Jenderal Jepang Sesumbar: “Kami Bisa Hancurkan Armada Pasifik Rusia dalam 3 Jam”! Juga Ancam Rebut Kembali Kepulauan Kuril dengan Bantuan Ukraina

EtIndonesia. Pada 31 Mei, Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) menggelar latihan pendaratan skala besar di sekitar Kepulauan Utara—yang dikenal di Rusia sebagai Kepulauan Kuril Selatan. Dalam latihan tersebut, Komandan Kelompok Fregat ke-4, Laksamana Muda Itō Hiroshi, melontarkan pernyataan mengejutkan.

“Jika diperlukan, Jepang akan bekerja sama dengan Ukraina untuk melakukan serangan gabungan laut dan darat demi merebut kembali keempat pulau itu,” katanya.

dia bahkan sesumbar: “Jepang mampu menghancurkan Armada Pasifik Rusia hanya dalam waktu 3 jam.”

Pernyataan keras ini, ditambah rangkaian latihan militer dan peningkatan persenjataan Jepang belakangan ini, membuka kembali luka lama konflik Jepang-Rusia yang tak pernah benar-benar ditutup sejak Perang Dunia II—terutama karena kedua negara belum pernah menandatangani perjanjian damai secara resmi. Kini, efek limpahan dari perang Rusia-Ukraina tampaknya mulai merambah kawasan Asia Timur Laut.

Manuver Jepang yang Mengundang Teguran Rusia

Sebelumnya, pada 24 Mei, Penjaga Pantai Jepang menggelar latihan penembakan langsung di wilayah perairan sekitar Kuril Selatan. Sebanyak 66 peluru artileri ditembakkan ke laut lepas. Rusia segera melayangkan nota protes diplomatik, namun Jepang menanggapinya santai dengan menyebutnya sebagai “latihan rutin yang mengalami salah tembak.” Moskow tidak memberikan respons militer lanjutan, yang oleh pengamat dipandang sebagai tanda lemahnya posisi Rusia di wilayah itu saat ini.

Bantuan Jepang ke Ukraina dan Persenjataan Canggih

Dalam beberapa waktu terakhir, retorika militer Jepang terhadap Rusia semakin tegas. Pernyataan Itō Hiroshi mengenai “bekerja sama dengan Ukraina” bukan sekadar gertakan. Data terbuka menunjukkan bahwa bantuan militer Jepang ke Ukraina meningkat dari 7,6 miliar dolar menjadi 11 miliar dolar, melebihi banyak negara Eropa.

Jepang juga terus mengirimkan peralatan militer mutakhir, termasuk sistem radar generasi baru dan perangkat perang elektronik, untuk diuji bersama sistem senjata masa depan JSDF.

Kilasan Sejarah: Luka Perang yang Belum Sembuh

Dalam catatan sejarah, Armada Pasifik Rusia pernah mengalami kekalahan besar saat Perang Rusia-Jepang (1904–1905), terutama dalam Pertempuran Laut Kuning dan Pengepungan Port Arthur, yang nyaris memusnahkan kekuatan angkatan laut Rusia. Trauma sejarah ini masih membekas dalam memori nasional kedua negara.

Kini, Jepang tengah membangun ulang kekuatan militer nasional secara besar-besaran. Mulai 24 Maret 2025, Jepang akan membentuk Komando Operasi Gabungan Terpadu, dipimpin oleh Laksamana Kenichiro Nagumo (59 tahun), guna memperkuat operasi lintas matra. Anggaran pertahanan Jepang kini menembus 2% dari PDB dan ditargetkan mencapai 43 triliun yen (sekitar 300 miliar dolar) dalam lima tahun ke depan.

Transformasi Armada dan Kekuatan Udara Jepang

Jepang telah mulai memensiunkan hampir 200 unit jet tempur F-15J, dan menggantinya dengan 147 jet tempur F-35 buatan Amerika Serikat, menjadikan Jepang pemilik F-35 terbanyak kedua di dunia setelah AS.

Selain itu, proyek jet siluman generasi kelima “Shinshin” buatan dalam negeri juga terus berjalan. Sekitar 100 unit direncanakan menggantikan seri F-2, membentuk kombinasi antara pesawat generasi keempat dan kelima yang lebih seimbang.

Di laut, Pasukan Bela Diri Maritim Jepang juga tengah melakukan transformasi senyap. Kapal seperti JS Kaga—awalnya kapal induk helikopter—telah diam-diam dimodifikasi menjadi kapal induk penuh, dengan bobot penuh 43.600 ton. Kapal ini akan dipasangkan dengan jet tempur F-35B berkemampuan lepas landas pendek dan pendaratan vertikal, menjadi andalan utama operasi perebutan pulau bila konflik dengan Rusia pecah.

Misi Balas Dendam atau Cek Strategis?

Pernyataan Jepang bahwa mereka dapat “menghabisi Armada Pasifik Rusia dalam tiga jam” bukan sekadar gertakan kosong, tetapi merupakan bentuk tekanan strategis dalam kerangka aliansi AS-Jepang-Ukraina.

Saat ini, banyak kekuatan utama militer Rusia masih terfokus di front Ukraina, dan Armada Pasifik Rusia tidak memiliki cukup kekuatan untuk segera memberi perlawanan balik di Timur Jauh.

Latihan militer Jepang di kawasan ini dipandang sebagai uji coba dominasi regional, sekaligus mengisi kekosongan kekuasaan sementara yang ditinggalkan Rusia akibat kesibukannya di medan perang Eropa Timur. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine