EtIndonesia. Empat peramal terkenal yang sering dikutip media—yakni Baba Vanga dari Bulgaria, Nostradamus dari Prancis, Athos Salomé dari Brasil, dan Nicolas Aujula dari Inggris—meski berasal dari latar belakang dan zaman yang berbeda, semuanya memiliki kesamaan dalam satu hal: mereka percaya Perang Dunia Ketiga sangat mungkin pecah sebelum akhir tahun ini.
Baba Vanga: Ramalan dari Sang Nenek Buta Balkan
Baba Vanga, bernama asli Vangeliya Pandeva Gushterova, lahir pada tahun 1911 dan meninggal pada 1996 di usia 85 tahun. Dia dikenal luas sebagai peramal legendaris dari kawasan Balkan.
Menurut laporan Daily Star Inggris, Baba Vanga lahir di Strumica (kini wilayah Makedonia Utara). Pada usia 12 tahun, dia kehilangan penglihatannya akibat badai hebat. Saat ditemukan, matanya tertutup tanah dan lumpur, dalam kondisi nyaris sekarat. Sejak saat itu, dia mulai mengalami penglihatan mistis tentang masa depan melalui mimpi-mimpinya.
Berkat ketepatan prediksinya yang luar biasa, dia dijuluki sebagai “Nostradamus dari Balkan”. Dia diklaim pernah meramalkan secara akurat sejumlah peristiwa besar seperti serangan 11 September di AS, kematian Putri Diana, tenggelamnya kapal selam Kursk, terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden AS, kemunculan ISIS, serta Brexit.
Dia juga pernah meramalkan terjadinya gempa bumi akibat perubahan iklim pada tahun 2025, yang secara mengejutkan tampak selaras dengan gempa besar mematikan yang baru-baru ini melanda Myanmar dan Thailand.
Menurut laporan Daily Mail, Baba Vanga juga meramalkan bahwa tahun ini akan terjadi perang besar di Eropa, dan menyebutnya sebagai “awal dari kehancuran umat manusia”, yang akan memberi dampak besar terhadap komposisi populasi global.
Nostradamus: Dari Raja Prancis hingga Ramalan Perang
Nostradamus, lahir pada 14 Desember 1503 dan meninggal pada 2 Juli 1566, adalah seorang dokter dan astrolog kenamaan dari Prancis. Karya terkenalnya “Les Siècles” (Abad-abad) terdiri dari 12 jilid berisi kumpulan puisi quatrain (empat baris) yang masing-masing berisi prediksi masa depan.
Menurut New York Post, Nostradamus pernah secara tepat meramalkan Revolusi Prancis, serangan 9/11, dan pandemi COVID-19. Dia juga menulis tentang kekacauan yang akan terjadi setelah Inggris meninggalkan takhta kerajaannya, yang kemudian diikuti dengan peperangan hebat di Eropa.
“Kerajaan akan ditandai oleh kobaran perang yang kejam, dengan krisis dari dalam dan luar negeri yang datang bersamaan. Akan muncul kembali wabah mematikan dari masa lalu, dan dunia tidak akan memiliki musuh yang lebih mematikan dari itu.”
Athos Salomé: Nostradamus Modern dari Brasil
Athos Salomé, seorang spiritualis dan medium berusia 38 tahun asal Brasil, kerap dijuluki sebagai “Nostradamus Masa Kini”. Dia dikenal setelah dengan tepat meramalkan kematian Ratu Elizabeth II.
Salomé percaya bahwa Perang Dunia III hampir pasti akan pecah dalam waktu dekat, bahkan menyebut bahwa skenario terburuk justru belum dimulai. Menurutnya, konflik ini akan jauh lebih menakutkan dari perang-perang sebelumnya karena akan melibatkan teknologi mutakhir dan perang siber sebagai sarana utama pertempuran abad ke-21.
Dia mengatakan: “Ini bukan lagi sekadar perang antar manusia, melainkan sudah menjadi perang antara manusia dan mesin.”
Ramalan Salomé sejalan dengan peringatan para pakar teknologi modern, yang menyebutkan bahwa pengawasan terhadap kecerdasan buatan (AI) seharusnya seketat pengawasan terhadap senjata nuklir, jika umat manusia ingin tetap bertahan hidup.
Nicolas Aujula: Perang karena Hilangnya Empati Manusia
Nicolas Aujula, seorang terapis hipnosis asal London yang juga berusia 38 tahun, menyampaikan bahwa karena dunia saat ini kekurangan empati, maka perang besar kemungkinan akan meletus di pertengahan tahun ini.
Dalam penglihatannya, dia menyaksikan umat manusia melakukan kejahatan dan kekerasan mengerikan atas nama agama dan nasionalisme.
Ramalan Mengkhawatirkan di Tengah Dunia yang Kian Panas
Ramalan keempat peramal ini muncul di saat dunia tengah menghadapi gejolak geopolitik yang sangat serius.
Awal bulan ini, Pakistan dan India terlibat dalam saling serang terhadap instalasi militer masing-masing, yang membuat Amerika Serikat turun tangan menyerukan dialog damai antara dua negara pemilik senjata nuklir tersebut. Meskipun sempat tercapai kesepakatan gencatan senjata, konflik kembali meletus hanya beberapa jam kemudian di wilayah sengketa Kashmir, memperburuk prospek perdamaian.
Sementara itu, perang Rusia-Ukraina pun belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Pekan lalu, Rusia melancarkan serangan drone dan rudal terbesar dalam tiga tahun terakhir ke ibu kota Kyiv dan beberapa wilayah lain, menyebabkan banyak korban jiwa.
Presiden AS, Donald Trump sebelumnya telah memberikan tenggat waktu kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk menunjukkan kesungguhan dalam mengakhiri perang. Namun Kremlin justru mengumumkan bahwa Putin tidak memiliki rencana bertemu Trump dalam waktu dekat.
Putin disebut telah mengajukan daftar syarat gencatan senjata, namun banyak pihak mengkritik bahwa isi daftar tersebut tidak berbeda jauh dengan tuntutan yang diajukan Rusia tiga tahun lalu saat perang dimulai, sehingga kecil kemungkinan membawa solusi damai yang nyata.(jhn/yn)


