EtIndonesia. Di tengah ketegangan geopolitik yang membara, satu pemandangan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya kini menjadi nyata di Iran: rakyat biasa, yang selama ini dicekam ketakutan oleh rezim otoriter, justru secara terbuka menyatakan dukungan terhadap serangan Israel.
Berbagai video amatir yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah warga Iran bersorak gembira setiap kali rudal Israel melintas di langit kota-kota besar. Bahkan, di beberapa dinding bangunan, muncul coretan yang berbunyi lantang, “Israel, bombardir mereka! Kami, rakyat Iran, mendukungmu!”
Fenomena ini jelas menggambarkan betapa dalamnya krisis kepercayaan dan kebencian rakyat terhadap kepemimpinan rezim saat ini. Dukungan yang dulunya tabu, kini secara terbuka disuarakan, menandakan akumulasi kemarahan dan frustrasi yang selama ini terpendam akibat represi berkepanjangan.
Suara Diaspora: Kesaksian Kehidupan di Bawah Bayang-Bayang Ketakutan
Hooman David Hemmati, seorang pakar biomedis terkemuka asal Iran yang kini menetap di Amerika Serikat, menuliskan kisah pilu kehidupan di bawah rezim Teheran melalui akun media sosialnya di platform X (dulu Twitter). Hemmati memaparkan betapa kehidupan di Iran penuh dengan penderitaan dan tekanan psikologis yang tiada henti.
Menurutnya, di Iran, seorang mahasiswi bisa saja dipukuli hanya karena memakai riasan wajah, sementara seorang wanita yang membiarkan sehelai rambutnya terlihat dari balik hijab dapat berujung pada hukuman penjara selama berminggu-minggu. Bahkan, kasus lebih ekstrem terjadi ketika warga digiring paksa dari rumah mereka di tengah malam hanya karena menolak tunduk kepada pengadilan dan aturan-aturan rezim yang dinilainya tidak manusiawi.
Hemmati menegaskan, kabar mengenai serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran tidak melahirkan sukacita semu di hati rakyat Iran. Namun, bagi banyak orang, peristiwa ini justru memunculkan secercah harapan baru. Sebab, menurutnya, fasilitas pengayaan uranium dan pangkalan militer yang menjadi sasaran Israel bukanlah sekadar simbol kekuatan pertahanan negara, melainkan jantung dari mesin tirani yang selama ini menopang kekejaman rezim.
“Hancurnya fasilitas ini diharapkan mampu menggoyang fondasi kekuasaan para Ayatollah yang telah lama membungkam aspirasi rakyat,” tulis Hemmati.
Ia juga mengajak masyarakat Iran di dalam dan luar negeri untuk terus berdoa dan berjuang demi terwujudnya revolusi sejati. Harapannya, keberanian rakyat dalam melawan ketidakadilan akan menjadi awal dari babak baru sejarah Iran—sebuah era yang lebih bebas dan manusiawi, jauh dari tirani yang mengekang setiap aspek kehidupan warganya.
Komparasi Global: Aspirasi Kebebasan Melintasi Batas Negara
Menariknya, fenomena ini juga memicu diskusi luas di jagat maya internasional. Banyak warganet, khususnya dari Tiongkok, secara terbuka membandingkan nasib rakyat Iran dengan rakyat Tiongkok di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Dalam berbagai forum dan kolom komentar, muncul harapan agar rakyat Tiongkok suatu saat nanti juga bisa merayakan keruntuhan rezim otoriter seperti halnya warga Iran yang kini berani menyuarakan harapan akan perubahan.
Salah satu unggahan yang viral menyebutkan, “Jika suatu hari nanti PKT runtuh, semoga kami juga bisa berteriak lega dan bersuka cita seperti rakyat Iran saat ini.” Narasi ini memperlihatkan bahwa gelombang aspirasi kebebasan, keadilan, dan perlawanan terhadap penindasan kini telah menjadi isu lintas negara, melampaui sekat geografis dan politik.
Analisis Para Pakar: Gejolak Sosial Menuju Titik Didih
Para analis dan pengamat Timur Tengah menilai, dukungan terbuka rakyat Iran kepada Israel adalah manifestasi nyata dari tingkat frustrasi yang telah mencapai titik didih. Selama bertahun-tahun, masyarakat Iran hidup di bawah sensor ketat, penindasan, serta ancaman hukuman berat atas setiap bentuk perlawanan. Namun, derap langkah perubahan kini terdengar semakin lantang.
“Ketika rakyat mulai memandang musuh negara sebagai harapan baru, itu artinya legitimasi rezim sudah nyaris runtuh,” ujar Dr. Mark Dubowitz, CEO Foundation for Defense of Democracies. Ia menambahkan, tindakan represif yang semakin brutal justru kian mendorong rakyat untuk mencari kebebasan, bahkan dari kekuatan asing sekalipun.
Penutup: Babak Baru Perlawanan Rakyat Iran
Gelombang dukungan rakyat Iran terhadap serangan Israel bukan sekadar ekspresi spontan di tengah gejolak perang, melainkan juga menjadi simbol perlawanan dan harapan kolektif untuk perubahan besar. Seruan dan doa yang dipanjatkan rakyat Iran hari ini bukan lagi tentang kehancuran musuh, melainkan tentang pembebasan dari belenggu tirani dan lahirnya masa depan yang lebih cerah.
Sejarah akan mencatat bahwa di tengah gelegar rudal dan debu peperangan, suara rakyat kecil yang selama ini dibungkam, kini bangkit dan menggema ke seluruh dunia, membawa pesan universal tentang hak untuk hidup merdeka dan bermartabat. (***)


