Trump Bubarkan Tim Penekan Rusia, Zelenskyy: Diplomasi dalam Krisis!

EtIndonesia. Reuters melaporkan secara eksklusif bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump diam-diam membubarkan satuan tugas lintas lembaga yang sebelumnya dibentuk khusus untuk merancang strategi menekan Rusia dan mendorong tercapainya perdamaian antara Moskow dan Kyiv. Keputusan ini datang di tengah situasi yang semakin mengkhawatirkan di medan perang dan berpotensi melemahkan posisi Ukraina di kancah diplomasi internasional.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dalam pertemuan KTT G7 yang digelar di Kanada, memberikan peringatan keras kepada para pemimpin dunia. Dia menegaskan bahwa Ukraina tengah berada dalam kondisi sangat sulit, dan secara lugas menyatakan: “Diplomasi kami sedang mengalami krisis.”

Trump sendiri meninggalkan KTT G7 lebih awal, dengan alasan menangani krisis di Timur Tengah. Keputusan ini membuat KTT gagal menghasilkan pernyataan bersama terkait perang di Ukraina. 

Zelenskyy pun mengungkapkan kekecewaannya dan berkata: “Kita harus terus mendesak Trump untuk benar-benar menggunakan pengaruhnya agar memaksa Rusia menghentikan perang ini.”

Zelenskyy: Kami Kehilangan Momen Tekan Amerika

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney memang telah berkomitmen memberikan bantuan militer senilai 2 miliar dolar Kanada kepada Ukraina serta memberlakukan sanksi ekonomi baru terhadap Rusia. Namun, keluarnya Trump dari forum secara tiba-tiba mengganggu dinamika KTT dan memperlihatkan ketidaktegasan Amerika terhadap perang Rusia-Ukraina.

Zelenskyy mengakui bahwa meskipun ada bantuan baru dan sanksi lanjutan, yang lebih penting saat ini adalah kesiapan para mitra internasional untuk berperan dalam rekonstruksi Ukraina setelah perang. 

Zelenskyy berkata dengan getir: “Kami kehilangan satu momen penting untuk menekan AS. Diplomasi kami terjebak dalam krisis.”

Serangan Terbesar Rusia: 440 Drone, 32 Rudal, 15 Tewas

Pernyataan Zelenskyy bertepatan dengan serangan udara terbesar Rusia sepanjang tahun ini. Pada malam hari, Rusia meluncurkan lebih dari 440 drone dan 32 rudal ke berbagai wilayah Ukraina. Serangan itu menyebabkan 15 orang tewas dan 156 lainnya luka-luka. Di ibu kota Kyiv, sebuah apartemen 9 lantai dihantam dari atap hingga ruang bawah tanah—serangan paling mematikan sejak perang dimulai.

Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, Tymur Tkachenko, menyebutkan bahwa serangan berlangsung hampir 9 jam penuh, dengan suara ledakan menggema di seluruh penjuru kota. Wali Kota Kyiv, Vitalii Klitschko, menetapkan hari berkabung nasional untuk mengenang para korban.

Trump: “Baru Terjadi ya?”

Yang mengejutkan, menurut Kyiv Independent, ketika ditanya soal serangan mematikan tersebut saat berada di Air Force One, Trump terlihat tidak mengetahui insiden itu. 

Dia bahkan balik bertanya: “Kapan itu terjadi? Baru saja? Saat saya datang ke sini?” dan hanya menambahkan: “Kedengarannya begitu. Saya harus cari tahu.”

Komentar ini mengundang kritik tajam karena dianggap mencerminkan sikap abai terhadap tragedi besar di Ukraina.

Korban Sipil Tembus 12.000 Jiwa, Serangan Rusia Masih Berlanjut

PBB memperkirakan bahwa sejak perang dimulai, lebih dari 12.000 warga sipil Ukraina telah tewas, sebagian besar akibat serangan rudal dan drone Rusia terhadap wilayah non-militer. Walaupun Rusia bersikukuh bahwa target mereka adalah instalasi militer, kenyataan di lapangan menunjukkan tingginya jumlah korban sipil.

Di medan perang, tekanan Rusia terus meningkat di front timur dan timur laut, sementara Ukraina kekurangan personel dan persenjataan. Ketidakpastian sikap Amerika membuat banyak pihak meragukan kelanjutan dukungan global bagi Kyiv.

Inggris dan Kanada Jatuhkan Sanksi Baru, Tapi Dunia Ragu

Meski Inggris dan Kanada mengumumkan gelombang baru sanksi terhadap Rusia, dengan menargetkan pendapatan energi dan industri militer Moskow, Kementerian Luar Negeri Ukraina mengkritik bahwa serangan besar Rusia selama KTT G7 justru mencerminkan penghinaan Putin terhadap masyarakat internasional. 

Pernyataan resminya menyebutkan: “Moskow bicara soal damai, tapi justru menghujani Kyiv dengan rudal.”

Trump Resmi Bubarkan Satuan Tugas Anti-Rusia

Dalam laporan Reuters yang dirilis pada 18 Juni, tiga pejabat AS mengungkapkan bahwa Trump telah membubarkan satuan tugas khusus yang sebelumnya dibentuk pada musim semi untuk merumuskan strategi tekanan terhadap Rusia dan negosiasi damai. Namun sejak Mei, tim tersebut semakin kehilangan arah dan motivasi.

Sumber menyebutkan bahwa Trump semakin enggan mengambil sikap tegas terhadap Moskow, membuat para pejabat yang terlibat dalam satuan tugas itu mulai tidak lagi aktif. Padahal, selama kampanye, Trump berjanji akan “mengakhiri perang di hari pertama dia menjabat.” Namun belakangan, dia mulai mengungkapkan kekecewaan terhadap stagnasi perdamaian, bahkan menyiratkan bahwa Amerika sebaiknya mundur dari peran mediasi.

Salah satu pejabat berkata tegas :  “Alasan tim ini dibubarkan adalah karena presiden sudah tidak lagi terlibat. Bukan karena ingin melakukan lebih banyak, melainkan karena dia ingin melakukan lebih sedikit.” (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine