Putin Setujui Rencana Reorganisasi Angkatan Laut Rusia, NATO Serukan Ekspansi Militer dan Penguatan Pertahanan Udara

EtIndonesia. Pada 9 Juni, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menerima kunjungan Sekretaris Jenderal NATO,  Mark Rutte di kediaman resmi perdana menteri di London. Pada hari yang sama, Rutte dijadwalkan memberikan pidato di lembaga pemikir Chatham House, di mana dia akan menguraikan prioritas utama KTT NATO bulan ini. Sebelumnya, dia juga melakukan kunjungan bersama Menteri Pertahanan Inggris John Healey ke fasilitas industri pertahanan di Sheffield Forgemasters.

Di saat yang hampir bersamaan, Presiden Rusia, Vladimir Putin secara resmi menyetujui sebuah strategi pengembangan angkatan laut jangka panjang hingga tahun 2050, dengan tujuan untuk mengembalikan status Rusia sebagai kekuatan maritim global. Menanggapi hal itu, Sekjen NATO,  Mark Rutte menyerukan kepada negara-negara anggota untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara dan rudal sebesar 400%, serta menaikkan anggaran pertahanan menjadi 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB), demi menghadapi ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh Rusia.

Strategi Maritim Rusia hingga 2050: Bangkit Kembali sebagai Kekuatan Laut Dunia

Strategi yang baru disetujui oleh Putin ini bertujuan membangun kembali kekuatan laut Rusia secara menyeluruh. Menurut Nikolai Patrushev, penasihat senior Kremlin, dalam wawancara dengan media Rusia pada Senin (9/6), “Strategi Pembangunan Angkatan Laut Rusia hingga 2050” telah disahkan oleh Putin pada akhir Mei 2025. Dia menyatakan bahwa rencana ini dimaksudkan untuk memulihkan sepenuhnya posisi Rusia sebagai kekuatan samudra global.

Patrushev menegaskan: “Tanpa perencanaan jangka panjang terhadap dinamika, tantangan, dan ancaman di lautan, Rusia tidak akan mampu mencapai tujuan strategis tersebut.”

Saat ini, Angkatan Laut Rusia merupakan armada terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan Tiongkok. Berdasarkan data terbuka, armada laut Rusia mencakup 79 kapal selam (termasuk 14 kapal selam nuklir dengan rudal balistik) dan 222 kapal permukaan. Armada utamanya adalah Armada Utara, yang berbasis di Severomorsk, di dalam Lingkar Arktik.

Namun sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina, angkatan laut Rusia telah mengalami kerugian signifikan akibat serangan Ukraina. Menyikapi hal ini, pemerintah Rusia telah menaikkan anggaran pertahanan hingga menyamai level era Perang Dingin, dan mendorong modernisasi besar-besaran dalam alutsista.

NATO Serukan Penguatan Skala Besar Pertahanan Udara dan Belanja Militer

Sebagai respons terhadap langkah Rusia, NATO tengah menyiapkan ekspansi kekuatan militer besar-besaran. Dalam pidatonya yang dijadwalkan di Chatham House, Mark Rutte akan menyerukan peningkatan kemampuan pertahanan udara dan rudal anggota NATO hingga 400% untuk menghadapi ancaman langsung dari Rusia.

Dalam kutipan pidato yang dirilis oleh kantor Rutte, dia menyatakan: “Kita telah melihat secara langsung bagaimana Rusia menggunakan teror udara di Ukraina. Oleh karena itu, kita harus memperkuat perisai pertahanan langit kita.”

Rutte juga menyarankan bahwa negara-negara anggota NATO meningkatkan belanja pertahanan mereka menjadi 3,5% dari PDB, serta menambahkan 1,5% untuk penguatan sektor keamanan yang lebih luas, sesuai dengan target total 5% yang diusulkan oleh Presiden AS, Donald Trump.

Dia menambahkan: “Bahkan setelah perang di Ukraina berakhir, ancaman dari Rusia tidak akan hilang. Kita harus memperkuat seluruh struktur pertahanan NATO—baik dari sisi personel maupun kapasitas senjata—untuk menciptakan lompatan kuantitatif dalam kemampuan militer kita.”

Respons Eropa: Inggris dan Jerman Naikkan Anggaran Pertahanan

Saat ini, Inggris telah berkomitmen untuk meningkatkan anggaran militernya dari 2,3% menjadi 2,5% dari PDB pada tahun 2027, dan berencana menaikkannya lebih lanjut hingga 3%. Jerman menyatakan bahwa sesuai dengan standar baru NATO, mereka perlu menambah 50.000 hingga 60.000 personel militer aktif.

Kremlin: NATO adalah Alat Konfrontasi

Menanggapi rencana ekspansi militer NATO, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menyampaikan kritik tajam, menyebutnya sebagai: “Langkah konfrontatif yang tidak berkontribusi pada stabilitas atau keamanan.”

Peskov menambahkan bahwa NATO tidak pernah dibentuk untuk menciptakan perdamaian, melainkan sebagai alat konfrontasi, serta memperingatkan bahwa rakyat Eropa akan menanggung biaya mahal demi menghadapi ‘ancaman Rusia yang sebenarnya tidak ada’. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine