Beijing Diduga Akan Tiru Serangan “Pearl Harbor” ala Ukraina ke Rusia? Pakar AS Beri Peringatan Mendesak


EtIndonesia. Pada 1 Juni, Ukraina sukses melancarkan serangan besar-besaran menggunakan drone ke beberapa pangkalan militer di wilayah Timur Jauh Rusia—sekitar 4.800 km dari Kyiv. Serangan ini dijuluki oleh komunitas militer Rusia sebagai “Pearl Harbor versi Rusia” atau bahkan “Kuda Troya ala Ukraina.” Metode baru dalam penggunaan drone ini mencemaskan para pakar militer Amerika, karena berpotensi ditiru oleh kapal kargo Tiongkok di pelabuhan-pelabuhan AS untuk serangan mendadak serupa.

Serangan Diam-diam: Drone Ukraina Luncur dari Kontainer Dekat Pangkalan Rusia

Pada Minggu, Dinas Keamanan Ukraina (SBU) merilis video yang mengungkap sebagian detail dari operasi tersebut. Setidaknya empat pangkalan udara Rusia menjadi sasaran, dengan total 41 pesawat tempur utama Rusia berhasil dihancurkan atau rusak parah. Di antara pesawat yang terkena serangan termasuk pembom jarak jauh Tu-95 dan Tu-22M yang dapat membawa senjata konvensional maupun nuklir, serta pesawat peringatan dini udara A-50. Serangan ini bahkan diklaim berhasil melumpuhkan sekitar 34% dari seluruh pembom strategis Rusia yang mampu meluncurkan rudal jelajah.

Badan intelijen Ukraina menjelaskan bahwa operasi ini melibatkan agen-agen khusus yang menyusup ke Rusia dengan membawa kontainer berisi drone menggunakan sejumlah truk. Setelah kontainer diletakkan dekat pangkalan militer, para agen segera meninggalkan lokasi. Drone kemudian dikendalikan dari jarak jauh melalui sistem komunikasi seperti Starlink, dengan atap kontainer dibuka secara otomatis untuk meluncurkan drone ke arah target.

Zelenskyy: Operasi “Jaring Laba-laba” Akan Masuk Buku Sejarah

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Minggu malam menyebut operasi yang diberi nama kode “Jaring Laba-laba” (Web) ini sebagai serangan paling berdampak dalam seluruh perang sejauh ini dan yakin akan tercatat dalam sejarah.

Dia mengatakan bahwa operasi ini telah direncanakan selama 1,5 tahun dan melibatkan total 117 drone. Yang mengejutkan, markas operasi ini berada di sebelah kantor pusat Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB)—lembaga intelijen dan keamanan utama Rusia.

Serangan “Pearl Harbor” versi Ukraina ini memperluas batas pemahaman dunia tentang taktik penggunaan drone dan memicu kekhawatiran mendalam dari kalangan militer Amerika Serikat.

Peringatan Serius dari Pakar Militer AS: Ancaman Serangan Kontainer di Pelabuhan AS

Thomas Shugart, peneliti dari Center for a New American Security (CNAS) sekaligus pensiunan komandan angkatan laut AS, memberikan peringatan sangat serius.

Dalam wawancara dengan Newsweek, dia mengatakan: “Kita mengizinkan kapal-kapal milik dan dioperasikan oleh perusahaan militer Tiongkok yang telah ditandai oleh Departemen Pertahanan AS untuk bersandar di pelabuhan-pelabuhan kita, lengkap dengan ribuan kontainer yang mereka kendalikan. Itu hampir gila.”

Shugart menegaskan bahwa kekhawatiran ini bukan sekadar spekulasi, melainkan sejalan dengan doktrin “perang tanpa batas” (unrestricted warfare) yang sejak lama dikedepankan oleh Partai Komunis Tiongkok—strategi yang mengandalkan serangan kejutan dan metode non-konvensional untuk menghadapi kekuatan militer AS.

Beberapa pakar lain turut menyuarakan keprihatinan yang sama. Bahkan sebelumnya, lembaga intelijen dan keamanan dalam negeri AS sudah memberikan peringatan.

Dalam laporan Newsweek, disebutkan bahwa pada Januari lalu, sejumlah anggota Komite Keamanan Dalam Negeri AS meminta Penjaga Pantai AS (US Coast Guard) memberikan briefing rahasia mengenai kapal-kapal dagang milik COSCO (China Ocean Shipping Company) yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhan utama AS. Mereka memperingatkan bahwa pelabuhan AS kini menghadapi risiko besar mulai dari serangan siber, spionase, sabotase, hingga gangguan rantai pasok.

SBU: Drone Ukraina Hancurkan 41 Pesawat Tempur Rusia Senilai $7 Miliar

Pada 2 Juni, Direktur SBU Vasyl Maliuk mengonfirmasi bahwa Ukraina berhasil menyerang empat pangkalan udara Rusia melalui operasi drone “Jaring Laba-laba” dan menghancurkan 41 pesawat militer Rusia, dengan total kerugian mencapai sekitar 7 miliar dolar.

Maliuk menyatakan bahwa operasi ini secara simultan mencakup tiga zona waktu dan menargetkan pangkalan udara di Rusia Tengah hingga wilayah Arktik. Beberapa lokasi yang diserang antara lain:

·        Bandara Ivanovo (sekitar 300 km utara Moskow),

·        Lapangan pelatihan pembom Dyagilevo di wilayah Ryazan,

·        Pangkalan udara Olenya di Arktik,

·        dan Pangkalan udara Belaya di Siberia Timur, sekitar 4.300 km dari perbatasan Ukraina-Rusia.

Melalui media sosial, Presiden Zelenskyy menyebut bahwa ini adalah bukti kekuatan produksi militer dalam negeri Ukraina yang kini bisa memenuhi sekitar 40% kebutuhan pertahanan, meski tetap memerlukan dukungan dana asing—terutama untuk produksi drone dan sistem pertahanan udara.

Ini adalah serangan Ukraina pertama yang menjangkau pangkalan udara Rusia sejauh ini secara besar-besaran—menandakan peningkatan drastis dalam kemampuan serangan jarak jauh dengan drone.

Bloger Pro-Militer Rusia: “Ini Pukulan Berat, Dinas Intelijen Gagal Total”

Bloger militer Rusia yang dikenal dekat dengan kalangan militer, Rybar, menulis di platform Telegram bahwa serangan ini adalah “pukulan sangat berat” bagi pertahanan Rusia. Ia secara blak-blakan menyebut bahwa dinas intelijen Rusia telah melakukan kesalahan besar dalam mengantisipasi serangan ini. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine