EtIndonesia. Baru-baru ini (28 Mei), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengumumkan penangguhan semua wawancara untuk permohonan visa pelajar. Selain itu, AS juga mulai mencabut visa pelajar asal Tiongkok yang “berkaitan dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan belajar di bidang-bidang sensitif.” Bagaimana reaksi para pelajar dan warga Tionghoa di AS?
“Ini di luar dugaan, tapi kalau dipikir-pikir memang masuk akal,” kata mahasiswa Tionghoa di AS, Alick Li.
Mahasiswi Tionghoa, Alice, menambahkan: “(Kalau benar-benar) begitu banyak orang dideportasi, saya rasa jumlah mahasiswa di kampus kami pasti akan jauh berkurang.”
Banyak pelajar Tionghoa yang sedang menempuh studi di Amerika Serikat merasa terkejut dan tidak percaya saat mendengar rencana pencabutan visa secara besar-besaran tersebut.
Sejak tahun 2008, pemerintah PKT meluncurkan program “Rencana Seribu Orang”, yang bertujuan menarik kembali para profesional Tionghoa dari luar negeri untuk membawa pulang ilmu pengetahuan dan teknologi demi pengembangan industri di Tiongkok.
Sejumlah pakar telah menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) melakukan pencurian kekayaan intelektual Amerika Serikat, yang menyebabkan kerugian hingga 600 miliar dolar AS per tahun bagi AS.
Alick Li menanggapi: “Perilaku seperti pencurian teknologi jelas salah, apalagi kalau PKT malah menyangkal keberadaan praktik seperti itu.”
Evan Xiao, warga Tionghoa di AS, menyatakan: “Tindakan tidak bermoral seperti itu jelas akan merusak reputasi orang Tionghoa di luar negeri.”
Saat ini terdapat sekitar 275.000 pelajar Tiongkok di Amerika Serikat. Jika mereka terbukti memiliki kaitan dengan PKT atau sedang menempuh studi di bidang-bidang sensitif, mereka bisa terdampak oleh kebijakan ini.
Warga Tionghoa bernama Zhou Xin mengatakan: “Kebanyakan dari mereka adalah orang kaya atau anak pejabat tinggi, dan sebagian lainnya adalah pelajar berprestasi di Tiongkok. Sebagian besar adalah anggota Liga Pemuda Komunis atau anggota partai. Saya rasa keputusan AS mencabut visa ini sangat-sangat rasional.”
Mereka berharap pemerintah AS melakukan pemeriksaan dengan seksama, agar tidak kecolongan dalam menangkap mata-mata sungguhan dan juga tidak mencelakai mahasiswa yang patuh hukum.
Alice berkomentar: “(Pemerintah) tetap harus sangat hati-hati dan teliti. Saya rasa harus ada bukti yang lengkap dan masuk akal untuk bisa mengambil tindakan sebesar ini.”
Zhou Xin menambahkan: “Kalau para pelajar ini benar-benar ingin mengejar demokrasi dan kebebasan, maka mereka harus memutus hubungan dengan para senior ‘merah’ itu dan menjauh dari PKT.” (Hui)
Laporan dari wartawan NTDTV, Li Jiayin dan Zhao Ziting, melaporkan dari Los Angeles


