pekerjaan sekarang.”

Dia menambahkan, “Di industri otomotif, setidaknya di Shanghai, semua pabrik melakukan PHK—tidak ada yang merekrut.” Karyawan, katanya, tidak menyetujui pemotongan gaji atau penundaan pembayaran, dan manajemen terus menekan mereka untuk mengundurkan diri.
Sebuah surat terbuka dari 6.000 karyawan Neta Auto, yang beredar di media sosial Cina WeChat pada 30 April, menyebutkan bahwa perusahaan berutang kepada setiap pekerja rata-rata lebih dari 100.000 yuan (sekitar $13.850). Surat itu menuding Neta Auto berbohong kepada otoritas lokal dengan mengaku membayar gaji penuh demi mengklaim dukungan keuangan. Manajemen juga dituduh mendorong karyawan membeli saham perusahaan namun kemudian menggelapkan dana tersebut.
Para pekerja menuntut pembayaran penuh gaji plus kompensasi, serta penyelidikan terhadap perusahaan oleh pihak berwenang di Zhejiang.
Neta adalah merek mobil listrik dari Hozon Auto, perusahaan mobil yang berbasis di Shanghai. Pada 2022, Neta menjadi merek terlaris di antara “kekuatan baru” di industri otomotif Tiongkok, dengan lebih dari 152.000 mobil terjual. Namun, Anhui Business Daily melaporkan bahwa strategi harga rendah Neta membuat perusahaan merugi 18,3 miliar yuan antara 2021 dan 2023. Penjualan Neta anjlok pada 2024, dan pada Januari 2025, kurang dari 200 unit mobil terjual.

Pada 15 April, Yesterday mengunggah video di X yang menunjukkan dealer Neta dari seluruh Tiongkok berkumpul di pabriknya di Zhejiang selama setidaknya seminggu, mendesak pembuat mobil itu memenuhi kewajibannya. Media Tiongkok juga melaporkan bahwa dealer menuntut kompensasi karena tidak menerima mobil yang sudah dipesan dan dibayar, serta tidak bisa mendapatkan suku cadang untuk layanan purna jual.
Pertengahan Mei, agen periklanan Shanghai Yuxing mengajukan permohonan peninjauan kepailitan terhadap Hozon Auto. The Epoch Times tidak dapat menghubungi Hozon untuk dimintai komentar.
Pabrik Mainan Tutup Mendadak
Sekitar 400 pekerja memprotes Weilixing Toys Ltd. setelah perusahaan mendadak mengumumkan pada 6 Mei akan menghentikan produksi tanpa kompensasi. Produsen mainan yang berbasis di Shenzhen, Provinsi Guangdong, ini mengekspor mainan ke Jepang, Amerika Serikat, dan negara lain.
Sebuah pemberitahuan di video yang diunggah Yesterday menyebut Weilixing Toys tidak mampu lagi mempertahankan produksi karena penurunan perdagangan internasional dan kliennya menghentikan kemitraan. Pemberitahuan itu menyatakan pemerintah setempat akan turun tangan menyelesaikan sengketa upah, utang, dan masalah pengangguran, serta perusahaan akan “patuh pada instruksi pemerintah dan peraturan kepailitan.”

