EtIndonesia.Konflik antara Israel dan Iran terus berlanjut, dan kini merambah ke ranah dunia maya. Pada 17 Juni, sebuah kelompok peretas yang diduga terkait dengan Israel bernama Predatory Sparrow (juga dikenal dengan nama Persia Gonjeshke Darande) mengumumkan melalui media sosial bahwa mereka telah berhasil melancarkan serangan siber terhadap bank milik negara Iran, Sepah Bank, dan menghancurkan seluruh data internal bank tersebut.
Jika klaim ini benar, maka saldo rekening para nasabah otomatis menjadi nol. Bahkan mereka yang masih memiliki kartu bank pun tidak bisa mengakses atau menggunakan dananya.
Menurut pernyataan resmi yang diunggah oleh kelompok peretas di platform X (dulu Twitter), Bank Sepah menjadi target serangan karena dianggap sebagai milik Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Bank ini juga dituduh digunakan untuk menghindari sanksi internasional serta menyalurkan dana rakyat Iran ke program terorisme, pengembangan rudal balistik, dan proyek senjata nuklir.
Situs Bank Lumpuh, Jaringan Internet Iran Ambruk
Pasca serangan tersebut, situs resmi Bank Sepah tidak bisa diakses. Beberapa kantor cabangnya pun terpaksa menghentikan operasional sementara. Perusahaan pemantau jaringan global seperti Kentinc dan Netblocks mencatat bahwa sekitar pukul 17:30 waktu setempat, konektivitas internet di Iran turun drastis. Hal ini diperkuat oleh data dari perusahaan penyedia layanan Cloudflare yang menunjukkan bahwa dua operator jaringan seluler terbesar di Iran telah terputus dari jaringan global, menandakan negara tersebut masuk ke dalam status “isolasi internet” atau internet lockdown.
Kartu Kosar dan Ansar Tak Bisa Dipakai
Menurut laporan dari televisi Iran International, sejumlah pengguna mengeluhkan tidak bisa login ke akun perbankan mereka, dan efeknya juga dirasakan pada kartu-kartu finansial yang diterbitkan oleh lembaga keuangan Kosar dan Ansar—yang diketahui memiliki kaitan dengan militer Iran. Kedua jenis kartu tersebut tidak dapat digunakan setelah serangan terjadi.
Beredar pula kabar yang menyebut sebagian data nasabah hilang sepenuhnya, membuat beberapa rekening benar-benar kosong, meskipun hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran.
Serangan Terkoordinasi, Bukan Pertama Kalinya
Predatory Sparrow bukanlah nama asing dalam dunia serangan siber terhadap Iran. Pada Juni 2022, kelompok ini pernah meretas Khuzestan Steel Company, salah satu perusahaan baja terbesar di Iran, dan menyebabkan kebakaran besar di pabrik tersebut. Sebelumnya, pada Oktober 2021, mereka juga diduga sebagai dalang di balik lumpuhnya seluruh jaringan SPBU di Iran, yang kala itu menyebabkan kemacetan panjang dan kekacauan nasional.
Para pakar keamanan siber meyakini bahwa tingkat kecanggihan serangan yang dilakukan kelompok ini jauh melampaui kapasitas kelompok hacker biasa. Besar kemungkinan mereka mendapat dukungan dari pasukan siber negara—menandakan bahwa ini merupakan bagian dari perang siber antarnegara.
Dunia Memperhatikan: Serangan Siber Jadi Senjata Strategis
Insiden ini menjadi pukulan besar bagi stabilitas sistem keuangan Iran, sekaligus memicu perhatian internasional yang sangat tinggi. Sebab kasus ini tidak hanya menyangkut soal keamanan data dan transaksi finansial, tetapi juga menjadi contoh nyata dari pertemuan antara dunia siber dan geopolitik global.
Di tengah meningkatnya ketegangan internasional, serangan semacam ini memperlihatkan bahwa perang masa kini tidak lagi hanya di medan tempur, melainkan telah bergeser ke ruang digital yang tidak kalah mematikan.
Ke depan, respons Iran terhadap insiden ini akan menjadi tolok ukur penting. Sementara itu, negara-negara lain di dunia juga dihadapkan pada pertanyaan besar: siapa target berikutnya, dan apakah mereka cukup siap menghadapi perang dunia maya?(jhn/yn)


