EtIndonesia. Krisis antara Iran dan Israel kian memasuki babak genting. Data intelijen yang dihimpun CNN menyebutkan, selama 14 bulan terakhir, Iran telah menembakkan sekitar 700 rudal balistik jarak menengah ke wilayah Israel. Namun, seiring masifnya serangan balasan Israel, kini sepertiga peluncur rudal strategis milik Iran telah berhasil dihancurkan. Di tengah ancaman serangan yang terus berlangsung, stok rudal balistik Iran diperkirakan hanya tersisa 1.300 unit—sebuah angka yang membuat kemampuan tempur Teheran untuk perang skala penuh kini dipertanyakan.
Iran Kehabisan Amunisi, Pilihan: Negosiasi atau Perang Total?
Para analis militer menegaskan, Iran kini dihadapkan pada dilema serius. Sumber-sumber di lingkungan pertahanan Iran memperkirakan, persediaan amunisi strategis negeri Mullah itu sudah semakin menipis. Dengan jumlah rudal yang terus berkurang dan sepertiga peluncur yang sudah luluh lantak, Iran diyakini tidak lagi memiliki cadangan cukup untuk mempertahankan perang jangka panjang, apalagi menghadapi serangan gabungan dari Israel dan sekutunya. Dalam situasi seperti ini, banyak pengamat meyakini bahwa Teheran kini lebih cenderung memilih opsi diplomasi dan negosiasi—terutama dalam isu program nuklir—daripada melanjutkan eskalasi militer yang nyaris tanpa jalan keluar.
Ketegangan dan Kepanikan di Lingkaran Elit Iran
Dari sisi politik domestik, laporan Reuters menyoroti meningkatnya kepanikan di lingkaran dalam pemerintahan Iran. Sumber internal menyebut, Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran kini merasa ruang geraknya makin sempit. Beberapa tokoh penting di sekelilingnya, yang selama ini menjadi kunci pengambilan keputusan, sudah banyak yang tewas atau dinonaktifkan akibat operasi intelijen Israel.
Dalam kondisi serba genting, peran putra Khamenei, Mojtaba, semakin menonjol. Dia kini aktif terlibat dalam seluruh proses pengambilan keputusan strategis, mulai dari kebijakan militer, ekonomi, hingga diplomasi luar negeri. Nama Mojtaba pun semakin kuat disebut sebagai calon suksesor utama sang Ayatollah. Namun, muncul pertanyaan besar di tengah publik dan elite militer: Akankah Mojtaba tetap memilih jalan perlawanan militer atau justru mendorong Iran masuk ke meja perundingan nuklir?
AS dan Sekutunya Memperkuat Cengkraman di Timur Tengah
Di sisi lain, Amerika Serikat memperlihatkan komitmen penuh untuk mempertahankan dominasi di kawasan Teluk. Presiden Donald Trump, seperti diberitakan sejumlah media besar, telah menyiapkan dua skenario besar: serangan militer langsung atau tekanan dengan kekuatan nuklir jika Iran tidak segera berkompromi.
Langkah nyata langsung diambil: AS secara bertahap mengirimkan tambahan kekuatan tempur ke Timur Tengah. Armada jet tempur canggih F-16, F-22, dan F-35 sudah dikerahkan, bersamaan dengan pesawat pengebom siluman B-2 Spirit yang mampu menghantam target strategis seperti fasilitas nuklir bawah tanah Fordow di Iran. Armada pesawat pengisi bahan bakar pun diterbangkan untuk mendukung operasi udara jarak jauh.
Tak hanya itu, armada kapal induk AS—USS Nimitz dan USS Carl Vinson—telah menempati posisi strategis di perairan Timur Tengah, sementara kapal induk USS Ford memperkuat barisan di kawasan Eropa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tiga kapal induk Amerika dan satu kapal induk Inggris secara simultan membentuk blokade laut yang efektif menutup akses keluar-masuk Iran ke kawasan internasional. Tekanan militer dan diplomasi kini benar-benar mengurung Teheran dari segala arah.
Tiongkok dan Rusia Bermanuver: Dari Jalur Diplomasi Hingga Bantuan Strategis
Situasi semakin rumit ketika dua kekuatan besar dunia, Tiongkok dan Rusia, mulai mengambil sikap lebih terbuka dan aktif. Pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Tiongkok secara resmi memberitahukan Pemerintah Oman bahwa Beijing tidak akan tinggal diam melihat konflik Iran-Israel semakin membara. Menteri Luar Negeri, Wang Yi langsung menelpon Menlu Mesir, menyerukan gencatan senjata segera demi stabilitas kawasan.
Presiden Xi Jinping pun akhirnya angkat bicara di hadapan dunia internasional. Dalam pernyataannya, Xi menegaskan bahwa Tiongkok tidak ingin melihat eskalasi konflik yang bisa mengguncang kestabilan Timur Tengah dan mengancam kepentingan ekonomi serta geopolitik global. Beijing menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan semua pihak guna menahan laju eskalasi dan mendorong dimulainya perundingan damai.
Menariknya, pada 17 Juni, dua pesawat kargo besar milik Tiongkok melintas tanpa hambatan di langit Iran dan mendarat langsung di salah satu bandara utama negara itu. Langkah misterius ini langsung memicu spekulasi global: apakah Tiongkok sedang mengirim bantuan logistik, sistem pertahanan, atau sekadar pasokan kemanusiaan bagi sekutunya tersebut?
Sejumlah pakar menilai, keputusan Tiongkok ini tak lepas dari kecemasan strategis yang makin mendalam. Pasalnya, ekonomi Tiongkok sangat tergantung pada pasokan minyak mentah Iran, terutama untuk kebutuhan kilang-kilang swasta yang selama ini menjadi tulang punggung industri energi Negeri Tirai Bambu. Jika rantai pasok minyak terganggu atau harga energi dunia melonjak akibat perang besar, ekonomi Tiongkok diprediksi akan mengalami tekanan hebat. Selain itu, Beijing telah menanamkan investasi miliaran dolar dalam berbagai proyek infrastruktur energi di Iran, termasuk proyek Belt and Road Initiative (BRI) yang menghubungkan jalur logistik lintas Asia dan Eropa.