Seorang pekerja mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pemilik perusahaan terlilit utang 23 juta yuan. Ia menambahkan, pabrik di Shenzhen akan ditutup untuk memindahkan produksi ke fasilitas di Heyuan, kota lapis keempat di provinsi yang sama, sekitar 110 mil dari Shenzhen.
“Gaji pokok dibayar, tapi bonus tidak,” kata pekerja tersebut. “Beberapa pekerja telah bekerja di pabrik selama lebih dari 10 atau 20 tahun—tidak ada kompensasi,” katanya, menambahkan bahwa perusahaan tidak akan membawa karyawan ke pabrik baru.
Selain sekitar 200 pekerja pabrik, subkontraktor dan pemasok yang belum dibayar juga terkena dampaknya. Para demonstran memblokir pemindahan peralatan dari pabrik. Yesterday juga mempublikasikan video yang menunjukkan pekerja berkumpul pada 11 dan 13 Mei di pabrik pemilik yang sama di Heyuan, menuntut pembayaran.
The Epoch Times tidak dapat menghubungi Weilixing Toys untuk dimintai komentar. Sebelumnya, pada April, pekerja pabrik mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ekspor sangat terpengaruh oleh perang tarif rezim Tiongkok dengan Amerika Serikat. Seorang karyawan pemerintah setempat di Shenzhen juga menyebut banyak pabrik di wilayahnya pindah ke provinsi lain di mana biaya tenaga kerja lebih murah.
Sektor Barang Elektronik
Di Guangdong, ratusan pekerja Yuangao, produsen peralatan elektronik milik perusahaan Taiwan, mendapati diri mereka terkunci di luar pabrik pada 5 Mei. Yuangao telah meminta pekerja untuk mengambil cuti dua bulan pada April, yang memicu protes selama sebulan karena pekerja merasa dipaksa pergi. Setahun sebelum demonstrasi, Yuangao telah memindahkan sebagian produksinya ke pabrik lain, mengurangi waktu lembur pekerja.
Seorang pekerja yang baru saja meninggalkan perusahaan mengatakan kepada The Epoch Times bahwa karyawan telah dibayar gaji pokok, dan perselisihan adalah tentang kekurangan pembayaran asuransi dan dana jaminan perumahan. Ia mengatakan pemilik Yuangao telah memulai produksi di Vietnam dan ingin menutup pabrik-pabrik di Tiongkok.
Setelah disuruh cuti, “pekerja masih mencatat kehadiran setiap hari, menuntut bonus dan tunjangan,” katanya. “Pemilik kemudian membongkar mesin pencatat waktu di kelima pabrik dan menutup kantin, meningkatkan konflik.” Menurut pekerja tersebut, lima pabrik perusahaan itu awalnya mempekerjakan hingga 6.000 orang, namun kini hanya sekitar 2.000 karyawan, semuanya disuruh cuti. Banyak pekerja sudah paruh baya atau mendekati pensiun, dengan sedikit prospek mencari pekerjaan lain.

The Epoch Times tidak dapat menghubungi perusahaan-perusahaan tersebut untuk dimintai komentar.
Seorang karyawan Sengled Optoelectronics Co., Ltd., produsen lampu di Zhejiang, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa lebih dari 1.000 pekerja memprotes pihak berwenang setempat karena pabrik tersebut tidak membayar upah selama berbulan-bulan dan berutang sejumlah besar uang kepada mereka. “Pabrik seharusnya sudah ditutup sejak lama,” katanya.
Menurut Yesterday, produsen yang terlibat dalam protes dan mogok kerja terkait upah dalam tujuh minggu terakhir termasuk pembuat gigi palsu di Chengdu, Provinsi Sichuan; pabrik pakaian dan pembuat sepatu di Guangdong; pembuat sepatu di Chongqing; Leader Tech Electronics di Sichuan dan Hubei; produsen kertas di Shandong dan Guangdong; pabrik tepung di Henan; Ruiying Pharmaceutical di Shandong; dan Changqing Biology Science and Technology di Shanxi.
Proyek Konstruksi di Indonesia Terpukul
Seorang pekerja agen Tiongkok yang sementara tinggal di zona ekonomi Kalimantan Utara, Indonesia, mengatakan ia masih menunggu gaji untuk Januari dan April. Ia bekerja pada proyek pembangunan pabrik aluminium di bawah perusahaan milik negara China Nonferrous Metals Industry’s 12th Metallurgical Construction Co., Ltd.
“Tidak banyak pekerjaan sekarang, jadi perusahaan ingin memberhentikan orang,” katanya. Pekerja konstruksi itu menambahkan, agen mengada-ada tentang pekerjaan buruh dan mengatakan mereka tidak lagi diinginkan. “Enam atau tujuh orang telah pergi, dan biaya penerbangan serta pemrosesan visa dipotong dari gaji mereka,” katanya. “Misalnya, jika Anda diberhentikan setelah satu bulan, mereka akan memotong 11 bulan biaya visa.”
Awal bulan ini, ketika ia dan rekan-rekannya menghalangi seorang manajer untuk menuntut gaji, manajer mengancam akan menabrak mereka. Pada 7 Mei, Yesterday melaporkan di X bahwa pekerja konstruksi Tiongkok di zona ekonomi Kalimantan Utara melakukan mogok kerja pada 6 Mei terkait upah yang belum dibayar oleh China Nonferrous Metals Industry’s 12th Metallurgical Construction Co., Ltd.


