EtIndonesia. Perdana Menteri Israel pada Selasa (10 Juni) mengumumkan bahwa negosiasi gencatan senjata dengan Hamas telah mencapai kemajuan yang signifikan. Sementara itu, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa klaim Iran yang mengaku memperoleh informasi rahasia terkait program nuklir Israel diduga berkaitan dengan Pusat Penelitian Nuklir Soreq di Israel.
“(Negosiasi gencatan senjata) telah mencapai kemajuan yang berarti. Saya rasa masih terlalu dini untuk merayakannya, tapi dalam beberapa jam terakhir kami terus berupaya keras, dan saya berharap kami bisa mencapai kemajuan,” ujar Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Perjanjian gencatan senjata baru tersebut diharapkan akan memungkinkan pembebasan sebagian sandera yang masih ditahan di Gaza. Saat ini, masih ada 55 orang sandera yang ditahan oleh Hamas.
Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa aktivis iklim radikal seperti Greta Thunberg dan lainnya telah dideportasi secara damai dari wilayah Israel.
Menteri Luar Negeri Israel, Katz: “Ini hanyalah aksi yang konyol. Sebuah pertunjukan propaganda belaka. Bagaimanapun, kami berencana mengirimkan bantuan kemanusiaan yang tersisa di kapal ke Gaza.”
Koalisi “Freedom Flotilla” mengonfirmasi bahwa Greta Thunberg bersama dua aktivis lainnya dan seorang jurnalis telah dideportasi.
Sementara itu, delapan penumpang lainnya di kapal “Maddeline”, yang menolak dideportasi, saat ini masih ditahan, menunggu proses hukum dari otoritas Israel.
Pada hari yang sama, Inggris mengumumkan sanksi terhadap dua menteri Israel, yaitu Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.
Katz: “Kami akan mengadakan rapat kabinet khusus pada awal pekan depan untuk memberikan tanggapan atas keputusan yang tidak dapat diterima ini.”
Katz juga mengkonfirmasi bahwa pada pagi hari yang sama, militer Israel menyerang target milisi Houthi Yaman di Pelabuhan Hodeidah. Ia menuduh milisi Houthi menyalahgunakan pelabuhan sipil untuk kegiatan terorisme.
Sehari sebelumnya, Kepala IAEA Rafael Grossi menyatakan bahwa klaim Iran yang mengaku telah memperoleh informasi rahasia tentang program nuklir Israel kemungkinan besar berkaitan dengan fasilitas penelitian nuklir Soreq.
“Kami telah melihat beberapa laporan media. Kami belum menerima komunikasi resmi apapun. Namun, tampaknya ini merujuk pada Soreq—sebuah fasilitas penelitian—dan kami akan menyelidikinya,” ujar Rafael Grossi, Kepala IAEA.
Israel adalah salah satu dari tiga negara yang menandatangani Perjanjian Pengamanan Proyek Tertentu dengan IAEA. Perjanjian ini menyatakan bahwa bahan nuklir dan fasilitas yang tercakup tidak boleh digunakan untuk pembuatan senjata nuklir.
Menteri Intelijen Iran pada Minggu (8 Juni) mengklaim bahwa Teheran baru-baru ini berhasil mengamankan informasi penting terkait program nuklir Israel, meskipun tidak memberikan bukti apa pun untuk mendukung klaim tersebut. (Hui)
Laporan gabungan oleh jurnalis NTD, Zhao Fenghua