Pada pernyataan 14 Januari, perusahaan tersebut menyoroti proyeknya di Kalimantan Utara, senilai 410 juta yuan, sebagai contoh sukses dari Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) rezim Tiongkok. The Epoch Times tidak dapat menghubungi perusahaan tersebut untuk dimintai komentar.
Menurut Yesterday, pekerja di enam lokasi konstruksi lain milik berbagai perusahaan juga telah melakukan aksi menuntut gaji, termasuk di Inner Mongolia, Sichuan, Guangdong, Hunan, dan Hong Kong.
Seorang pekerja di Laizhou, Provinsi Shandong, yang merupakan bagian dari kru yang mengerjakan proyek fotovoltaik yang dijalankan oleh China Construction Eighth Engineering Division Corp., Ltd., mengatakan bahwa pekerja belum dibayar sama sekali tahun ini. Pekerja tersebut, yang dipekerjakan oleh subkontraktor, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa bosnya dari desa yang sama telah melakukan pekerjaan untuk korporasi selama lebih dari 10 tahun.
“Bos mengatakan China Construction Eighth Engineering Division belum membayarnya,” katanya. “Kami bekerja untuk perusahaan di Laizhou pada 2023; pembayaran mereka bagus, dan kami dibayar 100 persen setiap bulan. Saya tidak tahu apa yang terjadi tahun ini.” The Epoch Times menghubungi China Construction Eighth Engineering Division Corp., Ltd., untuk dimintai komentar tetapi tidak menerima tanggapan hingga berita ini diterbitkan.
Yesterday melaporkan bahwa pekerja Tiongkok dan Indonesia memprotes dua perusahaan BUMN TIongkok lainnya yang menjalankan proyek Belt and Road terpisah di Indonesia, di mana perusahaan-perusahaan tersebut membangun dan melengkapi pabrik peleburan nikel.
Pekerja Tiongkok dan Indonesia dari China 19th Metallurgical Group Corp., Ltd., melakukan mogok kerja masing-masing pada 16 dan 18 April. Pada 12 Mei, pekerja China National Chemical Engineering Sixth Construction Co., Ltd., juga melakukan mogok kerja, menurut unggahan Yesterday.
The Epoch Times menghubungi China National Chemical Engineering Sixth Construction Co., Ltd., untuk dimintai komentar tetapi tidak menerima tanggapan hingga waktu publikasi. The Epoch Times tidak dapat menghubungi China 19th Metallurgical Group Corp., Ltd.
Di Beijing, seorang karyawan di taman hiburan Visionland Liuzhou mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pekerja belum digaji selama lima bulan. The Epoch Times tidak dapat menghubungi Visionland untuk dimintai komentar.
Seorang guru di Jinan, Provinsi Shandong, mengatakan kepada publikasi tersebut bahwa guru tidak tetap di sekolahnya belum digaji selama empat atau lima bulan karena otoritas lokal tidak memiliki dana untuk membayar mereka. (asr)
Gu Xiaohua turut berkontribusi dalam laporan ini.


